Selasa, 11 Desember 2012

Skenario Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Berpotensi Tsunami Berjalan Sukses

Pemenang,(SK),-- Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Swt atas rahmat dan nikmat yang diberikannya kepada kita,sehingga kita bisa hadir di tempat ini dalam rangka melkasanakan sesuatu yang sangat penting dan strategis yaitu gladi lapangan terhadap rencana yang telah dibuat dalam rangka penanggulangan bencana akibat gempa bumi yang berpotensi tsunami.

Demikian sepenggal pernyataan Sekda KLU Drs Suardi,MH dalam sambutannya sesaat sebelum gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami di Kecamatan Pemenang,Sabtu (08/12/2012) lalu.

Dikatakan, berbicara bencana, tentu kita tidak bisa lepas darinya dan juga kita tidak berharap bencana itu datang dalam kehidupan yang serba tidak menentu ini.Dimana dalam kehidupan ini tidak bisa tidak, senang, susah, sedih, bahagia, itu pasti akan kita alami.Tetapi hal itu tentu siapa pun tidak menginginkannya, yang kita inginkan adalah bagaimana kita bisa mengeleminir agar bencana itu tidak akan terjadi.

KLU jika ditinjau dari sisi tofografisnya berpotensi rawan bencana.Sehingga Mudah-mudahan dengan simulasi yang di gelar pihak BPBD Provinsi NTB dan BPBD KLU kali ini dan medan berat yang dibuat sedemikian rupa dengan melibatkan para aktor siap sebagai pelaku dari korban bencana warga Gili Trawangan bisa berperan dengan baik. Hajatan peristiwa ini dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang agar senantiasa selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan terjadi bencana alam seperti gempa bumi yang berpotensi tsunami. Sehingga pengalaman dan apa yang di hajatkan dari simulasi ini, tentunya dapat di raih dengan bagus.

Rencana Oprasional Ggladi (ROG) penanggulangan bencana gempa bumi berpotensi tsunami di KLU khususnya di Gili Trawangan, terdapat beberapa system rangkaian kronologis.Sistem gladi lapang gempa bumi yang berpotensi tsunami ini di dasarkan pada empat aspek peran Penanggulangan Bencana sesuai SOP (Standar Oprasional Penanggulangan) pada tiap-tiap stakeholder yaitu Situasi,Reaksi,Koordinasi dan Tindakan, dengan menitik beratkan pada arahan Presiden RI tentang Penanggulangan Bencana.

Diceritakan, dalam kronologis gladi lapang tersebut, pada hari Sabtu pagi sekitar pukul 09,15 wita seluruh aktifitas penduduk di Kabupaten Lombok Utara umumnya dan khususnya di Gili Trawangan berjalan normal. Pagi yang cerah,suara debur ombak dan kicau burung menyambut suasana pagi di Gili Trawangan masyarakat melakukan aktivitas seperti biasanya, seperti nelayan,buruh,guru,bersekolah, dagang, bertani, loper koran dan lain sebagainya.Geliat perekonomian pun berjalan normal.

Tiba-tiba kehidupan masyarakat yang normal tadi di kejutkan dengan terjadinya getaran yang sangat kuat dan dirasakan oleh seluruh masyarakat NTB pada umumnya dan masyarakat KLU pada khususnya.Situasi masyarakat pada menit awal terjadinya gempa bumi ini adalah terjadi hiruk pikuk, anak sekolah, pedagang, petani, nelayan dan juga wisatawan, lari berhamburan untuk menyelamatkan diri.

Kemudian reaksi pada menit yang kedua, diceritakan, Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana menerima info dari BMKG terkait kejadian Gempa Bumi 7,5 SR dengan kedalaman 25 km yang berpusat di 115”,58 20,005’ BT, 8”11’55,436’ LS atau 16,8 km sebelah utara Gili Trawangan sekitar pukul 09,15 Wita yang dirasakan oleh masyarakat NTB.

Pusdalops meneruskan informasi BMKG kepada BPBD KLU.Petugas BPBD memberikan informasi kepada Kepala Desa Gili Indah dan Forum PRB bahwa gempa bumi yang terjadi berpotensi tsunami.

Setelah menerima laporan keadaan Gili Trawangan dan sebagian wilayah KLU, maka Bupati bersama Kepala Pelaksana BPBD KLU,Forkomda dan Elemen terkait melakukan rapat yang dipimpin langsung oleh Bupati KLU H.Djohan Sjamsu,SH di Pendopo Kabupaten guna membahas langkah-langkah penanganan bencana selaku Komando tanggap darurat untuk wilayah setempat serta penetapan tugas dan fungsi tiap-tiap instansi dan elemen pendukung dalam kegiatan tanggap darurat.

Dalam arahannya,Bupati KLU H.Djohan Sjamsu,SH memerintahkan kepada seluruh masyarakat untuk segera bersiap-siap ambil bagian untuk mengamankan dan membantu teman-teman yang terkena musibah gempa bumi.Dimana gempa bumi ini berada di efisentrum selat Lombok yang akan melewati melanda tiga gili (Trawangan, Air dan Meno). Oleh karena itu, dihimbau kepada seluruh SKPD,BPBD,TNI-Polri dan masyarakat untuk membantu menyelamatkan seluruh korban-korban yang ada di Gili Trawangan.Sedangkan yang lain,terutama yang berada di darat, kiranya segera mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk kebutuhan-kebutuhan terkait dengan korban bencana alam gempa bumi dan tsunami ini dapat di eleminir.

Selanjutnya, Kepala BPBD sesuai dengan rencana operasional gladi (ROG) penanggulangan bencana gempa bumi berpotensi tsunami yang di gelar di Kecamatan Pemenang tersebut, segera mengkoordinir pembentukan Tim bantuan Bencana, yang terbagi dalam beberapa Cluster tanggap darurat.

Kepala BPBD KLU melihat kondisi ini, segera menyikapi dan memerintahkan cluster-cluster yang sudah di bentuk untuk mengevakuasi masyarakat yang menjadi korban menuju lokasi yang lebih aman yaitu terminal Bangsal.

Dalam penanggulangan bencana alam akibat gempa bumi yang berpotensi tsunami ini dibagi menjadi beberapa cluster.

Pertama, Cluster Koordinasi, Manajemen dan Informasi. Cluster ini memberikan dukungan informasi,koordinasi dan dukungan komunikasi dalam penanggulangan bencana. Kedua,Cluster SAR dan Evakuasi.Cluster ini memberikan tindakan pertolongan pertama dan mencari serta memindahkan korban bencana ke lokasi yang lebih aman. Ketiga, Cluster Pendidikan dan perlindungan anak. Cluster ini memberikan bantuan pendidikan keluarga dalam masa tenggang darurat serta memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan anak.Keempat Cluster Kesehatan dan Nutrisi.Cluster ini memberikan bantuan pelayanan kesehatan dasar kepada pengungsi serta perawatan-perawatan cepat,tepat di lapangan.Kelima Cluster Pemulihan Darurat, Sanitasi dan air bersih.Cluster ini memberikan kenyamanan dalam mendukung masalah tanggap darurat yang akan mempersiapkan kebutuhan primer berupa air bersih yang siap minum menindak dri kondisi yang tidak normal yang dialami oleh bumi selalu menyebabkan air yang merupakan kebutuhan utama tidak aman untuk di konsumsi.Cluster Keenam,logistic dan peralatan.Cluster ini yang membantu dalam hal penyediaan dan pendistribusian peralatan logistic dalam masa tanggap darurat yang melibatkan semua unsure masyarakat yang membantu dalam penetapan sarana dan prasarana dalam tanggap darurat.Cluster terakhir yaitu Cluster Keamanan.Cluster ini yang merupakan cluster pendukung dalam menjaga keamanan serta kenyamanan dalam area pengungsian.

Sitem gladi lapangan gempa bumi berpotensi tsunami tersebut, di dasarkan atas empat aspek peran yang digunakan dalam penanggulangan bencana sesuai dengan Standar Oprasional Penanggulangan (SOP) pada tiap-tiap stakeholder seperti situasi,reaksi,koordinasi dan tindakan, dengan menitik beratkan pada arahan Presiden Republik Indonesia tentang Penanggulangan Bencana.

Dalam simulasi Gladi Lapang Gempa Bumi Berpotensi Tsunami di Kecamatan Pemenang tersebut, Tim dibagi menjadi 3 bagian, dimana Tim Pertama adalah Tim Bantuan Medis di kondisikan di berada di Pendopo Kabupaten Lombok Utara, Kedua Tim SAR dan Evakuasi pertama berada di Gili Trawangan dan Ketiga,Tim Bantuan Evakuasi Kedua di kondisikan berada di Polres KLU.

Dalam simulasi gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami ini mengharuskan keterlibatan dari semua stakeholder pengambil kebijakan,baik ditingkat Kabupaten Lombok Utara maupun ditingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, seperti Tim SAR TNI,Basarnas,Tagana,TRC,LSM,Kesehatan,Kelompok Forum PRB dan Dunia Usaha.

Setelah melakukan koordinasi dan mempersiapkan lokasi tanggap darurat,semua stakeholder bergerak sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing cluster.Kepala BPBD bersama Bupati KLU melakukan peninjauan tentang kesiapan tiap-tiap cluster di lokasi Posko tanggap darurat di Terminal Bangsal. Bupati pada kesempatan itu menanyakan tentang apa saja yang telah di siapkan.

Seiring dengan berjalannya masa tanggap darurat, datanglah bantuan-bantuan dari semua pihak,mulai dari TNI,POLRI, LANAL, LANUD, BPBD Provinsi NTB,PMI,Dinas-Dinas Pemerintah Provinsi,BANK, Basarnas, Pramuka,LSM-LSM,NGO dan para relawan lainnya.Kedatangan bantuan-bantuan dari semua unsure dan elemen masyarakat peduli ini adalah untuk membantu korban penyelenggaraan masa tanggap darurat.

Penanganan korban yang berada di Desa Gili Indah guna mendapatkan penanganan Medis yang memadai, dikarenakan diwilayah tersebut kurang sarana dan prasarananya untuk evakuasi korban.Maka setelah Kepala Desa Gili Indah berkoordinasi dengan pihak Posko tanggap darurat melalui pesawat radio, pihak Posko segera mengirimkan bantuan medis ke daerahnya.Selain itu,Kepala Posko tanggap darurat menginstruksikan tim evakuasi dan kesehatan yang tergabung dari TNI, Polri, Basarnas,PMI,Dinas Kesehatan untuk menuju ke Desa Gili Indah.

Persiapan tim evakuasi yang dipimpin oleh TNI segera menuju Desa Gili Indah. Sebelum tim diberangkatkan, maka pimpinan tim evakuasi menginformasikan dan mengkoordinir anggota untuk mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan perjalanan.

Setibanya di lokasi,tim evakuasi segera berkoordinasi dengan Kepala Desa Gili Indah sambil menuju ke lokasi tenda pengungsian darurat di atas bukit untuk melakukan kegiatan evakuasi dan memberikan bantuan penanganan medis kepada korban yang telah di evakuasi.
Ketua tim evakuasi melaporkan ke Posko tanggap darurat bahwa telah memberangkatkan Tim SAR I dengan membawa 15 korban prioritas (rentan dan luka berat).Seiring dengan berjalannya kegiatan SAR dan Evakuasi korban di gili Trawangan, tim SAR juga melakukan kegiatan SAR di Bangsal Kecamatan Pemenang dan sekitarnya untuk dibawa menuju ke Posko tanggap darurat guna mendapatkan penanganan dan perawatan.

Situasi dan kondisi di Posko tanggap darurat, setelah semua masyarakat terdampak mampu di kondisikan dan secara bersamaan Posko Tanggap Darurat menerima Info bahwa Tsunami tidak terjadi.Kegiatan alur Cluster-cluster yang ada dalam masa ini melakukan koordinasi,informasi dan komunikasi penanganan,rujukan-rujukan korban prioritas,pemberian pendidikan darurat,penyelenggaraan dapur umum lapangan untuk pengungsi dan pendistribusian-pendistribusian.

Berdasarkan UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana adalah merupakan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dilaksanakan secara terencana,terpadu,terkoordinasi dan menyeluruh pada tahapan pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana.

Bupati didampingi Kepala BPBD KLU melakukan peninjauan pelayanan yang dilakukan oleh tiap-tiap cluster.Pada menit terakhir kejadian yang memporak-porandakan daerah Gili Trawangan dan sebagian Teluk Nara Pemenang Barat, setelah masa tanggap darurat dirasa cukup dalam masyarakat terdampak serta korban telah terkondisi dengan baik, maka Bupati menginstruksikan kepada Kepala BPBD selaku Komando Masa Tanggap Darurat untuk menyelesaikan masa tanggap darurat.Pada masa ini kegiatan yang dilakukan adalah dilanjutkan dengan Fase Rehab dan Rekon.

Dari seluruh rangkaian kegiatan gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami dengan melibatkan seluruh stakeholder baik ditingkat Kabupaten Lombok Utara maupun ditingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, dinilai sukses dan berhasil.Sehingga untuk kegiatan yang serupa pada tahun 2013 mendatang,Kepala BPBD Provinsi Husnudin berjanji akan menggelar di Kabupaten Sumbawa Barat. (Eko).

H.Edy Prayitno Menang Tipis Atas Adiknya Budi Hartono Dalam Pilkades Dangiang

Dangiang,(SK),--Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Dangiang salah satu desa diwilayah Kecamatan Kayangan dengan 7 orang calon, usai sudah, dengan kemenangan berpihak pada H.Edy Prayitno (428) mengungguli adik kandungnya Budi Hartono (422) dengan selisih tipis, yaitu 6 suara,Senin (10/12/2012).

Ketujuh orang calon Kepala Desa Dangiang (Sirajudin,Arsudin,Agus Sugeng Winarto, H.Edy Prayitno, Moh.Aripin, Moh.Fadli,S.Pd dan Budi Hartono) yang turut ambil bagian memperebutkan kursi Kepala Desa Dangiang yang lowong akibat, disamping kesandung kasus pidana uang palsu, juga karena masa jabatannya berakhir bulan Desember 2012 ini.

Dalam pemilihan Kepala Desa Dangiang ini terbagi menjadi 6 TPS dari 8 Dusun yang ada dengan jumlah wajib pilih 2.224 orang.Di Desa Dangiang ini, pemilihan Kepala Desanya boleh dibilang luar biasa.Karena yang bersaing memperebutkan kursi nomor satu di di desa itu adalah paman,keponakan dan saudara kandung sendiri.

Sebut saja Agus Sugeng Winarto yang dalam pemilihan Kades Dangiang ini menduduki nomor urut 03 bersaing ketat dengan dua orang keponakannya yaitu H.Edy Prayitno di nomor urut 04 dan Budi Hartono di nomor urut 07.Sedangkan calon yang lain seperti Moh.Aripin nomor urut 05 masih ada hubungan darah dengan Agus Sugeng Winarto yaitu family dekatnya, sementara Moh.Fadli,S.Pd yang berada di posisi nomor urut 06 juga iparnya dari Budi Hartono dan salah satu calon yang tidak ada hubungannya adalah calon nomor urut 02 Arsudin, karena calon yang berjenggot ini adalah penduduk asli daerah ini, yang dalam pemilihan Kepala Desa Dangiang, Senin (10/12/2012) hanya mampu merauf 220 (0,10 %) suara dari 2.224 wajib pilih.

Ketua Panitia Ahmad Afandi,S.Pd sesaat sebelum di gelarnya penghitungan suara yang di pusatkan di Kantor Desa setempat, mengajak seluruh warga Desa Dangiang untuk bersama-sama menjaga keamanan jalannya proses penghitungan suara agar lancar,aman,tertib dan terkendali.Afandi juga mengatakan sangat apresiasi terhadap masyarakat Dangiang yang telah memberikan suaranya di masing-masing TPS.

”Mari kita bersama-sama menantikan siapakah pemimpin desa ini untuk 6 tahun kedepan, karena hari ini adalah penentuannya,”ajak Afandi yang disambut aplaus tepuk tangan diikuti suara gemuruh dari masyarakat yang hadir membanjiri halaman Kantor Desa Dangiang yang ingin melihat dan menyaksikan proses penghitungan suara dari dekat.

Sementara itu, Camat Kayangan Tresnahadi dalam sambutannya mengatakan,apapun hasilnya dari proses pemilihan Kepala Desa Dangiang hari ini, harus kita terima dengan lapang dada karena ini adalah proses demokrasi. ”Siapapun yang terpilih, itulah Kepala Desa kita bersama,” tandas Tresnahadi.

Kepada masing-masing calon yang belum beruntung dalam proses Pilkades kali ini, Tresnahadi juga mengucapkan terima kasih atas partisipasinya meramaikan bursa calon Kepala Desa di daerah ini serta mengajak untuk bersama-sama mendukung dan membantu setiap program Kades terpilih dalam membangun desa ini pada tahap selanjutnya.

Hadir dalam proses penghitungan suara pada Pemilihan Kepala Desa Dangiang ini diantaranya Kabag Hukum,Kasi Pemdes Setda KLU,Kasat Pol.PP KLU,Muspika Kayangan, Bakesbangpollinmas KLU dan seluruh warga Desa Dangiang serta beberapa warga dari luar Desa Dangiang dan bahkan dari Kabupaten lain di NTB.

Dalam proses awal dimulainya penghitungan suara oleh Panitia Pilkades, memang sudah terlihat kemenangan sudah mengarah pada H.Edy Prayitno.Buktinya, dari kotak TPS 1- 3 (Kebun Kunyit,Dangiang Barat dan Jelantik) yang sudah selesai dihitung, dirinya bersaing dengan calon nomor urut 01 Sirajudin (102),calon nomor urut 02 Arsudin (136), calon nomor urut 06 Budi Hartono (166), sementara H.Edy Prayitno yang berada di nomor urut 04 memperoleh (216) suara.Jadi masih unggul dirinya.

Proses penghitungan suarapun dilanjutkan ke TPS berikutnya yaitu TPS 4 Banten Damai.Usai penghitungan suara di TPS 4 ini pun H.Edy (256) masih unggul dari nomor urut 06 adik kandungnya sendiri Budi Hartono (251) dengan selisih suara yang sangat tipis yaitu hanya 5 suara,kemudian pada TPS 5 Dangiang Timur yang merupakan tempat tinggal semua calon, unggul Moh.Arifin (167),H.Edy (79),Budi Hartono (145),Sirajudin (75),Agus Sugeng W (13) dan Moh.Fadli (34), sementara calon yang asal Kebun Kunyit Arsudin hanya memperoleh 4 suara. Dari jumlah penghitungan suara mulai TPS 1 – 5 ini unggul Budi Hartono (396) mengungguli kakaknya H.Edy Prayitno (335) dengan selisih 61 suara.

Ketika mulai penghitungan kotak terakhir yaitu TPS 6 Serimbun, setidaknya ada 4 calon yang bersaing dalam perolehan suara, yaitu Arsudin (62),H.Edy Prayitno (93),Moh.Aripin (49) dan Budi Hartono (26).Di TPS inilah penentuannya. Hingga akhirnya,Budi Hartono yang hanya mampu meraih suara 422 pada penghitungan suara terakhir itu, harus mengaku kalah pada kakaknya H.Edy Prayitno yang menang 428 suara, dengan selisih suara tipis hanya 6 suara.

Dari seluruh hasil perolehan penghitungan suara terakhir dari semua calon dari 2.224 jumlah pemilih adalah Sirajudin nomor urut satu raih suara 247 (0,11 %) suara,Arsudin di nomor urut dua raih suara 220 (0,10 %),Agus Sugeng Winarto di nomor urut tiga raih 25 (0,01 %) suara,H.Edy Prayitno di nomor urut empat raih suara tertinggi 428 (0,19 %),Moh.Aripin di nomor urut lima raih 391 (0,18 %),Moh.Fadli,S.Pd di nomor urut enam hanya mampu raih 41 (0,02 %) suara dan Budi Hartono di nomor urut tujuh raih 422 (0,19 %) suara.

Budi Hartono ketika ditanya komentarnya sesaat setelah proses penghitungan suara usai mengatakan, itu tidak masalah, toh juga yang menang kakak saya.”Jadi ini merupakan kemangan keluarga, saya akan tetap berada pada posisi saya selaku Kadus Dangiang Timur dan akan membantu kakak saya dalam memimpin desa ini untuk 6 tahun kedepan,”janjinya.(Eko)

Gelar Geladi Lapang Gempa Bumi Berpotensi Tsunami KLU, Dinilai Berhasil

Pemenang,(SK),-- Berdasarkan UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana adalah merupakan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh pada tahapan pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana.

Dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang peranan, fungsi dan tugas pokok serta prosedur yang dilakukan dalam upaya penanggulangan bencana, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi NTB,Sabtu (08/12/2012) menggelar Geladi Lapang Gempa Bumi Berpotensi Tsunami di Kecamatan Pemenang, dinilai berhasil.

Geladi Lapang yang melibatkan seluruh stackholder pengambil kebijakan, baik ditingkat Kabupaten Lombok Utara maupun di tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, bersinergi sesuai dengan tugas dan peran masing-masing.

Refleksi geladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami yang diselenggarakan di Kecamatan Pemenang bil khusus di Gili Trawangan, Handoyo, selaku pihak yang mewakili Korem 162/WB Nusa Tenggara Barat menyatakan, kegiatan heboh yang menyedot perhatian dunia Internasional tersebut, diharapkan sebagai bahan evaluasi,koreksi dan masukan serta pembelajaran bagi seluruh stakeholder pengambil kebijakan di daerah ini dimasa mendatang.”Alhamdulillah, kita sudah bisa melaksanakan kegiatan ini dengan aman,”puji Handoyo.

Rasa syukur ini tentunya akan dijadikan pelajaran untuk diambil hikmahnya dan menjadi pembelajaran yang positif bagia para pemegang kebijakan kedepan.Karena kegiatan yang baru pertama kali di gelar di NTB khususnya di KLU untuk menjaga segala kemungkinan terjadi bencana alam serupa,sehingga seluruh stakeholder pemegang kebijakan di daerah ini betul-betul siap ketika terjadi bencana alam gempa bumi berpotensi tsunami sungguhan.

”Saya yakin, diantara kita yang hadir disini untuk menyaksikan bagaimana stakeholder berkoordinasi dalam gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami di Gili Trawangan Kecamatan Pemenang ini masih ada yang bingung,kita kerja apa,”katanya.

Sebagai gambaran tingkat keberhasilan pelaksanaan gladi lapang ini,Handoyo memaparkan secara sepintas yang telah dilaksanakan sejak persiapan sebelum gladi lapang ini digelar. Dimana persiapan pendahuluan sudah dilakukannya beberapa hari sebelumnya dengan melibatkan para pelaku, baik sebagai pemeran korban,petugas penyelamat,tenaga medis, siapa yang harus mengangkat korban dan mengevakuasinya dari gili trawangan menuju bangsal dan siapa yang melanjutkan ke posko penanganan selanjutnya.Termasuk bagaimana bala bantuan berdatangan dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait, baik yang ada di tingkat Kabupaten maupun yang ada ditingkat Provinsi.Semuanya itu,kata Handoyo, sudah dikondisikan sebelumnya.”Jadi inilah yang kami persiapkan pada saat gladi awal,bukan gladi lapang yang hari ini pelaksanaan prakteknya,”tandasnya.

Sepintas Handoyo menjelaskan kronologi yang dilaksanakannya dalam gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami di Gili Trawangan Kecamatan Pemenang KLU ini. Dimana dalam gladi ini diperkirakan telah terjadi gempa bumi yang berkekuatan 7,5 SR dengan kedalaman 25 km yang berpusat di 115”,58 20,005’ BT, 8”11’55,436’ LS atau 16,8 km sebelah utara Gili Trawangan sekitar pukul 09,15 Wita yang dirasakan oleh masyarakat NTB, yang memungkinkan terjadinya tsunami.

Dari Badan BMKG akan menginformasikan secara menyeluruh dan berantai.”Kami yang berada di aparatur Pemerintah,HP-HP yang telah teridentifikasi mendapatkan informasi tersebut, baru dari Bapak Gubernur NTB atau secara hirarki dari Kepala Desa lapor ke Camat,kemudian Camat lapor ke Bupati dan Bupati lapor ke Gubernur, bahwa telah terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami di daerah kita ini (Gili Trawangan),”terang Handoyo.

Dari sini kemudian ditentukan bahwa di daerah tersebut perlu ada penanganan tanggap darurat. Selanjutnya seluruh stakeholder yang ada di Kabupaten maupun yang ada di Provinsi sudah membentuk cluster-cluster yang sudah ditentukan organisasinya.Secara otomatis aparat Pemerintah Sipil,TNI/POLRI dan organisasi masyarakat lainnya yang sudah terbentuk menggabungkan diri untuk siap melakukan penanganan.Setelah itu ada petunjuk telah diberlakukan tanggap darurat sehingga seluruh komponen yang telah terbentuk dan menggabungkan diri tersebut, siap berangkat menuju lokasi tanggap darurat untuk melaksanakan penanganan.

Setelah sampai dilokasi tanggap daruat, maka cluster-cluster dan organisasi masyarakat lainnya itu dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama bertugas mendirikan tenda cluster-cluster dan bagian kedua cluster sesuai tugas berangkat menuju lokasi penanganan.Jika ada korban, diangkat,di evakuasi dan dibawa ke Posko untuk mendapatkan penanganan medis selanjutnya.

Baru aparat daerah ditingkat desa seperti Babinsa, Babinkamtib menghimbau masyarakat untuk berkumpul di satu titik untuk kemudian di evakuasi ke tempat aman.Bagi mereka yang masih hidup perlu diamankan dan bagi yang sudah meninggal ada tim evakuasi yang berangkat membawa ke tempat evakuasi medis.”Inilah gambaran awal sebelum dilaksanakannya gladi lapang.Hingga disini belum terlihat dan tergambar kegiatan itu, sehingga perlu digelar gladi lapang,”terang Handoyo.

Tetapi, kata Perwira Menengah di jajaran Korem 162/Wb ini mengatakan, setelah seluruh tim yang tergabung dalam cluster-cluster melaksanakan sesuai dengan tufoksinya saat gladi awal dan sudah dilaksanakan gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami sesungguhnya pada hari Sabtu (08/12/2012) itu, baru tergambar sedikit. ”Tidak apa-apa,”katanya.

Diakuinya, memang dari sini pihaknya bersama seluruh stakeholder yang terlibat dalam dalam gladi tersebut mulai belajar, mulai koordinasi dan dari sini pula mulai bagaimana memberikan pemahaman kepada seluruh aparatur daerah termasuk dinas instansi terkait untuk membangun koordinasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa seperti itulah gambaran sedikit bagaimana upaya penanganan dari petugas, termasuk para relawan dari masyarakat bergabung untuk menangani terhadap para korban dilapangan terkait dengan terjadinya bencana alam sesungguhnya.

Yang lebih penting dari tujuan digelarnya gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami ini adalah keinginan dari para pemegang kebijakan di daerah ini dapat memberikan pemahaman terhadap para wisatawan bahwa daerah NTB umumnya dan daerah KLU khususnya ini aman untuk di kunjungi.

“Hari ini sudah kita laksanakan,terima kasih atas kerjasama dan koordinasinya, karena masih banyak hal yang harus kita belajar, tetapi minimal hari ini kita dapat sentuhan dari Pemerintah mulai dari pelaksanaan gladi lapang kali ini.Hal ini menjadi kesempatan bagi KLU untuk memberi pembelajaran dan bisa melakukan memberikan pemahaman antar instansi, antar bagian untuk membangun kerjasama,”urai Handoyo.

“Setidaknya hari ini kita memulai untuk siap menanggulangi bencana dan kita sama-sama berdo’a dan Insya Allah di tempat kita ini tidak ada bencana,”ajak Handoyo kepada seluruh tim yang terlibat dalam gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami di Kecamatan Pemenang KLU.

Kepala BPBD Provinsi NTB Husnudin Al Rasyid dalam sambutannya sesaat sebelum menutup secara resmi gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami tersebut mengatakan, Alhamdulillah kegiatan yang sudah di gelar sejak pagi hingga siang ini patut di acungi jempol, karena tidak ada satupun yang tidak terlibat dalam gladi ini.Apalagi katanya, anggota masyarakat yang memposisikan diri sebagai korban, itu luar biasa.Ini adalah yang pertamakali digelar di KLU selama pisah dengan Lombok Barat.

Dikatakan, lambang segi tiga biru yang merupakan lambang BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) memiliki arti yang luar biasa.Segitiga sudut puncak melambangkan Pemerintah, sudut kiri adalah masyarakat dan sudut kanan bawah adalah lembaga dunia usaha.Semua itu pada waktu gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami tersebut berperan.

Wabil khusus, Husnudin menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat yang terlibat langsung memposisikan diri sebagai pemeran korban.”Ini luar biasa, kami sampai merinding melihat ekspresi wajah betul-betul nyata seperti kejadian yang sesungguhnya, ”puji Husnudin, sambil menyatakan andaikata ada sutradara pembuat film, tentu mereka ini bisa masuk sebagai pemeran utama, pembantu maupun figuran.

Husnudin juga memuji atas kerja sama semua pihak yang terlibat dalam gladi lapang tersebut yang sejak pagi hingga siang itu patut di acungi jempol.Karena tidak ada satupun yang tidak terlibat.Ini adalah yang pertama kali dilakukan di Lombok Utara selama Kabupaten ini ada.”Mudah-mudahan pada tahun 2013 mendatang kegiatan serupa akan di gelar di Pulau Sumbawa, khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat.

Alhamdulillah, kegiatan gladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami diwilayah Tioq Tata Tunaq ini, semua stakeholder yang terlibat telah bekerja sama denganh baik, sehingga kegiatan yang menyedot perhatian dunia Internasional ini bisa dikatakan berhasil. Buktinya, dalam simulasi tersebut dihadiri langsung dari perwakilan Negara Amerika Serikat.Ini menunjukkan bahwa perhatian dunia Internasional terhadap keberadaan Gili Trawangan tersebut sudah mendunia.Karena antara Pemerintah,masyarakat dan dunia usaha telah melakukan koordinasi, tugas dan fungsinya dengan baik.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, satu hal yang sangat penting adalah sudah tercipta silaturrahim diantara seluruh stakeholder pengambil kebijakan dalam kegiatan yang berdasarkan arahan Presiden RI tentang Penanggulangan Bencana dilaksanakan di KLU.”Insya Allah apa yang telah kita lakukan pada hari ini akan tercatat sebagai amal baik kita masing-masing,”tutup Husnudin.(Eko)

Sabtu, 08 Desember 2012

Geladi Lapang Gempa Bumi Berpotensi Tsunami KLU, Dibuka Resmi Sekda KLU

Pemenang,(SK),-- Dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang peranan,fungsi dan tugas pokok serta prosedur yang dilakukan dalam upaya penanggulangan bencana, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi NTB,Sabtu (08/12/2012) menggelar Geladi Lapang Gempa Bumi Berpotensi Tsunami di Kecamatan Pemenang.

Geladi Lapang tersebut melibatkan seluruh stackholder pengambil kebijakan, baik ditingkat Kabupaten Lombok Utara maupun di tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat.Hadir dalam acara ini Bupati KLU yang diwakili Sekda KLU, Danrem 162/Wb,Kapolda NTB, Danlanal, Danlanud,Basarnas,Perwakilan Negara Amerika Serikat, Kepala BPBD KSB, Sumbawa, Camat dan instansi terkait lainnya.

Kepala BNPB Provinsi Nusa Tenggara Barat Husnudin Al Rasyid dalam pengantarnya mengatakan,sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, pagi Sabtu (08/12/2012) ini kita berlatih bersama. Rencana latihan geladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami ini adalah puncak dari apa yang disebut dengan pengurangan resiko bencana.Dimana perintah penanggulangan bencana yang dilaksanakan di KLU ini merupakan tindak lanjut dari perintah Sekjen PBB Banki Moon kepada Bapak Presiden Republik Indonesia bulan November 2011 lalu di Bogor.”Ini adalah perwujudan daripada global campion, karena di dunia ini baru dua orang yang memiliki itu, yaitu Wakil Presiden AS dan Presiden Indonesia,”urai Husnudin.

Untuk itu kita bangsa Indonesia harus terus memperjuangkan ini, karena pengurangan resiko bencana itu adalah jawaban kita kepada masyarakat maupun kepada masyarakat Internasional. Pada kesempatan itu, Husnudin juga menjelaskan bahwa geladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami tersebut di fokuskan ke penyelamatan di daerah wisata gili trawangan KLU. Hal ini adalah atas instruksi Bapak Presiden RI pada tanggal 16 April 2012 di Istana Bogor kepada Jenderal TNI Syamsul Ma’arif untuk diadakan latihan bersama, sehingga di pilihlah Lombok Utara ini sebagai lokasi latihan bersama itu, karena KLU sudah dikenal mendunia.

Untuk itu, katanya, inilah jawaban kita kepada para wisatawan yang berkunjung ke daerah kita, bahwa jangan segan-segan atau jangan khawatir akan datang ke tempat ini (tiga gili = trawangan,Meno dan gili air).
Pada kesempatan geladi kali ini, seluruh undangan dan para stackholder pengambil kebijakan yang hadir dapat menyaksikan secara langsung bagaimana bentuk koordinasi, yang orang bilang koordinasi gampang di ucapkan, sekarang inilah waktunya untuk di praktekkan, serta bagaimana institusi yang ada di KLU ini mengadakan penanggulangan bencana dan bisa berkoordinasi dengan lembaga-lembaga atau institusi-institusi yang ada di Provinsi NTB.

“Insya Allah, setelah sukses di daerah ini, pada tahun 2013 mendatang, kegiatan serupa kita akan gelar di Kabupaten Sumbawa, ”tandas Husnudin.

Gelar geladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami di Kecamatan Pemenang kali ini disiarkan langsung oleh Orari daerah NTB ke 33 Provinsi seluruh Indonesia dan bahkan ke Erofa untuk disiarkan ke Negara lainnya. ”Mudah-mudahan mereka mendapatkan kabar yang positif mengenai daerah kita ini,”imbuhnya.

Sementara itu, Sekda KLU Drs H.Suardi,MH yang mewakili Bupati KLU yang berhalangan hadir dalam sambutannya sekaligus membuka secara resmi gelar geladi lapang gempa bumi berpotensi tsunami di Kecamatan Pemenang mengatakan, jika berbicara bencana, tentu tidak terlepas dari senang, susah, bahagia akibat yang ditimbulkannya.Tetapi tentu semua itu tidak di inginkan.

KLU dari sisi tofografisnya masuk ke dalam daerah rawan bencana.Disamping itu,KLU ini juga masuk ke dalam leks Lombok yang merupakan destinasi dari pariwisata Internasional dengan tiga pulau ini.Oleh sebab itu, kegiatan yang sifatnya mengglobal ini, selaku Pemerintah Daerah, Sekda Suardi berharap, dengan penyampaian informasi kepada dunia pariwisata harus yang positif karena ini memang sedang berlatih untuk berjaga-jaga ketika terjadi bencana sungguhan.Sehingga ketika terjadi bencana alam yang sungguhan, siapapun yang datang ke KLU ini tidak akan takut.

Diakuinya, bahwa daerah pariwisata seperti yang ada di daerah tioq Tata Tunaq ini sangat riskan terhadap informasi-informasi yang kurang bagus.Jangankan menyangkut soal orang, soal binatang pun yang disampaikan juga diperlakukan tidak bagus, sehingga berpengaruh pula terhadap kehidupan kepariwisataan.Hal inilah yang menunjukkan keseriusan Pemerintah,baik Pemda KLU,Provinsi NTB maupun Pemerintah Pusat dalam hal penanggulangan bencana, menjaga bagaimana keselamatan penduduk atau orang-orang yang datang ke daerah ini khususnya dan ke Indonesia umumnya.

Alhamdulillah, kami dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara mengucapkan terima kasih kepada Kepala BPBD Provinsi NTB, karena telah memilih daerah kami Dayan Gunung ini sebagai lokasi perhelatan di gelarnya Geladi Lapang Gempa Bumi Berpotensi Tsunami.

Mudah-mudahan dengan simulasi yang di gelar kali ini dan medan berat yang dibuat sedemikian rupa dengan melibatkan para aktor siap sebagai pelaku dari korban bencana warga Gili Trawangan.Sehingga pengalaman dan apa yang di hajatkan dari simulasi ini, tentunya dapat di raih dengan bagus.

Suardi juga menegaskan, dengan di gelarnya kegiatan dimaksud adalah wujud dari kesiapan kita, kita tidak main-main, kita serius dan bagaimana keseriusan kita untuk melindungi masyarakat dari hal-hal yang tidak kita inginkan. ”Ini betul-betul kita harus menyiapkan diri, karena yang namanya bencana situasinya tidak jelas,”katanya.

Karena kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh komponen, maka diperlukan adanya satu-kesatuan gerak langkah yang positif yaitu dengan selalu menjalankan koordinasi dalam segala hal.Oleh karena itu, dari rencana yang sudah sekian lama dipersipakan ini, maka sekaranglah waktunya untuk di praktekkan, sehingga jelas siapa melakukan apa,dimana,kapan dan lain sebagainya.

Usai memberikan sambutannya, Sekda Drs H.Suardi,MH membuka secara resmi Geladi Lapang Gempa Bumi Berpotensi Tsunami di Kecamatan Kayangan dengan melibatkan seluruh elemen stackholder pengambil kebijakan, baik tingkat Kabupaten Lombok Utara maupun tingkat Provinsi NTB.Ikut ambil bagian dalam gelar gelada ini diantaranya tim SAR TNI,Basarnas,Tagana,TRC,LSM dan Dunia Usaha.(Eko).

Jumat, 07 Desember 2012

Kelembagaan Adat Wet Sesait menjadi Pilot Projeck Bank Dunia

Kayangan,-- Dijadikannya system Kelembagaan Adat Wet Sesait kab. Lombok Utara sebagai Pilot Projeck (Proyek Percontohan) oleh Bank Dunia dalam hal system tata kelembagaan Adat berdasarkan hasil pantauan dan penelitian awal terhadap keberadaan dan fungsi sosialnya yang masih utuh.serta masih diakui oleh Komunitas Masyarakat wet Adat Sesait.
Hal ini diakui oleh Juru Tulis (Sekretaris Jendral, red) Pembekel Adat, Masidep, S.Pd. yang biasa disafa amaq Masi mengungkapkan kepada Suarakomunitas, saat ditemui di Bale Pesanggrahannya Kamis Siang (01/12), bahwa keinginan Bank Dunia untuk menjadikan Kelembagaan Adat Wet Sesait sebagai Pilot Projeck telah disampaikan beberapa kali kepada kami, bahkan dalam rangka itu kami telah di undang dalam kegiatan-kegiatan seminar maupun work shop di Hotel Lombok Raya Mataram. 

Ia juga menjelaskan tentang beberapa hal yang menjadi focus kajian Bank Dunia terkait pranata Adat dan pranata social budaya, diantaranya system social Komunitas Masyarakat Adat Sesait, Sistem Kelembagaan Adat dan Awik-awik (aturan hukum, red) baik yang tertulis maupun yang tidak.

Untuk diketahui, sambung Amaq Masi, ada beberapa Norma Adat yang dijadikan pedoman hidup Komunitas Masyarakat Adat Sesait, yaitu pertama, Adat Luir Gama (Norma Agama) sebagai Sumber Pedoman Utama. Kedua, Adat Tata Krama yang di dalamnya juga mengatur tentang Aji Krama atau Adat Pemulangan (Pernikahan). Ketiga, Adat Tapsila atau Norma Sopan Santun dan Kesusilaan.

Ketiga norma Adat tesebut menganut hubungan Hirarkis yang merupakan satu kesatuan utuh, tidak bisa terpisahkan satu dengan lainnya dalam penanganan ataupun penyelesaian persoalan yang ada ungkapnya. Lanjut Amaq Masi ketiga Norma Adat tersebut masing-masing terdiri dari beberapa bagian dengan Dosa Angkatan dan lambang tersendiri baik itu yang berkaitan dengan kasus Pidana maupun perdata.

Untuk dimaklumi, butuh waktu satu bulan untuk mengupas sebagian dari system social dan kelembagaan adat komunitas masyarakat Sesait ungkap Amaq Masi sambil tertawa.

Sama halnya dengan Juru Tulis Pembekel Adat, Ketua Pembekel Adat, Amaq Suniarni Degoh kepada suarakomunitas saat dikonfirmasi di Bale Pesanggrahannya Kamis malam (01/12). Ketua Pembekel Adat yang akrab disafa Amaq Degoh membenarkan apa yang dikatakan Juru Tulisnya bahwa Bank Dunia sedang menjajaki Komunitas-komunitas Adat untuk dijadikan proyek percontohan. Terkait dengan Komunitas Adat Sesait sebagai pilot projek untuk saat ini belum ada kesepakatan yang jelas dengan pihak Bank Dunia.

Menurut Bank Dunia, ungkap Amaq Dedog Dalam hal adat istiadat Sesait memang paling layak untuk dijadikan sebagai pilot projek mengingat Komunitas Masyarakat Adat Sesait masih mengakui dan mempertahankan tradisi leluhur. Setiap pelaksanan Ritual Adat yang diupusatkan di Kampu Sesait dan Masjid Lokak (masjid kuno, red), masyarakat dari berbagai penjuru berbondong-bondong mengikuti pelaksanaan Ritual adat.

Ia juga menjelaskan Luas wilayah Sesait berdasarkan Kara-Kara (Kitab Sejarah, red) memiliki batas-batas yaitu batas sebelah barat laut adalah Dangar Duh (Pohon Kayu Dangar, red) yang berada di Tanak Song Desa Jenggala Kec. Tanjung. Batas Sebelah Timur laut adalah Ketapang Sejolo Dusun Tampes Desa Selengen Kec. Kayangan. Batas sebelah tenggara adalah Lokok Tangkok areal Hutan Lindung dan Hutan Taman Nasional Gunung Rinjani dan sebelah Barat Daya adalah Punikan sebelah utara Kecamatan Lingsar Lombok Barat.

Namun, lanjut Amaq Degoh, seiring perkembangan Zaman dan pada era Orde Baru muncul kebijakan Penyeragaman system Pemerintahan Desa yang mengakibatkan terjadinya pemecahan wilayah Komunitas Adat menjadi tiga bagian wilayah adat dan beberapa Desa.

Untuk saat ini, sambungnya, ada empat Desa yang tetap memusatkan pelaksanaan Ritual Adat di pusat budaya (Kampu) yaitu : Desa Sesait sebagai Desa Induk dengan kepala Pemerintahan bergelar Pemusungan, Desa Pendua dengan kepala Pemerintahan adalah Kepala Desa, Desa Kayangan dengan Kepala Pemerintahan adalah Kepala Desa dan Desa Santong dengan Kepala Pemerintahan adalah Kepala Desa dimana keempat Desa tersebut berada di Kec. Kayangan Kab. Lombo Utara.

Menurut Amaq Degoh bahwa semua Kegiatan-kegiatan Ritual berpedoman kepada ajaran Agama Islam, misalanya pada saat pelaksanaan ritual Aji Makam “Pulek Taon Lakok Balit (pergantian musim Hujan ke Kemarau) dan Pulek Balit Lakok Taon, semua prosesi bernuansa keagamaan seperti mengaji sampai namatang (tamat) sebungkul (30 Jus) Al-Quran di Masjid Lokak yang dipimpin oleh Lokak Empat (Empat Orang Tua dalam System Kelembagaan Adat, red) yaitu Mangku Bumi, Pemusungan, Pengulu dan Jintaka. Demikian pula dalam ritual Ritual Adat lainnya, misalnya dalam pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW selama tiga hari tiga malam juga dipusatkan di dalam Kampu dan Masjid Lokak (Kuno).
Sementara itu tokoh Masyarakat Adat Lombok Utara Djekat, S.sos. menyambut baik keinginan Bank Dunia untuk menjadikan Sesait sebagai Pilot Projeck dalam hal tata kelembagaan adat. Tokoh kharismatik yang juga Pendiri Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ini mengungkapkan bahwa kepercayaan Bank Dunia adalah moment bagi kami untuk menjelaskan tentang kebradaan Masyarakat Adat yang sesungguhnya karena selama ini muncul stigma yang kurang bersahabat terhadap keberadaan komunitas masyarakat adat. Misalnya istilah Waktu Telu yang sering disalah pahami oleh sebagian orang. 

Waktu telu sering dikonotasikan dengan ajaran sesat dan menyimpang dari ajaran agama Islam padahal tidak demikian, buktinya kami memiliki Kitab Al-Quran cetakan pertam pada zaman Turki Usmani dan masih banyak lagi benda-benda bersejarah peninggalan Para Wali di dalam Kampu Sesait, ungkap bapak Djekat sambil menyudahi pembicaraan karena ada acara keluarga yang harus dihadiri.(Eko).

Situs Ai Renung Peninggalan Masa Silam Sumbawa

Sumbawa,(SK),-- OBYEK wisata di Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tidak cuma laut. Peninggalan sejarah dan purbakala agaknya perlu ditengok.

Sebutlah sarcophagus atau kubur batu, di mana mayat manusia disimpan. Tinggalan budaya megalitik ini berada di Situs Ai Renung, Dusun Ai Renung, Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, sekitar 35 kilometer selatan Sumbawa Besar. Ai berarti air, dan renung adalah pohon kapuk. Air itu keluar dari pohon kapuk sekaligus jadi sumber air minum bagi penduduk.
"Itu dulu, sekarang airnya cuma netes," kata Anwar (55), penjaga situs. Tumbangnya pohon kapuk disertai degradasi lingkungan hutan, menjadikan sumber air itu tinggal kenangan. 

Situs ai renung adalah situs pertama yang ditemukan di Kabupaten Sumbawa. Penemunya adalah Dinullah Rayes dari kabin kebudayaan kabupaten Sumbawa tahun 1971 bersama Drs. Made Purusa dari Balai Arkeologi Denpasar serta tenaga ahli dari pusat Arkeologi nasional yang melakukan penelitian pertama. Pada penelitian pertama ditemukan hanya tiga buah sarkopagus, lalu setelah dilakukan peneitian yang berkelanjutan, sampai saat ini sudah ditemukan tujuh buah sakopagus (kuburan batu).

Disebut situs Ai renung karena berada dikompleks persawahan Ai-renung dekat kampung Ai-Renung (waktu itu). Seluruh lokasi tersebut berada dalam wilayah Desa Batu Tering Kecamatam Moyohulu.

Setelah dilakukan pemugaran, situs Ai-renung sebenarnya sudah dapat di jadikan obyek wisata budaya. Tetapi tersebab tidak ditunjangnya dengan pembangunan jalan raya ke lokasi situs, maka obyek menjadi jarang dikujungi orang. Tetapi tidak jarang juga para mahasiswa dan peneliti asing datang ke Ai-renung, lebih-lebih mahasiswa arkeologi. Padahal lokasinya sangat memungkinkan untuk di kembangkan menjadi obyek wisata, baik wisata budaya, alam(wana-wisata), camping dan lain-lain.

Untuk datang ke Ai-Renung yang berjarak 5 km dari Batu tering (30 km dari Sumbawa besar). Sebelum memasuki gerbang desa Batu Tering, ada simpang jalan ke kanan arah selatan. Dari itu jalan kaki sejauh 5 km yang ditempuh selama 1 sampai 1,5 jam. Bagi yang nekad boleh saja naik motor karena jalan menanjak dan berbatu-batu, namun kendaraan tidak boleh di bawa masuk ke lokasi situs Karena akan mengganggu kelestarian benda-cagar budaya.

Dari Sumbawa Besar ke situs itu, sejauh 30 kilometer bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua, sisanya enam-tujuh kilometer berjalan kaki selama dua jam, atau empat jam pergi-pulang. Jalan yang dilalui umumnya jalan perintis maupun jalan setapak. Agaknya kawasan itu masih berstatus hutan, meski terlihat satu-dua penduduk yang tengah merintis lahan untuk dijadikan kebun maupun sawah.

Kaki mesti dikuat-kuatkan melenggang, mengingat kondisi jalan yang naik-turun, berdebu, berbatu dan pandangan seakan digiring berhenti pada gugusan bukit. Hanya kesepian yang membungkus suasana perjalanan. Benak pun menyimpan tanya: benar atau salahkah jalan yang ke situs, sebab tidak ada terpasang tanda penunjuk arah ke situs.

Apa boleh buat hati dipaksa main tebak, karena banyak jalan bercabang. Keliru pilih jalan, tenaga bisa rontok sebelum sampai tujuan, apalagi medan tempuh yang menanjak. Sudah untung berpapasan dengan manusia dalam satu jam jalan kaki. Di kiri-kanan jalan membentang sawah tadah hujan yang kosong tanaman saat musim kemarau.

Kalau pun ada hiburan, mungkin datang dari cicit burung yang bermain di ranting pohon, atau suara kerotok (bahasa Sasak), sejenis assesori ternak di antaranya terbuat dari kayu. Bentuknya empat persegi, bagian tengahnya melengkung dan berongga yang didalamnya bergantungan kayu-kayu kecil. Alat ini dikalungkan pada leher kuda, sapi dan kerbau. Bak dentang suara musik, saat ternak ini bergerak, kalung itu mengeluarkan beragam bunyi yang saling bersahutan. 

Akhirnya setelah berjalan sekitar dua jam, sampailah ke lokasi sarcophagus. Kubur batu itu letaknya terpisah pada lima lokasi. Lokasi pertama terdapat dua sarkopag, yang satu unit bagian bawah dan penutupnya masih lengkap, yang satu unit lagi badannya sudah pecah dan penutupnya bergeser beberapa meter dari badannya.
Kondisi sarkopag yang tidak jauh berbeda (terpecah-pecah) terletak di timur laut dan utara (lokasi II, III) dari lokasi pertama. Satu sarkopag yang berlokasi di lereng sebuah bukit (lokasi IV), kemudian ada sarkopag ganda terdapat juga di lereng perbukitan tadi yang disebut Gunung Sangka Bulan. Diperlukan waktu 15-20 menit mendaki lokasi sarkopag yang terakhir disebut.

Rata-rata pada peti mayat ini terpahat sejumlah ornamen seperti topeng, gambar biawak, manusia (perempuan) dalam posisi mengangkang dengan jenis kelaminnya menonjol, ada yang berdiri mengangkat dua tangan ke atas, ada pula dalam posisi tidur. Motif hias pada batu wadah mayat di Ai Renung, umumnya ditemukan pada wadah sama di tempat lain seperti di Besuki, Sulawesi, Sumba, dan Bali. Mungkin pola hias itu menggambarkan alam pikiran manusia saat itu yang umumnya tersebar di Nusantara.

Gambar alat kelamin, misalnya, melambangkan kesuburan. Binatang melata (kadal, biawak) merupakan simbolisasi hubungan alam arwah. Satwa itu "ditugasi" menjaga arwah si mati agar tidak diganggu kekuatan jahat dalam perjalanan ke alam arwah. Ada penelitian yang menyebutkan, kedua jenis binatang melata itu menduduki tempat penting dalam alam pikiran dan kepercayaan bangsa Indonesia dan Polinesia. Bahkan dianggap penjelmaan roh nenek moyang atau roh pemimpin suku guna melindungi keturunan/sukunya.

Wadah batu jasad manusia di Ai Renung (dinyatakan satu-satunya temuan di Indonesia dan dunia, yang menunjukkan tingginya peradaban manusia-Red), itu mengarah ke Gunung Sangka Bulan. Ini bisa jadi berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Prasejarah yang menganggap arwah berada di tempat yang tinggi.

Dalam buku Travel Guides East of Bali, From Lombok to Timor disebutkan, diperkirakan bangsa Austronesia yang pertama mendarat di Sumbawa tahun 2000 SM. Mereka memperkenalkan pertanian (cara bercocok tanam), sekaligus pionir agricultur di sana. Bukti kedatangan mereka ini ada di sebelah barat daya Desa Batu Tering berupa sarcophagus yang didekorasi dengan pahat, sebagai kubur kepala suku mereka. Diduga oleh para arkeolog bahwa zaman itu adalah kebudayaan megalitik (batu besar).

Kebudayaan megalitik yang berkembang pada zaman perundagian (babak akhir) Prasejarah Indonesia, menunjukkan pula adanya sistem sosial yang sudah mengenal adanya kepemimpinan. Pasalnya, hanya orang terkemuka dalam struktur sosial/kemasyarakatan yang mayatnya boleh disimpan dalam wadah batu itu.

Sembari menelusuri medan tracking dalam perjalanan pulang dari lokasi sarcophagus itu, selain muncul decak kagum akan karya cipta manusia masa silam, benak pun digoda sederet pertanyaan. Adakah masa silam Sumbawa dan manusia Samawa perjalanannya dimulai dari situ, jasad siapa dan ras manakah penghuni sarkophag itu. 

Adakah ras bangsa yang jasadnya terbaring dalam kotak batu itu, termasuk ras Mongoloid seperti halnya penelitian RP Soejono tahun tahun 1960-1964 yang menemukan sarcophagus utuh di Desa Cacang, Gianyar, Bali, yang didalamnya berisi si mati dari ras Mongoloid?  Entahlah, tugas para ahli arkeologi-lah untuk membuka kunci jawabannya. Yang jelas, tinggalan arkeologis ini menyimpan masa silam Sumbawa, yang bisa dijadikan media perekat emosi bagi etnis di Nusantara ini, di tengah isu krisis multidimensional yang mengarah pada disintegrasi bangsa.

Wajar penulis Lalu Mantja dalam buku Sumbawa Pada Masa Lalu, Suatu Tinjauan Sejarah mengatakan, "...Situs Ai Renung, Desa Batu Tering merupakan monumen sejarah, yang dapat dihayati oleh seluruh masyarakat dari generasi kini ke generasi selanjutnya, bahkan dapat membawa masyarakat untuk mengenal sejarah bangsanya secara ril, ke arah pembentukan watak dan kepribadian bangsa, membangkitkan keutuhan bangsa dan kesadaran nasional..." (rul)

Tingkatkan Profesionalisme Dewan Hakam STQ/MTQ, LPTQ Provinsi NTB Gelar Diklat

Mataram,(SK)--, Dalam rangka meningkatkan Profesionalisme para dewan Hakam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ). Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Gelar pendidikan dan latihan (Diklat) Perhakiman yang berlangsung Hotel Mataram Square sejak tanggal 26-29 November 2012.

Ketua LPTQ H. Nur, SH.MH, dalam Sambutannya pada acara pembukaan Diklat perhakiman ini mengatakan, Kegiatan Diklat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan profesionalisme para dewan hakam MTQ/STQ. Sukses atau tidaknya MTQ/STQ sangat tergantung dari kwalitas Dewan Hakam. Hakim harus memiliki sifat, jujur, adil, Obyektif, berwibawa, tidak tercela, Amanah, teliti, cermat dan bertanggung Jawab.

Dewan hakam STQ/MTQ harus menjadi contoh bagi hakim lainnya. “jangan sampai seperti hakim-hakim lainnya yang dapat disogok dan dicucuk. Dewan Hakam harus memiliki ilmu yang sesuai dengan bidang masing-masing. Kgiatan diklat ini adalah dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman dan ilmu tentang perhakiman. Katanya.

Ketua Panita Diklat Perhakiman ini Dr. Muhammad Subhan, MA. memberikan penjelasan bahwa,sebanyak 40 Orang peserta perrwakilan dari 10 kabupaten kota se-Nusa Tenggara Barat. Masing-masing kabupaten kota mengutus 4 orang peserta, 1 orang diantaranya adalah keterwakilan dari wanita. Sebagai pembicara maupun Narasumber dalam diklat ini, panitia menghadirkan para pakar Ilmu Alqur’an dan para pelatih Dewan Hakam Nasional dan Internasional. Diantaranya, Prof. Dr. KH.Ahsin Sakho, MA,Rektor IIQ Jakarta Dewan Hakam MTQ/STQ Internasional dan juga Pelatih Dewan Hakam Internasional. Prof. Dr. KH. Muhsin Salim, MA.Guru Besar Ilmu Alqur’an IIQ Jakarta Dewan Haka MTQ/STQ Internasional dan juga Pelatih Dewan Hakam Internasional.

Selain itu, Panitia Juga menghadirkan para Dewan Hakam MTQ/STQ Nasional Menjadi pelatih dalam Diklat ini. Diantaranya: Ust. TGH. Mustami’udin Ibrahim, SH. Ust.TGH. H. Fathul Aziz, Ust. TGH. Drs. H. Ramli Ahmad, M. Ap, Ust. DR. H. L. M. Zainuri, MA, Ust. H. L Nurul Wathoni, S.Pd.I, Ust. TGH. Kholid Nawai Ridwan, Ust.H. M. Zaini, SH, Ust. Basyirun M. Saleh, M.Si,Materi Diklat ini dititik beratkan pada bagaimana sistem penilaian dan tekhnik perhakiman STQ/MTQ pada berbagai bidang atau cabang yang dilombakan. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan diklat ini adalah meningkatnya pemahaman para dewan Hakam MTQ dan STQ. Sehingga dapat memberikan penilaian yang obyektif dan professional.

Sementara itu Salah seorang Dewan Hakam STQ/MTQ Kabupaten Lombok Utara, Ustzh.Hahratun Fajriah, S.Pd.I. yang pada kesempatan ini sebagai peserta Diklat Dewan Hakam, mengaku dengan kegiatan diklat ini mendapatkan peningkatan ilmu pengetahuan dari para pakar-pakar ilmu Alqur’andan semakin memantapkan pemahamannya dalam tekhnik perhakiman dan mekanisme penilaian STQ/MTQ.

Pada saat Diklat dirinya juga dijadikan sebagai dewan Hakam pada saat simulasi system penilaian. Zahratun satu bidang penilaian dengan dua orang hakim lainnya termasuk didalamnya Narasumber Atau Pembicara dalam diklat ini. Dan seorang TGH. Memberikan Tafsir Bahasa Indonesia.

Dalam penilainnya Zahratun Fajriah dapat dengan obyektif dan professional memberikan penilaian terhadaap peserta yang tampil dalam simulasi ini. Hasil Penilaiannya persis sama dengan hasil penilaian seorang Prof. Dr. Ahsin Sakho MA, selaku nara sumber dalam Diklat ini. Yaitu 92 poin

Sementara seorang TGH rekanan dalam memberikan penilaian cabang yang sama memberikan nilai yang jauh berbeda yaitu 72 Poin selisih interval adalah 20 poin. Kendati demikian masih dapat dikatakan cukup baik.

Diakhir kegiatan diklat ini Drs. H. Ramli Ahmad menyampaikan pesan-pesan kepada para peserta agr selalu meningkatkankan pemahamannya baik secara keilmuan pada bidang yang menjadi obyek penilaian maupaun system penilaian.

Sebagai tindak lanjut kegiatan ini, diharapkan para dewan hakam ini mengadakan pertemuan-pertemuan atau pollow up dari kegiatan diklat ini dengan mengadakan diskusi-diskusi sehingga ilmu yang diperoleh dari diklat ini dapat berkembang damn dapat dipertanggung jawabkan.

Kegiatan-kegiatan seperti ini dilakukan bukan khanya karena akan diselenggarakannya STQ/MTQ namun karena memang kewajiban kita untuk menuntut ilmu” katanya. (MTQ)