Senin, 21 November 2011

Munculnya Islam Wettu Telu

KLU,Suarakomunitas.net,-- Penyebaran Islam di Bayan Sekitar abad ke-16 M, penyebaran agama Islam juga masuk melalui pantai utara Bayan dan dari arah barat sekitar Tanjung. Pembawanya adalah seorang syeikh dari Arab Saudi bernama Nurul Rasyid dengan gelar sufinya Gaoz Abdul Razak. Makamnya terletak di kampong Kuranji, sebuah desa pantai di barat daya Lombok.
Gaoz Abdul Razak mendarat di Lombok bagian utara, di daerah Bayan. la pun menetap dan berdakwah Kompleks Masjid Bayan Beleq disana. Beliau mengawini Denda Bulan yang melahirkan seorang anak bernama Zulkarnaen.Keturunan inilah yang menjadi cikal bakal raja-raja Selaparang. Kemudian Gaoz Abdul Razak mengawini lagi Denda Islamiyah yang melahirkan Denda Qomariah yang populer dengan sebutan Dewi Anjani.

Sunan Pengging, pengikut Sunan Kalijaga datang ke Lombok pada tahun 1640 M untuk menyiarkan agama Islam(sufi). Ia kawin dengan putri dari kerajaan Parwa sehinggga menimbulkan kekecewaan raja Goa.

Selanjutnya, raja Goa menduduki Lombok pada tahun 1640 M. Sunan Pengging yang dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi lari ke Bayan. Salah satu bukti yang dapat dijadikan sebagai kajian tentang awal penyebaran agama Islam adalah masjid kuno Bayan Beleq.

Pangeran Sangupati adalah tokoh agama Hindu yang menyebarkan agama Hindu di kalangan umat Islam karena Islam yang dianut oleh para penduduk masih sangat lemah, maka beliau menyebarkan agama Islam Waktu Telu (Wetu Telu) suatu bentuk  peralihan dari agama Boda tua ke agama Waktu Lima dan dia dikenal dengan nama Pedanda Wau Rauh.Selain tokoh-tokoh tersebut ada juga yang disebut-sebut sebagai penyebar agama Islam di Lombok yaitu Al-Fadal. Islam Wetu Telu ( Waktu Telu ) adalah system kepercayaan sinkretik hasil saling-silang ajaran Islam, Hindu, unsur  animisme dan antropomorfisme (Boda).
Tawalinuddin Haris,2002, menyarakan sinkretisme semacam itu tercermin pula pada sejumlah lontar yang ditemukan di Lombok. Banyak diantara lontar tersebut yang dimulai dengan lafal "Bismillah" tapi selanjutnya memberikan ajaran yang jelas jelas berdasarkan filsafat Hindu dan Budha.

 Oleh karena itu, mungkin ada benarnya juga ketika Vogellaesang mengatakan bahwa Islam Waktu Telu adalah agama Majapahit (Hindu dan Budha) yang sudah dibalut dengan ajaran Islam. Sinkretisme ini juga terjadi pada orang-orang Bali yang tinggal di Lombok, baik dalam hal bahasa, berpakaian bahkan dalam kegiatan keagamaan.

Dalam sebuah upacara di Pura (odalan)  misalnya, terdapat tembang "Turun Taun" yang biasanya ditembangkan oleh orang-orang tua etnis Bali di lombok seperti: "Miaq sunggar siq galih belimbing, lolon waru sedin langan.Silaq lumbar kaji ngiring, adeq aru rawuh ring Pure”.
 
Sampai saat ini, komunitas Islam Wetu Telu masih terdapat di kawasan Tanjung dan beberapa desa di kecamatan Bayan seperti Loloan, Anyar, Akar-Akar, dan Mumbul Sari. Sedangkan dusun-dusunnya memusat di Senaru, Barung Birak, Jeruk Manis, DasanTutul, Nangka Rempek, Semokan dan Lendang Jeliti. Bahkan sisa-sisa, kepercayaan bahwa suatu benda memiliki fungsi magis masih tersisa sampai sekarang.

Masyarakat yang berziarah di Loang Balok Lombok Barat misalnya, biasanya menggantungkan harapan pada sesuatu (benda) dengan cara mengikat dan menganyam secara sederhana akar dari pohon beringin. Jika harapannya telah tercapai,maka ikatan dan anyaman yang telah dibuat tersebut dibuka kembali,apabila tidak dibuka biasanya dianggap bisa mendatangkan kesialan dalam hidupnya.
Kemunculan Islam Waktu Telu disebabkan oleh :
1.    Akibat dari proses Islamisasi yang belum tuntas sebagai penyebab utama munculnya Islam Waktu Telu, dengan rincian :
a.    Kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti animisme,  dinamisme, antropomorlisme atau yang disebut Boda.
b.    Dominasi ajaran Hindu Majapahit yang telah berakar kuat dimasyarakat.
c.    Para muballigh yang menyampaikan ajaran agama Islam terburu meninggalkan tempat tugasnya untuk menyebarkan agama Islam ke tempat lain seperti  Sumbawa, Dompu, dan Bima, sementara para murid yang diserahi tugas melanjutkan  pengajaran agama Islam belum tuntas atau belum cukupmemiliki wawasan keilmuan tentang Islam yang mendalam.
d.    Keengganan dan ketidak mampuan menafsir-kembangkan ajaran Islam dengan lebih sistematis, rasional dan aktual.

2.    Metode Dakwah yang sangat toleran dengan komitmen untuk tidak merusak adat istiadat setempat. Sikap toleran para mubaligh terhadap kepercayaan lokal tradisional ini menimbulkan persepsi tersendiri di kalangan masyarakat Sasak bahwa sejatinya ajaran Islam tidak berbeda dengan kepercayaan leluhumya. Bahkan terjadi perundingan antara Sunan Prapen dengan para pemuka di Bayan yang melahirkan kesepakatan bahwa masyarakat akan memeluk agama Islam dengan syarat mereka tetap dibiarkan mempertahankan adat budaya nenek moyang beserta segala institusi sosialnya.

 Hal ini sangatlah beralasan karena Islam khas Jawa bawaan Sunan Prapen adalah ajaran Islam bercita rasa sufisme-mistisisme yang sudah tentu sangat toleran pada ajarannenek moyang, yang terpenting, secara substantif ajaran tersebut mampu mengantar manusia berhubungan dengan Tuhannya.

3. Secara umum kebijakan politik keagamaan para penguasa Hindu-Bali di Lombok memang cukup menghambat proses-proses pembinaan keagamaan umat Islam. Hal tersebut diantaranya adalah;
a.Menghalang-halangi umat Islam yang berangkat naik haji, Para tokoh masyarakat dan agama diadu domba melalui pola- pola sistematis seperti wanita Sasak yang kawin dengan laki-laki Hindu dipaksa untuk pindah ke agama suami atau mencampuradukkan keyakinannya, Mobilisasi judi di setiap desa. Kenyataan ini seringkali menimbulkan kerancuan dan secara simultan  nyuburkan berkembangnya Islam Waktu Telu.

4.    Penyebaran agama Hindu juga secara aktif dilangsungkan menyusul semakin pudarnya keislaman pada masyarakat Sasak. Terdapat juga seorang "misionaris" bemama Dan hyang Nirartha, seorang pendeta berkasta Brahmana yang. aktif berusaha menyebarkan Hindu berdasar mandat dari raja Bali. Dalam praktiknya, ia mencoba meramu antar unsur dalam ajaran Islam, Hindu, dan aliran kepercayaan tradisional (Boda) di masyarakat islam Sasak. Hal inilah yang memicu munculnya ajaran WetuTelu. (@)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar