Senin, 31 Oktober 2011

Tradisi Nyongkolan, Budaya Unik Suku Sasak

Minggu, 25 September 2011 17:29

KLU, MataramNews -
Tradisi pernikahan masyarakat Desa Bentek terbilang unik dibanding kebiasaan perkawinan masyarakat di tempat lain di Kecamatan Gangga. Pasalnya, setelah beberapa proses dilalui, maka prosesi pernikahan digelar.
Keunikan terlihat saat peroses pernikahan yaitu, prosesi pernikahan dilakukan di atas berugak dan di kelilingi oleh kerumunan warga. Saat proses ijab kabul berlangsung, ketika pengantin laki membuat kesalahan, maka seketika itu warga akan ramai dengan teriakan soraknya, “tidak sah,” sorak para warga.
Tak heran jika prosesi ijab kabul ini sering diulang sampai tiga kali bahkan lebih. terkadang walaupun dalam pengucapan ijab kabul tidak terdapat satupun kesalahan, warga yang menonton pun masih tetap bersorak. Sehingga pernikahan yang sebenarnya sudah sah harus diulang kembali sampai semua warga berteriak mengucapkan kata “sah”.  Inilah salah satu keunikan prosesi pernikahan suku Sasak, khususnya di Kecamatan Gangga.

Setelah prosesi ijab kabul dilaksanakan, selang beberapa hari proses Nyongkolang digelar. Dalam perayaan ini pengantin wanita akan dibawa pulang ke rumah orang tuanya untuk pertama kali sejak prosesi penculikan dari rumahnya. Sebelumnya, dengan berpasangan dan diiringi oleh pengiring dan musik tardisional, pengantin pria dan wanita diarak dengan cara berjalan kaki menuju rumah pengantin wanita.
Prosesi Nyongkolan ini, untuk memberitakan kepada masyarakat bahwa pasangan pengantin telah melakukan sebuah prosesi pernikahan yang sah secara hukum agama ataupun hukum adat yang ada di masyarakat suku Sasak.

Begitu pula budaya yang dilakoni masyarakat San Baro Bentek. Misalnya, pada pernikahan Mustakim (San Baro) dan Nurul Hidayah (Bayan), pada Selasa (20/9/2011).  Dalam proses Nyongkolan mereka, kedua mempelai diiringi oleh musik tradisional asli setempat yaitu Gendang Beleq dan Kecimol. Pada saat musik ditabuh (dimainkan) langkah demi langkah dijalankan menuju rumah pengantin perempuan dengan ayunan barisan yang rapi biasanya tiga berbanjar.

Tidak jarang pada saat musik ditabuh sebagian pengiring berjoged ria dengan rasa kegembiraan yang tinggi disela-sela perjalanan. Setelah sampai  tujuan rombongan pengiring disambut dengan beragam macam jamuan tradisional oleh masyarakat Bayan.

Sesampai di rumah pengantin wanita, ia pun menangis histeris di kaki orang tuanya. Tangisan pengantin wanita ini disebabkan karena akan berpisah meninggalkan rumah orang tuanya. Setelah beberapa saat iringan pengantin pun kembali meninggalkan rumah pengantin wanita. (DJ)

Prosesi Pengukuhan Kyai di Lombok Utara

Senin, 17 Oktober 2011 14:46
MATARAMnews (KLU) - Seakan tak habis-habisnya berbicara dan mengungkap berbagai keunikan dan kearifan lokal yang dimiliki Lombok Utara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dayan Gunung. Satu lagi kearaifan lokal yang dimiliki daerah yang baru mekar ini, yaitu prosesi adat atau upacara pengukuhan kyai.  Lantas seperti apakah prosesinya, berikut liputanya.
FOTO: Proses pengukuhan Kiyai
Sabtu lalu, ratusan  masyarakat Dusun Karang Nangka Desa Sokong Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara menggelar prosesi pengukuhan kyai yang merupakan tradisi atau warisan leluhur yang selama ini masih terpelihara dengan baik.

Amaq Suardi adalah kyai yang dipilih oleh masyarakat dusun setempat setelah beberapa kali dilakukan musyawarah. Ia dinilai mampu menjadi panutan masyarakat, sehingga semua masyarakat sepakat memilih  dan mengangkat dia sebagai pengganti kyai yang  sebelumnya  yaitu Amaq Suarsah yang telah wafat beberapa waktu lalu.

Kyai merupakan tokoh agama yang memiliki tugas berat  dan peran yang sangat penting ditengah masyarakat untuk membina dan mengayomi umat. Uniknya tak seorang pun yang mecalonkan dirinya sebagai kyai melainkan dicalonkan, dipilih ditujuk langsung oleh masyarakat berdasarkan hasil mufakat.

Tak jarang hasil keputusan mufakat ditolak oleh orang yang bersangkutan (yang dipilih-red), namun berkat kesabran dan tekad dari semua lapisan masyarakat,  yang  bersangkutan pun bersedia menjadi salah satu pemangku amanah yang memiliki tangung jawab besar.

Meski secara tertulis  dan yuridis persyaratan sebagai seorang kyai atau pemangku amanah ini tidak diataur khusus, namun moral, ahlak, budi pekerti, ilmu yang baik merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki sesorang untuk mampu mengemban tugas mulia ini.

Jabatan kyai biasanya tidak memiliki batas waktu atau priode tertentu melainkan diangkat dan diberhentikan atas dasar dan keputusan semua masyarakat. Bahkan tak jarang para kyai disuatu tempat atau daerah melekat hingga seumur hidupnya.

Fajar Martha  salah satu warga setempat megatakan, tradisi ini merupakan warisan leluhur atau orang tua terdahulu yang tetap dilakukan sejak tahun 1972. Tradisi ini merupakan peninggalan nenek moyang  dan bukan dibuat-buat atau hanya sekedar efuria semata melainkan budaya yang harus tetap dipelihara dengan baik.

Hal serupa juga diungkapkan Datu Ciptawadi, salah satu pemerhati adat setempat, menurutnya , kegiatan ini tidak terlepas dai kebiasan atau pun adat istiadat masyarakat setempat yang memiliki nilai positif bahkan harus tetap dilestarikan sebagai budaya atau kearifan local yang memiliki nilai, makana dan filosofi yang tidak terlepas dari ajaran agama islam. “Agama dan adat tidak dapat dipisahkan, agama bersendikan adat, agama bertahtakan adat, “ungkpanya.

Dikatakannya, prosesi pengukuhan kyai diambil refrensi dari firman Allah, SWT surat An- Anal ayat 125 dan Al Imran 110 yang juga berlandaskan azas musyawarah dan mufakat. “Urusan agama, adat dan pemerintahan tidak dapat samakan, namun dilain sisi tidak dapat dipisahkan, “pungkasnya.(Ari)

Tokoh Adat Gelar Gundem Bahas Dugaan Aliran sesat

Selasa, 18 Oktober 2011 03:35
MATARAMnews, (KLU) - Seiring dengan adanya dugaan  menyebarkan aliran sesat (bedatuan) di wilayah wet adat Semokan Desa Sukadana yang melibatkan sebagian tokoh adat dan masyarakat, para tokoh adat, masyarakat, tokoh agama dan unsur pemerintah desa (17/10/2011) mengadakan gundem (pertemuan) adat di Telaga Longkak Desa Akar-akar kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.
FOTO: Tokoh Adat Gelar Gundem Bahas Dugaan Aliran sesat
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa sekelompok masyarakat yang melakukan pertemuan di rumah salah seorang kiyai adat di dusun Semokan terpaksa dibubarkan pemerintah desa dan masyarakat setempat, karena dinilai mengajarkan aliran sesat dengan mengaku sebagai keturunan leluhur presiden RI pertama, Soekarno.

Tokoh adat, Amak Nurana mengatakan, tujuan gundem  itu untuk mencari jalan keluar mengatasi isu yang berkembang seperti menyebarnya aliran sesat di wilayah adat Semokan. Selain itu gundem ini juga membahas, bahwa kedepanya para tetua-tetua  adat tidak saling menyinggung dalam menjalankan acara ritual agar tidak terjadi penyimpangan dari awik-awik adat yang sudah disepakati.

Sementara Kepala Desa Sukadana Sojati dalam sambutannya mengaku masalah bedatuan yang disebarkan oleh Inak Ramingen dan Pengikutnya sudah terjadi sejak 4 tahun lalu,  namun sampai saat ini belum bisa diselesaikan.

Dalam kesempatan gundem ini Jelas Kepala Desa Sukadana para tetua adat harus tegas menentukan sanksi-sanksi adat bagi yang terlibat dalam kasus bedatuan tersebut. Ketua BPD Desa Sukadana R. Nyakradi menambahkan dalam penyelesaian persoalan bedatuan/aliran sesat ini tidak bisa diselesaikan baik secara hukum adat, agama maupun oleh pemerintah, tapi harus diselesaikan secara bersama.

Gundem bersama itu menyepakati seperti yang dibacakan oleh Amak Lokak Tuak Turun bahwa penganut aliran sesat, Ramingen Cs akan diusir dari Desa Sukadana dan menghentikan segala bentuk kegiatanya. Untuk menyampaikan hasil gundem kepada Ramingen, Cs ditunjuk beberapa tokoh adat dan masyarakat.

“Kita sudah tunjuk beberapa tokoh adat untuk menyampaikan hasil kesepakatan gundem, yang bila tidak diindahkan, akan diambil tindakan tegas dengan cara mengusir mereka keluar dari desa Sukadana,” kata beberapa tokoh adat yang hadir.(Ari)

Gubernur Buka HKG-PKK, BKKBN Pusat Janji Berikan Perhatian Khusus KLU

Kamis, 27 Oktober 2011 15:02
MATARAMnews (KLU) - Sebagai Kabupaten termuda NTB, KLU dengan kasus Gizi buruknya dan 43,14 persen penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan, yang mengindikasikan IPM Kabupaten Lombok Utara tergolong masih rendah, selalu menjadi perhatian Pemerintah Pusat. Hal tersebut terungkap saat pencanangan Gerakan Hari Kesatuan (HKG) PKK KB-Kes Provinsi NTB yang dipusatkan di Halaman Kantor Bupati Tanjung KLU, Kamis (27/10/2011).

FOTO: Gubernur NTB saat memberikan bantuan Kepada TP PKK KLU
Pada Pencanangan HKG PKK KB-Kes yang dirangkai dengan penyerahan bantuan dan pameran hasil kerajinan, kreatifitas dan produk-produk olahan TP PKK KLU,  hadir Plt. Deputy KS/KP Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Drs. Safarudin Gumay MM, Dekan Pascasarjana Fakultas Kedokteran UGM Prof. Dr. Siswanto Agus Wilopo, Gubernur NTB Dr. KH. M. Zaenul Majdi, Ketua PKK provinsi NTB, Hj. Raudatul Zaenul Majdi, Bupati KLU H.Djohan Syamsu SH, Ketua PKK KLU, Hj. Galuh Djohan Syamsu, Wakil Bupati beserta ibu, ketua DPRD KLU Maryadi, S.Ag beserta segenap kepala SKPD provinsi dan KLU.

Dalam sambutannya Plt. Deputy KS/PK BKKBN, Drs. Saparudin Gumay MM mengungkapkan, bahwa kegiatan Bhakti Sosial HKG PKK yang akan dicanangkan hari ini oleh Gubernur merupakan bentuk partisifasi aktif penduduk dan TP PKK dalam upaya memecahkan permasalahan kependudukan. “Dalam bidang pengendalian penduduk sesuai dengan UU No 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan keluarga pasal 16, mewajibkan pada setiap penduduk untuk berperan serta dalam pembangunan kependudukan dan membantu mewujudkan perbandingan yang ideal antara perkembangan dan kualitas lingkungan,” tegasnya.

Dijelaskan, kondisi kependudukan Indonesia saat ini, setidaknya memiliki 4 masalah yang meliputi aspek kuantitas, kualitas, persebaran dan data kependudukan. Secara kuantitas jumlah penduduk Indonesia terbilang masih besar yaitu 237,6 juta jiwa, urutan ke 4 terbesar dunia dengan pertumbuhan 1,5 persen per tahun atau sekitar 3 juta setiap tahun. Secara kualitas Indonesia masih memiliki 13,3 persen atau 33 juta jiwa penduduk miskin dengan tingkat pendidikan, kesehatan dan daya beli penduduk masih rendah sehingga peringkat IPM Indonesia berada diurutan 108 dari 187 negara.

“Selain itu permasalahan penyebaran penduduk yang tidak merata juga menjadi problem bangsa kita, karena 58 persen diantaranya tinggal di pulau Jawa yang luasnya hanya 7 persen dari luas Indonesia, setiap kilo meter lahan di huni oleh 1.055 orang. Demikian halnya dengan data, informasi dan administrasi kependudukan Indonesia juga masih banyak permasalahan yang perlu di benahi serta pencatatan penduduk yang berkenaan dengan kelahiran, kematian, kedatangan dan kepergian belum bisa di lakukan dengan tertib, disiplin serta cermat sesuai ketentuan.

Pada kesempatan itu, Drs. Safaruddin Gumay MM,  memberikan apresiasi kepada TP PKK Provinsi dan PKK Kabupaten Lombok Utara atas prestasinya dalam mendukung program-proram pemerintah Pusat.
“Maka, berangkat dari permasalahan Kependudukan dan mengingat KLU sebagai Daerah Baru kami bersama Gubernur telah membuat MoU dengan Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran UGM dalam rangka meningkatkan Kapasitas SDM khususnya Profesionalisme tenaga kesehatan yang sesuai dengan standar Internasional,“ ucapnya.

Dikesempatan yang sama Gubernur NTB dalam sambutan singkatnya sangat mengapresiasi pemerintah Daerah KLU dan TP PKK Lombok Utara. Sebagai Daerah Baru, ungkapnya KLU telah berhasil melaksanakan pembangunan dengan baik. Namun demikian, sambungnya, Pemerintah Daerah jangan hanya fokus pembangunannya dibidang fisik semata, jauh lebih penting dari itu adalah pembangunan manusianya.

Tidak ada artinya gedung bertingkat sementara kualitas manusianya rendah, tegas gubernur. Selain itu Gubernur yang doyan Sate Ikan Tanjung ini juga menekankan pentingnya keberadaan PKK yang notabeneny sebagai wadah bagi ibu-ibu dalam menunjang program pembangunan khususnya pembangunan mental spiritual manusia sejak kanak-kanak, ungkapnya. Selanjutnya Gubernur langsung membuka kegiatan pencanangan HKG PKK yang ditandai dengan memukul Gong.

Sementara itu Dekan Pascasarjana FK UGM Prof. Dr. Siswanto Agus Wilopo saat jumpa pers membenarkan tentang MoU yang telah di buat bersama Gubernur. NTB dan KLU khususnya sebagai wilayah Destinasi Pariwisata perlu meningkatkan standar pelayanan kesehatan sesuai dengan standar Internasional, maka kaitannya dengan hal tersebut, ungkapnya, UGM memberikan kesempatan kepada daerah-daerah tertinggal khususnya KLU sebagai daerah baru yang memiliki potensi Wisata dan menjadi Destinasi Internasional untuk melanjutkan pendidikannya di UGM dengan perlakuan Khusus.

Mendengar hal tersebut Bupati KLU H. Djohan Syamsu SH, yang didampingi Wakil Bupati H. Najmul Akhyar SH.MH, langsung merespon dengan serta merta meminta jatah KKN Mahasiswa UGM di KLU.  Selain itu, Bupati KLU juga sangat berterima kasih kepada Pemerintah Pusat dalam hal ini Kepala BKKBN dan pihak UGM yang senantiasa terus memberikan bantuan demi mewujudkan KLU yang maju dan beradap.(Hamdan)

Jumat, 28 Oktober 2011

MTs Nurul Islam Kayangan Berduka

Kayangan, -- Hujan sehari yang mengguyur wilayah Kecamatan Kayangan, senin (17/10) lalu membawa petaka bagi keluarga besar MTs Nurul Islam Kayangan.

Pasalnya, ketika terjadi hujan lebat untuk pertama kalinya mengguyur wilayah Kecamatan Kayangan pada hari senin tanggal 17 Oktober 2011, membuat jalan raya menjadi licin. Sehingga keadaan ini membawa akibat yang vatal menimpa salah seorang siswa MTs Nurul Islam Kayangan yang melintas di jalan tersebut.

Siti Aminah (13) yang baru pulang dari pasar Sesait untuk membeli kebutuhan sekolahnya, sore senin,(17/10) sekitar pukul 17,00 wita, dengan berboncengan dengan temannya Rusmini (14) asal Sambik Jengkel.

Namun malang nasib keduanya, ketika melewati perbatasan Sesait-Kayangan, sekitar 50 meter memasuki wilayah Bagek Kembar, sepeda motor Jupiter MX yang dikendarainya terpeleset dan menabrak sebuah truck pengangkut beras.

Peristiwa naas yang menimpa Siti Aminah tersebut, membuat keluarga besar MTs Nurul Islam Kayangan berduka.

Menurut Kepala MTs Nurul Islam Kayangan Sumawadi,S.Pd mengatakan, kejadian yang menimpa siswinya tersebut membuat keluarga besar Madrasah Nika menjadi gempar. Pasalnya, siswi yang bernama Siti Aminah yang masih duduk di kelas VII MTs tersebut boleh dibilang lebih unggul dari teman-temannya yang lain.

”Dari segi wajah maupun prestasinya memang dia lebih unggul jika dibanding dengan temannya yang lain di kelasnya,”kata Sumawadi yang juga Penghulu Empak Mayong ini.

Saat melayat seluruh keluarga besar Ponpes Nurul Islam Kayangan dengan melibatkan siswa-siswi baik MA maupun MTs serta dewan guru hadir ke rumah duka. Pada kesempatan itu, dengan di pandu Kepala MTs Nurul Islam Kayangan membaca Surat Yasin dan dilanjutkan dengan zikiran.”Selamat jalan Siti Aminah, semoga amal ibadahmu diterima disisi Allah Swt, Amin,..” (Eko)

Selasa, 18 Oktober 2011

Pesona Alam Alami Tiu Bombong

KLU - Lombok Utara terkenal dengan obyek wisata air terjunnya yang alami dan eksotik, banyak dikagumi wisatawan domestik ataupun mancanegara. Air terjun yang satu ini, bisa dibilang belum begitu dikenal dari yang ada di Kabupaten termuda NTB ini. Air terjun “Tiu Bombong”, objek wisata yang masih sangat alami,  airnya yang jernih kebiru-biruan, menambah pandangan eksotik, air terjun dengan ketinggian 150 meter ini, terletak di Dusun Sempakok, Desa Santong, Kecamatan Kayangan, KLU.

Dalam penelusuran tim Suarakomunitas.net di lokasi air terjun Tiu Bombong ini, ternyata air terjun ini merupakan salah satu lokasi wisata yang tak kalah menarik dengan air terjun yang lain di KLU. Dengan panorama alam yang alami, sejuk dan indah, siapapun yang berkunjung akan merasakan kenyamanan tersendiri bagi pengunjungnya.
FOTO: Air terjun Tiu Bombong, di Dusun Sempakok, Desa Santong, Kecamatan Kayangan, KLU
Penasaran dengan pesonanya, tim Suarakomunitas.net menelusuri dengan mencari informasi lebih jauh dari warga yang berdomisili disekitarnya. Slamet, warga setempat memiliki cerita sendiri mengenai Tiu Bombong. Ia mengatakan air terjun ini membawa kesan eksotik tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya. Menurutnya, objek wisata ini belum begitu dikenal banyak orang sehingga efeknya sepi dari kunjungan wisatawan, Padahal, memiliki keasrian yang amat indah, dan sangat bangus untuk wisata refresing atau membuang kejenuhan bagi orang yang melepas lelah dengan kesibukannya.

Tiu Bombong agak berbeda dibanding objek wisata lain yang sejenis, sebab diapit oleh dua jurang terjal dengan rona-rona pepohonan yang hijau alami, membatasi wilayah Kecamatan Gangga dan Kecamatan Kayangan. Namun ia memiliki nilai jual tinggi dan potensi wisata yang potensial berkembang dengan pesat apabila mampu dikelola dengan baik pihak terkait untuk menopang roda perekonomian masyarakat.
Keterangan warga kepada Suarakomunitas.net soal Tiu Bombong mengatakan, bahwa air terjun ini memeiliki sejarah panjang.

Menurut salah satu warga, Melsah bercerita, dulu kala ada orang pemburu rusa melintas di air terjun ini, kebetulan ia dilihat penduduk setempat, lalu memberi tahu kepada sang pemburu bahwa di dalam air tiu bombong ada ikan tuna besar bertanduk dan bernapas. Si pemburu pun tak jadi menyebrang air tiu ini. Selang beberapa tahun kemudian, ada pedagang parang ingin menyebrang, wargapun memberi tahunya bahwa disitu ada ikan tuna besar bertanduk, tapi si pedagang tak percaya, si pedagangpun nekat menyeberang air tiu itu.  Saat sampai di tengah aliran air, ikan tuna pun keluar dan beradu dengan si pedagang. Pendek cerita, si pedagang dapat mengalahkan ikan tuna tersebut sehingga selamat sampai tujuan. Untuk mengenang peristiwa luar biasa ini, maka air terjun itu dinamakan Tiu Bombong.

Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi wisata ini jangan takut dan ragu karena jalannya bagus dan tak memakan waktu lama. Jarak tempuhnya kira-kira 16 km dari Tanjung dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Untuk sampai ketempat tujuan, ada dua jalan yang bisa di akses, yaitu bisa lewat Sidutan dan bisa lewat Sesait.Setelah sampai kita bisa meminta bantuan jasa guide lokal. Selamat menikmati panorama alam air terjun Tiu Bombong.(Sarjono)

Hujan di Kayangan , Jalan Licin Membawa Maut

Kayangan -- Untuk pertama kalinya wilayah Kecamatan Kayangan diguyur hujan membawa petaka.

Ketika terjadi hujan lebat pada hari Senin tanggal 17 Oktober 2011, jalan raya menjadi licin. Keadaan ini berakibat  fatal bagi Siti Aminah (13) salah seorang siswa MTs Nurul Islam Kayangan yang melintas di jalan tersebut.

Siti Aminah yang baru pulang dari pasar Sesait untuk membeli sepatu dan tas sekolah, sekitar pukul 17,00 wita, dengan berboncengan dengan temannya Rusmini (14)  warga Sambik Jengkel Desa Selengen Kecamatan Kayangan, ketika melewati perbatasan Sesait-Kayangan, sekitar 50 meter memasuki wilayah Bagek Kembar, sepeda motor Jupiter MX yang ditumpanginya terpeleset dan menabrak sebuah truck pengangkut beras.

Menurut kerabat dekat korban bernama Muhamad Zaen (48), Siti Aminah berada di belakang. Ketika terjadi peristiwa tersebut dia terpental dan masuk ke bawah truck yang secara kebetulan saat itu  sedang melintas dari arah utara hendak ke Santong. Sedangkan Rusmini yang berada didepan tergerus dan tertendes oleh sepeda motornya sejauh 10 m.

Kedua korban kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Namun malang bagi  Siti Aminah, setelah tiba di Puskesmas Kayangan tidak bisa ditangani karena  terlalu parah, sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Tanjung.

“Setelah beberapa saat ditangani pihak rumah sakit, nyawa Siti  Aminah tidak tertolong dan sekitar pukul 19,00 wita, Siti Aminah menghembuskan nafas terakhir,” kata M.Zaen sedih.

“Sedangkan Rusmini  tidak terlalu parah dan masih dirawat di Puskesmas Kayangan,” tambahnya.

Selanjutnya jenazah Siti Aminah dibawa pulang dan dimakamkan di pemakaman umum dusun Jelantik, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Selasa (18/10) pukul 15.00 wita.

Menurut Kapolsek Kayangan Komang Sugatha, ketika dikonfirmasi tentang peristiwa tersebut membenarkan. “Berkasnya sudah kita limpahkan ke Polres Lombok Barat untuk proses hukum selanjutnya,” katanya.(Eko)