Sabtu, 28 September 2013

Putri Datu Daha di Culik Raksasa Kalimandaru (2)


Sesait,(SK),-- Dalam perkembangan sejarah berikutnya, diceritakan dalam takepan lontar kasmaran tersebut, kocap cerita setelah besar, putri Prabu Daha yang bernama Candra Wulan Sasih ingin bermain ke sebuah taman milik kerajaan ayahandanya. Dengan diiringi inang pengasuhnya Inaq Emban dan kedua Mahapatih Mangkubumi dan Mangkunegaran, sang putri berangkatlah menuju taman untuk bermain sebagaimana biasanya.

Sedang asyiknya bermain, tiba-tiba datanglah makhluk aneh yang tinggi besar serta muka yang seram.Makhluk aneh itu bernama Raksasa. Suaranya bagaikan guntur menggelegar, pandangannya bagaikan halilintar menyambar membuat bulu roma berdiri. Saking takutnya, baik putri Candra Wulan  Sasih,Inaq Emban dan kedua Mahapatih yang sedang berjaga di pojok taman menjadi kalang kabut bercampur gemetar dan menggigil.Mereka melakukan perlawanan semampunya, namun makhluk aneh yang disebut Raksasa itu tidak bisa terkalahkan.Putri pun di sambar dan di larikannya.

Kedua Mahapatih Mangkubumi dan  Mangkunegaran dan Inaq Emban pun bersedih, beduka yang sangat mendalam atas hilangnya sang Putri kesayangan sang Raja. Mereka takut, hukuman apa gerangan yang di jatuhkan raja kepada mereka atas kelalaiannya menjaga sang Putri. Sambil menangis sejadi-jadinya, Inaq Emban kembali ke istana guna melaporkan kejadian yang menimpa putri semata wayang sang Raja Daha.

Begitu mendapat laporan dari para abdinya tentang putri semata wayangnya menghilang di culik Raksasa, Prabu Daha pun murka.Dalam suasana berduka tersebut sang Prabu memerintahkan kepada kedua Mahapatihnya untuk mengumumkan sebuah sayembara yang telah dibuatnya.Sayembara tersebut berisi, ”Barang siapa yang menemukan Putri Candra Wulan Sasih hidup atau pun mati, jika ia laki-laki, maka akan di kawinkan dengan putrinya dan jika ia perempuan maka ia akan di angkat sebagai saudara sang putri.”

Seiring dengan berjalannya waktu, kedua Maha patih Mangkubumi dan Mangkunegaran sambil membawa dan menyebarkan isi sayembara tersebut ke seluruh pelosok negeri Kerajaan Daha. Disamping membawa dan menyebarkan pengumuman sayembara itu, kedua Mahapatih pun di utus oleh sang Prabu Daha untuk mencari orang berani (pendekar) yang mampu melawan raksasa sang penculik putri.

Kocap cerita, maka berangkatlah kedua Mahapatih menuju hutan tarik (pawang alas bana) untuk melaksanakan titah sang prabu. Dengan menyusuri lembah, mendaki bukit, masuk hutan, masuk kampung, menuruni jalan curam dan medan yang melelahkan, kedua Mahapatih jalankan tanpa mengenal lelah dan putus asa.Tiba di suatu tempat, merekapun istirahat.

Cupak Menzholimi Adiknya Gurantang (5)


Sesait,(SK),-- Di ceritakan Cupak bersama adiknya Gurantang kembali ke gua dan raksasa pun berhasil dibunuh oleh Gurantang. Sang Putri berhasil di selamatkan kembali. Namun setelah putri berhasil keluar dari dalam gua dengan menggunakan tali laso, Gurantang tertinggal dalam gua, karena ketika giliran Gurantang diangkat, tali laso terputus, karena memang sengaja di putuskan oleh Cupak. Jadilah Gurantang seorang diri dalam gua, yang keberadaannya tidak diketahui berapa lama tinggal di dalam gua yang gelap dan berbau amis itu.

Dalam takepan lontar kasmaran tersebut di ceritakan, setelah raksasa berhasil di bunuh oleh Gurantang dan sang putri juga berhasil di selamatkan, oleh Cupak kemudian mengajak sang putri pulang kembali ke istana menghadap Prabu Daha (ayahanda sang putri) untuk menepati janjinya. Dihadapan Prabu Daha Cupak pun menagih janji untuk segera di kawinkan dengan putri Candra Wulan Sasih.

Setibanya di istana, Cupak diterima langsung oleh Prabu Daha sendiri yang didampingi para pembesar kerajaan, termasuk kedua Mahapatih Mangkubumi dan Mangkunegaran. Di hadapan Datu Daha dan para pembesar kerajaan itu, Cupak kembali berpesan, jika ada orang yang kurus kerempeng yang datang dan berkeliaran di luar istana dan mengaku dirinya gurantang adiknya, maka di bunuh saja, itu musuh kerajaan, kata Cupak. Hal ini tiada lain adalah akal licik Cupak supaya tidak ada penghalang baginya untuk dapat mempersunting putri Datu Daha Candra Wulan Sasih.

Cupak Kecewa di Tolak Putri Candra Wulan Sasih (4)

Sesait,(SK),-- Dalam perjalanan pulang, Cupak membujuk sang putri, ketika nanti di tanya oleh Prabu Daha (ayahandanya) agar mengatakan Raden Cupaklah yang membunuh Raksasa itu. Berbagai bujuk dan rayu yang lancarkan sang Cupak. Disamping itu,Cupak juga merayu sang putri agar dia mau di kawinkan dengannya, namun putri Candra Wulan Sasih tidak mau dan tetap bungkam. Akhirnya Cupak kehabisan akal. Berbagai strategi telah dilakukannya, namun sang putri tetap pada pendiriannya, karena memang bertentangan dengan kenyataan yang dilihatnya, bahwa bukan Cupak yang membunuh raksasa yang menculiknya melainkan Gurantang.

Dengan kondisi tersebut, lalu Cupak berpura-pura memanggil raksasa agar sang putri di ambil lagi.Hal ini dilakukan Cupak, karena dirinya berfikir sudah tidak mungkin ada raksasa lain lagi.Sebab raksasa yang menculik sang putri sudah mati.Dugaan Cupak inipun meleset. Ternyata masih ada satu lagi yang masih berkeliaran.Maka sang putri pun di sambar lagi dari tangan sang Cupak dan di larikan ke dalam guanya.

Cupak dan Gurantang Menerima Tugas Berat (3)

Sesait,(SK),-- Selanjutnya dalam Takepan Lontar Kasmaran itu diceritakan, tersebutlah dua orang bersaudara kakak – beradik Kasmaran dan Montong Ulung yang lebih dikenal dengan sebutan Gurantang-Cupak, dimana dalam menjalani kehidupan masing-masing memiliki karakter yang berbeda, sehingga Kasmaran prustasi dengan sikap kakaknya karena tidak konsekuen dalam kehidupan. Akhirnya Kasmaran pergi nglalu (mengembara) entah kemana tanpa arah tujuan. Montong Ulung kakaknya pun menyesal berbuat seperti itu.Maka di susullah adiknya agar selalu bersama, susah maupun senang ditanggung bersama. Setelah menemukan adiknya, maka merekapun mengembara bersama-sama.

Dalam perjalanan mengembara tersebut, kedua kakak-beradik bertemu dengan orang asing yang memiliki tanduk.Orang asing yang ditemukan itu tiada lain adalah Mahapatih Mangkubumi dan Mangkunegaran yang sedang menjalankan tugas rajanya untuk mencari putri yang hilang di culik makhluk Raksasa sekaligus mencari orang pemberani (pendekar).
Setelah saling adu argument antara kedua belah pihak, maka Cupak menyanggupi dirinya yang akan membunuh raksasa yang menculik sang putri. Mendengar kesanggupan Cupak tersebut, kedua Mahapatih membawa Cupak bersama adiknya Gurantang menuju istana Kerajaan Daha untuk di hadapkan kepada baginda Prabu Daha.
Tiba di depan istana,Cupak menyuruh adiknya menunggu di luar tembok istana, sementara dirinya masuk ke istana menghadap Prabu Daha. Dihadapan sang Prabu, Cupak berjanji dan sanggup mencari sang putri yang hilang dan membunuh raksasa yang menculiknya.Dasar Cupak yang banyak akal tanpa pikir panjang, dia mengumbar janji, yang penting bagaimana dia dapat makan.
Mendengar kesanggupan Cupak ini,maka Prabu Daha pun memberikan perbekalan secukupnya pada sang pemberani Cupak termasuk memberikan Keris Pusaka leluhur Kerajaan Daha dan menjamunya dengan berbagai macam hidangan sebelum Cupak berangkat melaksanakan tugasnya.Usai dijamu, maka berangkatlah Cupak bersama adiknya yang sejak tadi menunggu di luar istana untuk mencari dan membunuh raksasa yang menculik putri Datu Daha.
Perjalanan mencari raksasa pun sangat melelahkan bagi sang Cupak.Dalam keadaan seperti itu, sempat terlintas dalam hati sang Cupak ingin mengajak adiknya mengurungkan niatnya untuk mencari raksasa sesuai dengan janjinya kepada sang Prabu.Namun adiknya mengatakan, teruskan saja, karena terlanjur sudah berjanji.Jadi pantang mundur, kata adiknya.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan menyusuri hutan,lembah,naik-turun jurang dan perbukitan yang penuh dengan tantangan. Ketika mereka merapat dan mendekati sebuah gua, yang dijumpai pertama kali adalah bekas telapak kakinya sebesar Mayang Pinang.Cupak pun takut melihat bekas telapak kakinya itu. Bagaimana besar makhluknya, jika bekas kakinya saja seperti itu,pikir Cupak pada adiknya.Lalu Cupak terus membujuk adiknya agar mengurungkan niat untuk mencari raksasa itu.Tetapi adiknya terus bersikeras untuk tetap melanjutkan perjalanan mencari raksasa Kalimandaru untuk menepati janji kepada Prabu Daha. Hal serupa terus dilakukan Cupak ketika mereka menemukan lagi bekas kencingnya seperti bekas kubangan kerbau, bekas kotorannya seperti bukit,kemudian menemukan jurang dan di jurang inilah di yakini sebagai tempat gua tempat tinggalnya raksasa yang mereka cari.
Oleh adiknya, Cupak di suruh duluan masuk ke dalam gua untuk perang melawan raksasa dengan membawa keris pusaka leluhur kerajaan daha.Baru mendengar suara raksasa berdehem saja, Cupak lari tunggang langgang, dia mengira suara Guntur. Lalu Cupak menyuruh adiknya gurantang yang masuk gua dan perang melawan raksasa. Akhirnya, raksasa pun bisa di kalahkan oleh gurantang.
Cupak mencoba turun ke dalam gua untuk mencari sang putri.Namun sang Cupak hanya turun hingga pertengahan gua.Lalu kembali naik ke atas, karena Cupak khawatir jangan-jangan masih ada raksasa llainnya yang ada di dalam.Kemudian Cupak menyuruh adiknya saja yang turun ke gua mencari dan menyelamatkan sang putri.Pendek cerita akhirnya sang putri ditemukan di dalam gua raksasa lalu di bawa naik oleh gurantang.(Bersambung)

Menelusuri Peninggalan Sejarah Kerajaan Pejanggik

Praya,(SK),-- Desa Pejanggik berpenduduk sekitar 900 rumah tangga.Warna sejarah Lombok tidak bisa dilepaskan dari sejarah desa ini.Nama pejanggik jelas merupakan pertautan antara desa dengan kerajaan yang pernah ada dan berpengaruh di Lombok.

Dahulu wilayah kekuasaan kerajaan pejanggik meliputi pantai barat sampai pantai timur pulau Lombok, dari Belongas hingga Tanjung Ringgit.

Pejanggik berkuasa hamper bersamaan dengan berkuasanya kerajaan Selaparang di Lombok Bagian Timur.Selaprang sendiri sering di presentasikan sebagai kerajaan yang banyak menguasai wilayah pulau Lombok saat itu.

Membicarakan sejarah Lombok tanpa membicarakan desa Pejanggik tentu tidak akan lengkap.Bukti-bukti fisik yang menegaskan bahwa desa pejanggik sebagai warisan kerajaan Pejanggik diantaranya Makam Seriwa yang lokasinya berada di pinggir jalan utama persis di tengah desa.Seriwa dalam pengertian bahsa Sasak, berasal dari kata serio’ yang berarti melihat.Makam ini telah mengalami pemugaran oleh pemerintah sejak ditetapkan sebagai cagar budaya,dimana keberadaan makam ini sudah ada sejak ratusan tahun silam dan diyakini sebagai tempat petilasan terakhir Raja Pejanggik.

Secara umum komplek makam Seriwa merupakan kompleks makam umum. Berada persis dipinggir jalan raya Praya-Keruak Lombok Timur.Makam Seriwa berada di tempat ketinggian.Masyarakat umum yang akan berkunjung ke makam tersebut harus melewati makam masyarakat umum dan selanjutnya memasuki kompleks makam Seriwa.

Dalam kompleks makam Seriwa terdapat sejumlah makam dan pusara di dalamnya.Hanya satu makam yang berada di dalam bangunan dengan dinding terbuka dan dilengkapi dengan kain putih.Ini menandakan bahwa makam tersebutlah yang menjadi obyek kunjungan (makam Seriwa).Kompleks makam dikelilingi oleh puluhan pohon kamboja (jepun) berumur tua.

Banyak versi tentang Kerajaan Pejanggik, tetapi masyarakat Sasak Lombok Tengah percaya bahwa makam itu adalah makam Raja Pejanggik yang terakhir.Dalam bahasa arab, makam berarti tempat. Masyarakat meyakini bahwa disini tempat raja Pejanggik terlihat untuk yang terakhir kalinya.

Peziarah biasanya ramai mengunjungi makam ini usai hari raya idul fitri atau hari-hari besar Islam lainnya.Peziarah tidak hanya datang dari wilayah Lombok Tengah saja, tetapi banyak juga yang datang dari Kabupaten lain dan bahkan dari daerah luar. Di kompleks makam Seriwa ini kerap kali dilaksanakan perang timbung.Perang ini mirip dengan perang topat di pura lingsar di Desa Lingsar.Bedanya, perang di kompleks makam Seriwa ini menggunakan timbung (jajan khas masyarakat Sasak yang terbuat dari ketan), sedangkan perang topat di pura Lingsar menggunakan topat.

Berdasarkan banyak pendapat, pelaksanaan tradisi perang timbung ini berawal dari kekacauan internal Kerajaan Pejanggik.Selain itu, soal ketegangannya dengan Kerajaan Selaparang.Raja kemudian melakukan tapa brata (semedi) untuk meminta hidayah sang pencipta.Dari hasil tapa bratanya ini,Raja kemudian menyampaikannya kepada para penasehat pembesar kerajaan.Oleh para penasehat, Raja diminta mengumpulkan seluruh rakyat dan memerintahkan kepada mereka membuat jajan timbung untuk dibagikan sebagai bahan ritual,berkumpul, bersilaturrahmi dan saling memberi.

Tidak hanya makam Seriwa ini saja yang terdapat di Desa Pejanggik yang merupakan peninggalan Kerajaan Pejanggik.Peninggalan lainnya adalah Lingkok Toro (sungai Toro) yang terdapat di Dusun Toro Desa Pejanggik.Pada waktu-waktu tertentu di sekitar aliran sungai yang lebih sering mongering ini, masyarakat menggelar ritual adat.Disinilah di yakini sebagai tempat raja menyembunyikan benda pusaka kerajaan.Sebagian masyarakat setempat juga mengaku menyimpan beragam barang antik peninggalan kerajaan mulai dari kain, perabot rumah tangga dan lain-lain.

Seperti yang pernah di tulis di berbagai babad, berdirinya kerajaan Pejanggik bermula dari menyepinya Deneq Mas Putra Pengen dengan Segara Katon ke daerah yang bernama Rambitan.Beliau didampingi oleh putranya Deneq Mas Komala Sempopo, yang kemudian menurunkan raja-raja Pejanggik.Kerajaan Pejanggik mulai mengalami perkembangan pada tahun 1648 M.

Dalam sejarahnya, Kerajaan Pejanggik menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Selaparang di Lombok Timur.Kerenggangan kemudian terjadi oleh politik adu domba seseorang dari internal Pejanggik sendiri Arya Banjar Getas. Pada generasi ke-9, tahta di Kerajaan Pejanggik dilanjutkan dari Pemban Mas Komala Kusuma yang memiliki anak bernama Meraja Kusuma.Setelah itu, Pejanggik mulai meredup karena perselisihan internal antara Pemban Mas Komala dengan Arya Banjar Getas yang berujung peperangan.

Agar pertautan sejarah tidak putus, masyarakat setempat meminta keseriusan Pemda untuk menggali akar sejarah.Tidak hanya tentang Kerajaan Pejanggik, tetapi juga tentang kekayaan sejarah local lainnya.Dokumentasi ilmiah harus dibuat agar diketahui oleh generasi mendatang.(Ras)
 

Mengenal Pemeran Utama Gurantang Pusaka Jati Sesait

Sesait,(SK),--- Sejak berdirinya pada tahun 1958 silam, kesenian tradisional Cupak Gurantang Pusaka Jati Sesait tidak terlepas dari peran para tokoh legendaris pendirinya, seperti Sauban, Saharim,Yahep,Dahu,Remait, Malon,Amak Kelas dan Puk Sardin.

Ketenaran kesenian tradisional Cupak Gurantang Pusaka Jati Sesait pada zamannya itu, menjadikan kesenian tersebut lebih dikenal luas oleh masyarakat seantero Dayan Gunung kala itu. Pada generasi pertama keberadaan kesenian yang sempat membuat heboh masyarakat lokal pada zamannya itu, sebagai pemeran utama Gurantangnya adalah Sauban. Sementara yang berperan sebagai Cupaknya adalah Saharim dan Remait serta putrinya di perankan oleh Kilo. Ketenarannya pun berakhir ketika posisi Gurantangnya di gantikan oleh putranya sendiri yaitu Nasudin pada tahun 1975.

Praktis sejak Nasudin tampil sebagai pemeran Gurantang dan Naskiah (adiknya) berperan sebagai putri, maka sejak saat itu ketenarannya pun kembali memuncak hingga Nasudin sendiri meninggalkan kesenian yang sempat membesarkan namanya itu, untuk mengabdi sebagai TNI AD di perbatasan NTT dan Timor Leste pada tahun 1980.

Kepada penulis, Nasudin yang merupakan generasi ke tujuh dari Sauban yang memerankan tokoh Gurantang kala itu mengatakan, dirinya tampil memrankan tokoh Gurantang menggantikan ayahnya (Sauban) adalah karena orang tuanya menginginkan adanya regenerasi.Ternyata keinginan dari orang tuanya pun terwujud.Dengan tampilnya Nasudin sebagai pemeran Gurantang menggantikan posisi orang tuanya, maka kesenian Cupak Gurantang Pusaka Jati Sesait kala itu semakin tenar dan lebih di kenal dari kesenian sejenis yang pernah ada di KLU.

Dikatakan, ketenaran kesenian tradisional yang sempat jaya pada decade tahun 1980-an itu, karena memang peran para tokoh pendukung saat itu sangat penting.

Generasi kedua, pemeran Gurantangnya Laina, Cupaknya Saharim dan putrinya Canep. Generasi ketiga, pemeran Gurantangnya Nursep, Cupak (Remait, Siradi, Yahep, Malon) dan putrinya Kinjep. Genrasi Keempat, pemeran gurantangnya Maharip, putrinya Senip. Sedangkan Cupaknya tetap Yahep, Malon,Remait dan Siradi.Genrasi Kelima, gurantangnya Jago dan putrinya kredek,Cupaknya Remait,Siradi,Malon, Yahep.Kemudian generasi keenam, gurantangnya Dugek dan putrinya Sidik, sedangkan Cupaknya Siradi,Remait, Yahep.Generasi ketujuh, Gurantangnya Nasudin dan putrinya Naskiah dan Cupaknya Remait,Yahep (A.Satar). Kemudian Generasi kedelapan, gurantangnya Naskiah, putrinya Same, sedangkan Cupaknya Remait,Yahep, Malon.Pada geresai Sembilan, Gurantangnya Murina dan putrinya Samina, sedangkan Cupaknya Remait, Yahep,

Pemeran utama Gurantang pada kesenian Cupak Gurantang Pusaka Jati Sesait patut di banggakan. Karena dengan kembalinya ia ke kampung halamannya di Dusun Lokok Sutrang Desa Sesait Kecamatan Kayangan KLU setelah purna tugas bulan Februari 2013 lalu, maka praktis kesenian yang sempat timbul tenggelam selama 35 tahun selama ditinggalkannya itu, kini bangkit kembali.

Karena Nasudin bertekad dan berkeinginan agar kesenian yang pernah membesarkan namanya itu kembali jaya sebagaimana pada masa dulunya. Lebih-lebih para sekaha dan para pemain pendukungnya yang kini masih hidup antusias untuk menghidupkan kembali kesenian ini. Sehingga sesuai dengan kesepakatan mereka tetapkan jadual latihannya setiap malam Kamis dan pentasnya setiap malam Minggu di sekretariatnya di Dusun Lokok Sutrang Desa Sesait KLU.

“Film dokumenternya sudah dibuat, kini dalam tahap finishing.Masyarakat yang ingin mengkoleksinya pun bisa memilikinya,”tandas Nasudin.

Film Cerita Cupak Gurantang Pusaka Jati Sesait ini nantinya akan di arsipkan di bagian kebudayaan di Dikbudpora KLU. Hal ini dilakukan agar kesenian tradisional tersebut tetap lestari sepanjang masa.Disamping itu, Perhatian Pemerintah Daerah juga sangat diperlukan terhadap tetap eksisnya keberlangsungan kesenian tradisional di daerah ini.Tanpa dukungan dan peran serta Pemerintah Daerah melestarikan sejarah dan nilai-nilai seni budaya lokal tentu semuanya itu hampa.(Eko)
 

Kiprah Nasudin Membangkitkan Kesenian Cupak Gurantang Pusaka Jati Sesait

Sesait,(SK),-- Di lingkungan masyarakat adat Sesait, cerita Cupak Gurantang di kenal dengan sebutan Kayak. Cerita ini pun tidak sembarang cerita, melainkan di sadur dari Kitab Takepan Lontar Kasmaran yang hingga kini tersimpan di Kampu Sesait.
Menurut budayawan asal Sesait Masidep,S.Pd mengatakan, sejak berdirinya pada bulan Agustus 1958 silam, para tokoh penggagas sekaligus pemain seperti Sauban dan dibantu Malon, Remait, Rekawi, Amaq Kelas, Gendek, Dranjang, Ripen,Amaq Musti, Amak Israh serta Amaq Tami’in, keberadaan kesenian ini terus eksis. Selain itu, tokoh yang tidak kalah penting ikut sebagai pendukung kesenian tersebut diantaranya Puk Sardin,Puk Napinah,Puk Laku, Puk Sumenep,Puk Satar, Puk Saharim, Aca, Amaq Amaq Lepak,Amaq Jamiah,Amaq Aru, Amaq Siradi dan lainnya.

Dikatakan, kesenian Cupak gurantang Pusaka Jati Sesait yang kini mulai bangkit tersebut mengalami puncak kejayaan pada masa yang pertama yaitu ketika Sauban berperan sebagai Gurantang dan Cupak diperankan oleh Saharim dan putri diperankan oleh Kilo, yaitu dari sejak berdirinya tahun 1958 hingga awal tahun 1970-an. Kemudian kesenian ini pun mengalami puncak kejayaannya pada masa generasi kedua setelah Sauban yaitu pada zamannya Nasudin sebagai Gurantang, Naskiah (adiknya) sebagai putri dan Amaq Satar sebagai Cupak tahun 1972-1980-an. ”Kenapa kesenian ini mengalami puncak kejayaannya berakhir hingga tahun 1980-an, karena Nasudin selaku pemeran utama Gurantangnya kala itu mengabdi ke perbatasan NTT dan Timor Leste sebagai alat Negara yaitu TNI AD,”jelas Masidep.

Namun diakui Masidep, ayah dari Nasudin yang dulunya berperan sebagai Gurantang dan pada generasi kedua hanya berperan sebagai peniup suling, walau pemeran utama gurantangnya tidak lagi berperan karena bertugas sebagai seorang TNI AD di perbatasan NTT dan Timor Leste, sehingga posisi gurantangnya di gantikan oleh adiknya Naskiah dan ketenarannya pun terus berlanjut hingga tahun 1985. Setelah tahun itu, ketenarannya sudah mulai redup karena sebagian pemain maupun sekaha pendukungnya ada yang wafat. Seperti Sauban, Amaq Satar, Amaq Ripen, Amaq Lepak, Amak Israh, Amak Kelas, Rekawi, Amak Deranjang dan lain sebagainya.Disamping itu ada beberapa perlatannya yang dijual dan ada pula yang lapuk di makan rayap karena saking lamanya tersimpan tidak pentas lagi.

Bersyukurlah, setelah 35 tahun kemudian, sekembalinya pemeran utama gurantang (Nasudin) dari rantauan pada awal tahun 2013 lalu ke kampung halamannya di Dusun Lokok Sutrang Desa Sesait KLU, maka seluruh pemain dan sekaha yang pernah mendukung kesenian Cupak Gurantang pada masa lalu terutamna yang masih hidup di hubunginya untuk bagaimana kesenian yang pernah jaya dimasanya dulu dibangkitkan kembali. Ternyata upaya ini di dukung oleh seluruh keluarga para sekaha dan pemain yang masih hidup.Sehingga mulailah Nasudin dibantu oleh saudara-saudaranya seperti Masidep, Eko, Jhon, Jinul, Asrudin, Rangga dan lainnya menyusun kekuatan dengan membentuk pengurus terlebih dahulu baru kemudian menata keadaan anggota yang masih setia pada kesenian leluhur ini.

Dalam rapat pertama yang digelarnya awal Januari 2013 lalu, disepakati untuk membentuk Pengurus dan calon sekaha serta para pemain yang masih hidup semuanya didata.Sebagai Ketua Masidep,S.Pd, Sekretaris Zaenulhadi, S.Pd, Bendahara Eko Sekiadim,S.Sos dan selaku Ketua Umum Serka (Purn) TNI AD Nasudin.Disamping pengurus inti, terbetuk pula seksi-seksi diantaranya seksi sekaha, seksi pentas, seksi Pewarah, seksi dokumentasi dan seksi transportasi.

Disamping kepengurusan yang sudah terbentuk, maka disepakati pula sebagai tempat Sekreatriat kesenian ini di Dusun Lokok Sutrang Desa Sesait Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat.Jadual latihan pun disepakati setiap malam Kamis dan jadual pentasnya setiap malam minggu di sekretariatnya Dusun Lokok Sutrang.(Eko)