Kamis, 21 Februari 2013

Timbulnya Dampak Negatif Globalisasi, Akibat Belum Matangnya Pemimpin

Narmada,(SK),-- Lenturnya nilai-nilai luhur bangsa di sebabkan oleh rasa tanggung jawab, rasa memiliki,rasa hormat-menghormati,rasa berdosa dan rasa malu dari para pemimpin yang sudah tidak ada lagi.Jika hal ini sudah tidak bisa dihindari atau diperbaiki oleh para pemangku pemegang amanah di negeri ini, tentu mau dibawa kemana bangsa ini.
Demikian yang dikatakan Ir Darmansyah,MM dihadapan 40 pejabat esselon IV lingkup Pemda KLU yang sedang mengikuti Diklatpim pola kemitraan antara Pemda Provinsi NTB dengan Pemda KLU,Kamis (21/02/2013) di Balai Diklat Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Dikatakan,dalam lingkungan organisasi pemerintahan,seorang aparatur dituntut untuk bekerja sebagai abdi Negara dan abdi masyarakat. Secara etis, seorang aparatur terpanggil untuk melayani kepentingan public secara adil tanpa membedakan kelompok, golongan,suku,agama serta status social.Selain itu, lanjutnya, seorang aparatur harus dapat menjadikan dirinya sebagai panutan tentang kebaikan dan moralitas pemerintahan terutama yang berkenaan dengan pelayanan public.
.”Untuk itu, mari kita tingkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap nilai-nilai luhur bangsa yang sudah mulai luntur ini,agar kita tidak termasuk pejabat atau pemimpin yang korup,”ajak Darmansyah.

Pada era demokratisasi dan reformasi dewasa ini, prilaku kepemimpinan kepemerintahan harus mengarahkan orientasi kepada masyarakat luas dengan meningkatkan kepekaan untuk mendengarkan aspirasi yang berkembang termasuk saran,tanggapan,keluhan, bahkan kritik terhadap penyelenggaraan kemerintahan public.”Untuk itu, diperlukan pemahaman tentang bagaimana seorang aparatur, khususnya pemimpin kepemerintahan berprilaku,”tandas Darmansyah.
Darmansyah berharap kepada para peserta Diklatpim yang kesemuanya yang berasal dari KLU tersebut, mampu menerapkan pemahaman tentang nilai-nilai budaya yang berpengaruh terhadap birokrasi serta menjadikannya sebagai acuan dalam mewujudkan etika kepemimpinan setelah kembali ke SKPD masing-masing.
Darmansyah menyebut, dampak negative di era globalisasi dewasa ini, diantaranya agresivitas, persaingan tidak sehat,ketidak matengan pribadi,emosi yang tidak terkendali,tingkat kecurigaan meningkat dan depressi karena tekanan kehidupan dari para pemangku pengambil kebijakan.Hal ini terjadi, menurutnya, karena akibat dari para pemimpin ketika menduduki jabatan belum matang, sehingga diperlukan pemimpin yang berwawasan global dan berkelas.
Sosok pemimpin yang diharapkan dan yang berwawasan global adalah yang memiliki kompetensi iptek,sikap dan prilaku memadai,sadar terhadap tanggung jawab dan memiliki wawasan yang luas.”Ini harapan kita dalam rangka mendorong pembangunan di daerah ini agar lebih baik,”harap Darmansyah, yang sehari-harinya bekerja sebagai widya iswara di BKD dan Diklat Provinsi Nusa Tenggara Barat ini.
Pengalaman 15 tahun sebagai widya iswara di BKD dan Diklat Provinsi NTB tersebut, Darmansyah selanjutnya menjelaskan, system budaya yang mempengaruhi sifat kepemimpinan aparatur diantaranya budaya birokrasi yang universal,budaya daerah,budaya nasional, budaya agama dan budaya asing. Namun diantara budaya tersebut dan yang paling efektif dilakukan oleh para pemimpin dalam melayani masyarakatnya harus menyesuaikan dengan budaya local.(Eko)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar