Senin, 14 Mei 2012

Gong Bengel, Genderang Perang Datu Sesait

Sesait,(SK),-- Penelusuran jejak situs-sistus sejarah Sesait tempo dulu yang tersebar diwilayah wet Sesait, hingga kini terus dilakukan.
Dalam penelusuran pencarian situs sejarah Sesait ini, Agus Wahyudi, salah seorang tokoh Pemuda Sesait, mengatakan bahwa, keberadaan situs-situs Sesait selama ini masih banyak yang belum ditemukan. Sedangkan yang sudah ditemukan baru sebagian kecil saja.

”Situs-situs sejarah Sesait yang sebagian besar tersebar diwilayah bagian timur KLU ini, masih banyak yang belum ditemukan, baru sebagian kecil saja,”kata Agus Wahyudi, yang biasa dipanggil Agus Engkang ini.

”Kami akan terus mencoba menelusuri jejak situs sejarah Sesait yang merupakan peninggalan nenek moyang Tau Lokaq Sesait yang pernah ada di zaman dulu, yang nyaris terlupakan ini. Sehingga nantinya, penemuan kami ini akan menjadi bukti bahwa peradaban Tau Lokak Sesait zaman dahulu betul-betul pernah ada dan jaya dimasanya,”jelas Agus Engkang semangat.

Perjalanan panjang yang penuh lika-liku menguras waktu dan tenaga dalam pencarian jejak-jejak masa lalu, tentang keberadaan kehidupan para pendahulu penghuni gumi Sesait yang pernah jaya dimasanya ini, membutuhkan kesabaran yang luar biasa.

Diantara peninggalan sejarah Sesait di masa lalu yang masih terpelihara dan lestari oleh keturunannya hingga saat ini banyak mengandung kekuatan magis. Misalnya sebut saja Batu Sait Pati dan Gong Bengel.

Batu Sait Pati dan Gong Bengel ini merupakan salah satu peninggalan Datu Sesait masa lalu, yang keberadaannya hingga kini masih ada dan meninggalkan secuil kisah yang patut di kenang oleh generasi berikutnya. Keberadaan kedua peninggalan ini tidak jauh dari Mesjid Kuno Sesait sekitar 15 m kearah barat daya. Gong Bengel ini di simpan oleh Kelap (70) bersama sebilah keris yang kemunculannya hanya suara saja setiap malam Kamis. Sedangkan Batu Sait Pati letaknya sekitar 10 m kearah selatan dari Gong Bengel ini. Antara Batu Sait Pati dan Gong Bengel itu, keberadaannya terdapat keterkaitan satu sama lain dalam perjalanan sejarahnya.

Bagaimana sejarah Batu Sait Pati dan Gong Bengel itu ada, wartawan media ini bersama Papuk Kayanah alias Amaq Sutarsah (90) menceritakan sejarahnya dalam tulisan berikut ini.

Konon ceritanya, sekitar abad ke-17 M, keberadaan Batu Sait Pati dan Gong Bengel yang hingga kini tersimpan dengan baik oleh Purusanya itu, memiliki andil yang cukup penting dalam kancah peperangan antar negeri tetangga pada masa berkuasanya Datu Sesait kala itu. Dimana menurut A.Sutar, Batu Sait Pati itu adalah sebagai wadah mengusap atau membersihkan darah yang menempel pada tangan,pedang/keris/tombak ataupun yang menempel pada pakaian kebesaran perang dan senjata lainnya yang di gunakan oleh Datu Sesait maupun punggawa kerajaan lainnya yang baru kembali dari medan perang.Sedangkan Gong Bengel ini di gunakan sebagai genderang perang atau sebagai pertanda akan ada bahaya atau huru-hara atau peristiwa perang yang bakalan terjadi. Gong itu akan berbunyi sendiri tanpa harus di pukul. Itulah sebabnya Gong tersebut di namakan Gong Bengel. Karena biarpun di pukul, baik menggunakan alat pemukul ataupun tidak, tetap tidak berbunyi.

Di ceritakan oleh Amaq Sutar alias Kayanah, Gong Bengel atau biasa di sebut ‘Tambur Perang’ oleh masyarakat adat wet Sesait, keberadaannya tidak sendiri. Namun di tunggui oleh sebilah keris, dimana keris tersebut keberadaannya hanya suaranya saja dan keris itu hanya muncul pada setiap malam Kamis.

Sebenarnya menurut Balok Kaimah (alm) yang diceritakan kembali oleh Kayanah, Gong Bengel (Tambur Perang) tersebut dulunya ada dua buah, ditambah sebuah Al-Qur’an dan sebilah Keris. Namun karena sang pemilik bersaudara yaitu Sayid Dina (kakak) dan Sayid Tumekar Sari (adik) kala itu sama-sama ingin berkuasa dan tidak ada yang mengalah, maka oleh orang tuanya di pisah. Agar sama-sama berkuasa, yang besar Sayid Dina tetap tinggal dan berkuasa di Kedatuan Sesait dengan diberikan sebuah Gong dan sebilah keris. Sedangkan yang kecil Sayid Tumekar Sari harus rela meninggalkan gumi paer Sesait untuk merantau ke daerah Pejanggik dengan diberikan sebuah Gong dan sebuah Al-Qur’an.

Sepeninggal Sayid Tumekar Sari dari gumi Paer Sesait, maka Sayid Dina terus berkuasa di Sesait hingga akhir hayatnya. Keturunan Sayid Dina inilah yang menurunkan generasi berikutnya yang berkuasa di Kedatuan Sesait (Kampu Sesait), hingga akhirnya beberapa abad kemudian muncullah bangsa Demung. Kemunculan bangsa Demung ini sangat penting artinya bagi keberlangsungan keberadaan pemegang kekuasaan di kerajaan Sesait kala itu. Buktinya hingga sekarang yang berkuasa di Singgasana Kerajaan Sesait (sekarang Kampu Sesait) adalah bangsa Demung yang disebut Mangkubumi. Sedangkan Sayid Tumekar Sari dikabarkan setiba di Pejanggik, ia juga berkuasa dan menurunkan bangsa Menak (Bangsawan). Keturunannya hingga sekarang sebagian besar mendiami Lombok Bagian Selatan.

Keberadaan Gong Bengel dengan ukuran diameter 50 cm dan terbuat dari tembaga tersebut, baik yang ada di Sesait maupun yang ada di Pejanggik, ketika ada huru-hara atau bahaya yang akan di hadapi Pemerintah kala itu, pasti sama-sama berbunyi. Namun bunyinya tidak kedengaran oleh masyarakat di sekitar Gong itu, tetapi bunyinya akan terdengar dari daerah lain yang sangat jauh.

“Kalau sudah bunyi Gong yang ada di Sesait ini, maka Gong yang satunya lagi yang ada di Pejanggik, pasti akan bunyi, namun tidak ada yang mendengar bunyinya, kecuali bagi orang yang berada di daerah lain yang sangat jauh (bisa antar benua),”terang Kayanah meyakinkan.

Menurut Kelap (70) yang menyimpan Gong ini, jika di bunyikan, orang luar yang dengar. Dirinya mengaku, walau sebagai penyimpan benda bersejarah tersebut, tidak pernah mendengar bunyinya.

Menurut cerita Bapuk Kaimah (alm) yang diceritakan kembali oleh Kayanah (A.Sutar), bahwa konon katanya, untuk memelihara gumi paer Sesait berdasarkan hitungan tahun jango bangar, maka peran Tau Lokak Empat yang di isi oleh Papuk Kaimah,Papuk Ekor,Papuk Lipa dan Papuk Anci, sangat penting keberadaannya waktu itu.

Dalam setiap melakukan ritual pembicaraan penting terkait keamanan gumi paer Sesait kala itu, maka sebelumnya mereka menggelar kain putih sebagai alas mereka untuk bermusyawarah. Karena yang di musyawarahkan nantinya bersifat suci, maka tempatnya pun harus suci dan harus berada dalam rumah.(Eko).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar