Jumat, 11 Maret 2011

Penyebar Islam di Gumi Sesait, Asingkan Diri ke Gawah Alas Bana (9)

SESAIT, -- Tersebarnya ajaran Islam di Gumi Paer Sesait adalah tidak terlepas dari peran para wali yang datang dari Timur Tengah (Bagdadh) sekitar abad 14 hingga abad 17.

 Para pembawa dan penyebar Islam ini sengaja meninggalkan jazirah arab, dalam rangka membawa  amanah yang sangat mulia berupa risalah ajaran Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw untuk seluruh ummat manusia.

Para penyebar Islam yang pernah singgah dan menetap di Gumi Paer Sesait ini, menurut Piagam Sesait (Kitab Muhtadi’) disebutkan yakni Syeh Abdul Kadir Jaelani, Sayyid Rahmad dan Sayyid Anom. 

Peran para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di Gumi Paer Sesait ini, sangat penting artinya bagi penduduk wet Sesait kala itu. Sehingga banyak bermunculan santri-santri yang ta’at beribadah. Karena ajaran-ajaran yang dibawa oleh para wali ini sangat mudah difahami dan diamalkan.

Tidak jarang juga para santri diantaranya yang terkenal bernama Demung Pemban Banah, selalu memperdalam ajaran Islam  jalan Tashawwuf. Jalan Tashawwuf disini dimaksudkan adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt, yang melalui beberapa pendakian dari satu tingkat ke tingkat lainnya yang lebih tinggi, sebagaimana biasa dikerjakan para kaum shufi.

Menurut salah seorang  tokoh agama Sesait H.Samani, mengatakan bahwa, para santri dari para wali ketika itu lebih banyak memperdalam ajaran Islam jalan Tashawwuf adalah dimaksudkan agar mereka dapat mencapai tujuan utama bertashawwuf, yaitu ma’rifat billah dan insan kamil.

Sepeninggal Demung Pemban Banah, kemudian penyebaran ajaran Islam dilanjutkan oleh santri yang lain, bernama Sriagan, yang juga saudara kandung dari Demung Pemban Banah. Wilayah penyebarannya diyakini meliputi sekitar Gumi Paer Sesait (Wet Sesait).

Namun dalam perkembangan selanjutnya, keberadaan Demung Pemban Banah dan saudaranya Sriagan ini, tidak banyak diketahui. Namun, dari keterangan beberapa tokoh keturunan dari Sriagan, menceritakan kepada Penulis, bahwa Sriagan ini memiliki 5 orang anak, yang keberadaannya juga sangat penting dalam memperluas wilayah syiar ajaran Islam kala itu.

Menurut Amaq Sudirahman (Narimah), salah seorang keturunan ke -12 dari Sriagan, menceritakan bahwa ke-5 anak Sriagan ini, antara lain Sriangge, Bading, Gubah, Oncok dan Goneng.

”Kelima anak dari Sriagan ini mempunyai andil dalam memperluas wilayah penyebaran Islam kala itu,”sebut Narimah.

Sebut saja, lanjut Narimah  seperti Gubah, mendapat tugas ke Soloh dan ke Jawa Timur serta ke Betawi, Bading ke Lombok Tengah, Goneng ke Bayan, Oncok di sekitar Barat Laut wet Sesait dan Sriangge ke Beraringan dan sekitarnya.

Bagaimana kiprah dan keberadaan dari para penyebar Islam putra asli dari Gumi Paer Sesait ini, tidak banyak diketahui. Hanya yang dibahas dalam tulisan ini adalah ketokohan Sriangge dan keteguhan imannya dalam mempertahankan ajaran Islam dari pengaruh Hindu yang masuk ke wet Sesait kala itu.

Di ceritakan bahwa ketika berkuasanya kerajaan Majapahit sampai menguasai seluruh Nusantara lewat sumpah serapah dari patihnya  Gajah Mada, maka pengaruhnya sampai juga ke tanah / gumi paer Sesait, yang kala itu penduduknya menganut agama Islam yang ta’at beribadah. Sehingga, ketika pengaruh Hindu ini masuk ke gumi paer Sesait, maka dari kalangan santri yang ta’at beribadah ini, meninggalkan gumi paer Sesait untuk mengasingkan diri dari pengaruh Hindu ke salah satu kawasan Gawah Alas Bana, yang belum pernah terjamah tangan manusia.

Di Gawah Alas Bana (diyakini sebelah barat Dusun Beraringan sekarang) inilah Santri yang bernama Sriangge bersama keluarganya tinggal dan menetap hingga akhir hayatnya.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukan makamnya disekitar kaki Montong  Gedeng sebelah timur. Makam ini sering di kunjungi oleh keturunannya setiap selesai lebaran.

Sriangge dan istrinya, sebelum mengasingkan diri ke Gawah Alas Bana kala itu, dia tinggal di sebelah utara Kampu Sesait.

Dalam menjalani kehidupan bersama istrinya di gawah alas bana ini, Sriangge terus menjalankan  kewajibannya untuk ta’at kepada Allah Swt, hingga akhir hayatnya.Disamping itu, hingga saat ini bekas peninggalan Sriangge masih tersisa berupa pavling blok terbuat dari batu kali berderet menuju ke tempat berwudu.

Peninggalannya yang lain, disamping Takepan Lahat yang ditulis didaun lontar, Kitab Shalawatan dan Umbak Bayan, juga yang hingga kini masih tersisa adalah pohon Kelor. Pohon Kelor (remunggek) ini masih ada hingga sekarang, tidak jauh dari makamnya. Pohon ini dulunya diyakini sengaja ditanam dekat tempayan (Ploncor) yang digunakan sebagai wadah menyimpan air untuk wudu’.

Ketika Sriangge mangkat, secara kebetulan kala itu mangkatnya secara bersama dengan istrinya Sriaji. Ketika itu tidak ada orang yang akan memakamkannya. Karena ditempat tinggal mereka hanya mereka berdua di gawah alas bana masa itu. Mayat mereka baunya harum. Sehingga membuat para pelayar dari negeri jauh yang secara kebetulan lewat diperairan utara Beraringan kala itu kehabisan persediaan air minum, mencium bau harum tadi.

Oleh nakhoda, lalu diperintahkan awak perahunya singgah untuk menyelidiki sumber bau harum tadi, sambil mencari air sebagai tambahan persediaan dalam perjalanan berlayar berikutnya.

Setelah tiba di pesisir pantai utara Beraringan, bau harum terus menusuk hidung semakin keras. Para awak perahu melihat dari kejauhan banyak sekali burung beterbangan dari  lembah sebelah timur dari kaki bukit, yang menurut penduduk setempat dinamakan Montong Gedeng. Mereka menduga, mungkin sumber bau harum tadi berasal dari lembah itu. Ternyata, dugaan mereka benar.

Setiba dilembah tadi, para awak perahu kaget. Begitu melihat sepasang mayat terbujur kaku disebuah gubug. Lalu merekalah yang memakamkannya. Jadi, para pelayar (oleh penduduk setempat disebut Tau Perahu) inilah yang mengurusi prosesi pemakaman jenazah Sriangge bersama istrinya hingga selesai. Makamnya hingga sekarang masih tetap dijaga dan dipelihara oleh keturunannya..(Eko).

PNPM-MP Gelar MAD Khusus

KAYANGAN,-- PNPM-MP Kecamatan Kayangan kembali gelar Musyawarah Desa Khusus (MAD) yang berlangsung di aula Kantor Camat Kayangan,Selasa (08/03) lalu.

Camat Kayangan Tresnahadi dalam pengantarnya mengatakan bahwa, MAD Khusus ini digelar dengan maksud membahas masalah surat pernyataan pengunduran diri  Ahmad Afandi,S.Pd dari Unit Pengelola Keuangan (UPK) Kecamatan Kayangan, 7 Maret 2011 yang lalu.

”Hal-hal yang berkaitan dengan alasan Pengunduran diri sdr Ahmad Afandi dari UPK ini, tidak perlu kita bahas secara mendetail. Ini murni hak beliau, kita tidak bisa intervensi,”jelas Tresnahadi.

Dalam MAD Khusus yang dihadiri para Kepala Desa, Ketua BPD, pengurus UPK dan undangan lainnya ini, diakui Tresnahadi bahwa, ada beberapa hal yang akan dibahas antara lain,disamping membahas surat pernyataan pengunduran diri saudara Ahmad Afandi, yang secara resmi mengundurkan diri dari jabatan Ketua UPK Kecamatan Kayangan tanggal 7 Maret 2011 lalu, juga akan membahas masalah PNPM-GSC, karena dalam waktu dekat dananya akan segera dicairkan.

”Saya berharap, sebagai lembaga terdepan dalam pengelolaan PNPM ini, petugas yang baru nanti dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya, tidak ada hal-hal yang sifatnya melanggar institusi. Bagaimana kita bisa, dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat sebagai pengurus sebuah lembaga yang secara teknis sudah diatur berdasarkan institusi yang ada,”harap Tresnahadi.

Sementara itu, melalui Fasilitator Kecamatan Kayangan Ir.Rusli mengatakan bahwa, untuk dapat berpartisipasi dalam bursa calon Ketua UPK Kecamatan yang baru, ada beberapa hal persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pelamar, diantaranya adalah warga Kecamatan Kayangan, yang dibuktikan dengan KTP/surat keterangan domisili,berpendidikan Sarjana S1,terutama jurusan Ekonomi Akuntansi, usia minimal 30 tahun, dapat mengoperasikan komputer (Word/Exel) dan berpengalaman dibidang pemberdayaan.

”Persyaratan tersebut ditujukan kepada PJOK PNPM Kecamatan Kayangan, paling lambat Jumat, (11/03) sudah kami terima dan dilanjutkan dengan seleksi maraton,”jelas Rusli.

Karena, lanjut Rusli, hari Sabtu (12/03), kita sudah memiliki Ketua UPK yang baru, ”tambahnya. (Eko)

Tradisi Bawa Dulang, Bentuk Wujud Syukur (2)

SESAIT,-- Tradisi bawa dulang ke makam atau ketempat keramat lainnya adalah bentuk wujud syukur kepada Allah Swt.

Disetiap hari-hari besar, baik Nasional maupun keagamaan, pemandangan sederet para wanita pembawa dulang sudah tidak asing untuk dibicarakan. Ritual seperti ini, kalau dikemas sedemikian rupa, maka akan bernilai positif untuk tujuan wisata, dan akan mendatangkan hasil, asalkan mampu mengelola secara profesional.

Tradisi bawa dulang ke makam atau ke bedugul, oleh masyarakat Sesait disetiap ada hajatan, maka hal tersebut lumrah dilaksanakan, yaitu menjelang buka tanak, dan setelah selesai musim panen. Masyarakat Sesait melakukan ritual ini dua kali setahun. Dan isi dulang yang dibawa ke tempat itu (makam/bedugul..red) adalah sesuai dengan keadaan musim saat itu.Misalnya, pada saat acara ke makam atau ke bedugul yang secara kebetulan waktu itu sedang berlangsung musim jagung, maka isi dulang yang dibawa lebih menonjol adalah jagung. Sedangkan setelah panen, yang dibawa ke makam lebih menonjol Tenimbung/Peset (terbuat dari ketan) yang ditaruh dalam sajian nasi dan lauk selengkapnya dalam dulang satu kaki.

”Tardisi bawa dulang ke makam ini, oleh masyarakat Sesait dikenal dengan sebutan Ngaturang Ulak Kaya. Ini adalah semata - mata bentuk wujud syukur kepada Allah Swt. Jangan sampai kita memberikan penafsiran yang keliru,”jelas Djekat tokoh adat Sesait, yang juga anggota DPRD KLU.

Dijelaskan Djekat, bahwa dulunya ditempat makam Kubur Beleq ini penuh dengan Pawang (hutan belantara), namun Pawang tersebut sekarang sudah tidak ada.Sehingga kedepan, Djekat berharap agar ada upaya dari para tokoh adat Sesait dalam hal ini Mangkubumi beserta jajarannya, untuk  urun rembuq membicarakan bagaimana jalan keluarnya, sehingga pembatas tanah situs Kubur Beleq ini bisa dibangun sebuah pagar pembatas.

Menurut Onjor Lanim, tokoh pemuda Sesait mengatakan, untuk membangun pagar pembatas situs Kubur Beleq, dirinya bekerja sama dengan  pemuda Sumur Pande, Lokok Ara,Bajang Patuh Lokok Sutrang, Bajang Generasi Bersatu Tukak Bendu dan lainnya, sudah mempersiapkan 40 zak semen. Sedangkan batako dan batu kali sudah ada di lokasi situs Kubur Beleq. Tinggal kapan pengerjaannya, Onjor belum memastikannya.

”Insya Allah, mudah-mudahan tidak ada kendala yang berarti, dalam waktu dekat semuanya rampung,”jelasnya. (Eko)

Senin, 07 Maret 2011

Pawai Ogoh-ogoh Secara Resmi dilepas Bupati

TANJUNG,-- Pawai ogoh-ogoh secara resmi dilepas Bupati KLU Djohan Sjamsu, ditandai dengan pemukulan gong yang berlangsung di lapangan umum Tanjung, Jumat (04/03) lalu.

Hadir dalam acara ini Ketua dan Wakil Ketua DPRD KLU, para Pimpinan SKPD Tingkat Kabupaten, para Camat, Kepala Desa Tanjung, tokoh masyarakat Hindu, para peserta pawai ogoh-ogoh dan  undangan  lainnya.

Bupati KLU Djohan Sjamsu dalam sambutannya menginginkan, kepada para peserta pawai ogoh-ogoh dan umat Hindu khususnya agar mewujudkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dengan bekerja keras dan bersatu padu, bahu membahu mejalin persatuan dan kesatuan dengan seluruh umat beragama lainnya, dalam membangun daerah Kabupaten Lombok Utara.

Usai memberikan sambutan, dengan didampingi Ketua PHDI, Ketua DPRD KLU dan Pejabat lainnya, Bupati melepas  secara resmi pawai ogoh-ogoh, yang tandai dengan pemukulan gong.

Menurut Ketua Penyelenggara Ngakan Putu Karya dalam laporannya mengatakan bahwa, umat Hindu dalam merayakan Hari Raya Nyepi tahun caka 1933 tahun ini, dimeriahkan oleh kesenian Bale Ganjur dari kelompok Forum Komunikasi Pemuda Hindu (FKPH) dan beberapa kelompok kesenian lainnya seperti Kecodak Karang Panasan ,Gamelan Beleq dan Cilokaq dari Dusun Montong Desa Jenggala Kecamatan Tanjung.

Ngakan Putu juga mengatakan bahwa, dalam perayaan hari Nyepi tahun ini mngambil tema ‘Melalui Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun baru Caka 1933, umat Hindu menyatukan langkahdalam membangun Lombok Utara, dengan tujuan  meningkatkan Bhakti Ummat kepada Tuhan Yang Maha Esa. (Eko)

Ziarah ke Makam Keramat Kubur Beleq Sesait (1)

SESAIT, -- Ketika menyebut makam Kubur Beleq, hampir semua warga Sesait - Kayangan sudah mengenalnya. Mengingat perjalanan panjang sejarah penyebaran Islam di Sesait, sangat erat kaitannya dengan keberadaan makam ini.

Tidak sedikit mitos yang melingkari keberadaan makam Kubur Beleq, sosok ulama yang dikabarkan sebagai mubaligh berasal dari Bagdad ini, sebarkan Islam sampai ke tanah Sesait, sekitar awal abad ke 17.

Kini makamnya, yang dalam komunitas Sesait – Kayangan dikenal dengan sebutan Kubur Beleq, ziarahnya dilakukan dua kali setahun dan dilakukan setiap hari Jum’at. Ritual ziarah makam Kubur Beleq ini, oleh komunitas Sesait disebut ’Ngaturang Ulak Kaya’.

”Ini adalah sebagai bukti bentuk wujud syukur kita kepada Allah Swt. Sehingga kita sebagai generasi penerus, jangan sampai makna Ngaturang Ulak Kaya dengan membawa dulang kesini ( Kubur Beleq...red) ini,  memberikan penafsiran yang berbeda. Ini murni bentuk wujud syukur kita kepada Allah Swt,” urai Djekat dihadapan ratusan para peziarah.

Disamping itu, lanjut Djekat, bahwa Wali yang berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Sesait ini, sangat penting keberadaannya di komunitas Sesait zaman dulu, karena telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka, karena berjasa dalam penyebaran agama Islam di gumi Sesait, sehingga makamnya memiliki makna spiritual yang luar biasa.

Makam Kubur Beleq, diyakini sebagai makam Titik Pati yang bergelar Kanjeng Pangeran Sangupati, adalah penyebar Islam pertama di tanah Sesait awal abad 17 silam. Makam ini terletak sekitar 300 meter arah utara dusun Sesait Desa Sesait Kecamatan Kayangan Lombok Utara. Untuk sampai ke tempat makam Kubur Beleq ini, tidak harus menguras tenaga yang besar. Cukup jalan kaki beberapa menit, sudah sampai dilokasi.Begitu tiba dilokasi makam, kita akan singgah dulu dimakam Titik Pati yang lokasinya persis didekat pintu masuk.

Para peziarah yang akan melakukan ziarah ke makam Kubur Beleq, terlebih dahulu harus melakukan zikir di makam Titik Pati ini. Karena diyakini bahwa makam ini adalah makam dari ayahanda dari Kanjeng Pangeran Sangupati. Jadi sebelum ziarah ke makam Kanjeng, harus ke makam ayahandanya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk minta ijin tentang hajatan datang ke makam tersebut.

”Makam Titik Pati ini diyakini oleh masyarakat adat Sesait bahwa, inilah makam para penyebar ajaran Islam di tanah Sesait yang pertama kali menganut Islam, tetapi belum sunnat,”jelas pembekel adat Sesait Masidep.

Dijelaskannya juga bahwa, setelah selesai zikir/minta ijin di makam Titik Pati, lalu dilanjutkan ke makam Kanjeng Pangeran Sangupati, yang lokasinya tidak jauh dari tempat itu. Hanya beberapa meter saja. Makam Kanjeng Pangeran Sangupati, yang menurut komunitas Sesait dikenal dengan sebutan Kubur Beleq, disekelilingnya terdapat empat makam kecil-kecil, yang diyakini juga sebagai makam para pendampingnya.

Empat orang pendamping Kanjeng dalam rangka syiar Islam ditanah Sesait ini, yang oleh orang Sesait dikenal sebagai patih/panglima perang. Keempat patih ini adalah Daman, Rafikah,Jumanah dan Rafi’ah.

Dalam masa hayatnya, Kanjeng Pangeran Sangupati mendedikasikan dirinya untuk menyerukan kepada warga masyarakat Sesait agar menganut Islam, maka peran para patih inilah yang sangat penting dalam membantu syiarnya ajaran Islam saat itu.

Namun peran wali ini dalam menyiarkan ajaran Islam di Sesait, belum sepenuhnya tuntas memberikan pencerahan  terhadap warga. Karena sang wali terlebih dahulu mangkat. Sehingga sinkretisme (paham agama yang melibatkan unsur tahayul) dan animisme, bercampur aduk dengan ajaran yang diajarkan. Maka lahirlah pemahaman Islam waktu telu dan praktek keagamaan lainnya yang jauh dari ajaran Islam.

Menurut Djekat salah seorang tokoh adat Sesait mengatakan bahwa, wali yang membawa dan menyebarkan ajaran Islam di tanah Sesait yang dimakamkan disini adalah Titik Pati. Ziarah ini dilakukan dua kali setahun, dengan maksud menapak tilas perjalanan sejarah penyebaran Islam di tanah Sesait. (Eko)

Kamis, 03 Maret 2011

PEMBUKAAN JALAN BARU BAGEK KEMBAR - SEJONGGA

Kayangan, Lombok Utara - Dibawah kepemimpinan Iswadi, Dusun Bagek Kembar Desa Kayangan, kini mulai berbenah. Pasalnya, baru – baru ini membuka jalan baru sekitar 400 meter, yang menghubungkan Dusun Bagek Kembar – Sejongga.Dengan dibukanya jalan baru ini, maka akses perekonomian warga nantinya akan lebih lancar.

Hal ini dikatakan Kepala Desa Kayangan Jamaan Aspari di sela-sela kesibukannya dalam pembukaan jalan dimaksud. ”Syukur, masyarakat kita di Dusun Bagek Kembar ini sudah sadar akan pentingnya jalur transportasi khususnya di tingkat pedesaan,” ungkapnya.
Hadir dalam pembukaan jalan baru ini,Camat Kayangan,Sekcam,para Kasi dan Kasubag,anggota TMD Kodim 1606 dan masyarakat Dusun Bagek Kembar.

Selanjutnya, diakui oleh Kepala Desa Kayangan bahwa, memang sudah lama ada rencana membuka jalan ini, ketika masyarakat kesulitan untuk membawa hasil bumi mereka, akan tetapi waktu itu masyarakat belum menyadarinya,terutama bagi pemilik tanah yang tanahnya akan dijadikan jalan baru.
Menurut Gerjeh, salah seorang tokoh masyarakat Dusun Bagek Kembar yang sehari-harinya berpenampilan sederhana ini mengatakan bahwa, ”Memang sejak P3A dijabat oleh Amaq Jojo tahun 2006, rencana pembukaan jalan baru Bagek Kembar-Sejongga ini sudah mulai digulirkan. Tetapi pada saat itu, pemilik tanah Angis bersaudara ini belum menampakkan tanda persetujuannya. Baru pada tahun 2010 dibawah kepemimpinan Kadus Bagek Kembar Iswadi, rencana itu terealisasi,” jelas Gerjeh.

Sementara itu, Edy Kartono,SE salah seorang tokoh pemuda dusun setempat membenarkan bahwa,  rencana itu memang sudah lama direncanakan.”Hanya saja, diantara pemilik tanah yang akan dilalui jalan baru ini, ada yang tidak setuju. Sedangkan Angis, kalau kita lihat kontribusinya untuk pembangunan jalan baru di dusun Bagek Kembar ini sangat besar andilnya.Buktinya, sepanjang jalan yang dilalui oleh jalan baru tersebut adalah tanah miliknya,” tegas Edy Kartono.

Sementara itu Camat Kayangan, ketika ditemui dilokasi pembukaan jalan baru itu,  sangat merespon dan mendukung kegiatan dimaksud. Karena dengan dibukanya jalan baru yang menghubungkan Dusun Bagek Kembar - Sejongga ini, maka akses perekonomian masyarakat setempat menjadi lebih lancar, jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. ”Ini, patut kita syukuri keinginan dari masyarakat yang sudah mulai sadar akan pentingnya keberadaan jalan baru yang dibuka ini,” harapnya. (ndr).

Perekrutan Calon Tenaga Guru Honorer SDN 2 Sesait Dibatalkan Oleh Komite Sekolah


Kayangan, KLU - Dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah sesuai dengan paradigma baru manajemen pendidikan, perlu adanya pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekolah secara optimal. Hal ini penting, karena sekolah memerlukan masukan dari masyarakat dalam menyusun program yang relevan, sekaligus memerlukan dukungan masyarakat dalam melaksanakan program tersebut.

Di sisi lain, masyarakat memerlukan jasa sekolah untuk mendapatkan program-program pendidikan sesuai dengan yang diinginkan. Demikian di ungkapkan oleh Kepala Dikbudpora Kecamatan Kayangan Sahti, M.Pd dalam sambutannya pada acara silaturrahmi Kepala SDN 2 Sesait dengan Komite sekolah,  beberapa hari yang lalu.

Hadir pula dalam acara tersebut, Pengawas TK SD/MI, Pengurus Komite Sekolah dan seluruh orang tua murid SDN 1 Sesait

Selanjutnya, Kepala Dikbudpora juga memaparkan tentang fungsi dan peran pentingnya memberdayakan masyarakat sekitar sekolah. Hal ini terungkap, ketika pihak sekolah tidak melibatkan pihak Komite sekolah secara penuh dalam perekrutan calon tenaga guru honorer di sekolah tersebut. Pihak sekolah hanya meluluskan calon tenaga guru yang berasal dari luar. Sementara calon tenaga guru yang ikut tes berasal dari masyarakat sekitar sekolah tidak di luluskan. Hal inilah yang membuat Komite sekolah berang. Karena ada indikasi salah satu oknum guru di sekolah tersebut membocorkan soal tes kepada salah seorang calon yang di nyatakan lulus.

Sehingga dalam rapat Komite tersebut perekrutan hasil penyaringan calon Tenaga Guru Honorer akhirnya dibatalkan. ”Pokoknya hasil tes yang diadakan pihak sekolah, cacat hukum dan ini harus dibatalkan,”kata Zaenul Hadi, salah seorang  tokoh muda Dusun Lokok Sutrang dengan nada tinggi. ”Seharusnya, pihak sekolah harus melibatkan Komite ( orang tua murid ) secara proporsional dan dalam perekrutan calon tenaga pendidik di sekolah ini, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah, sehingga dalam mengambil berbagai keputusan, orang tua murid atau Komite, merasa bertanggung jawab untuk melaksanakannya,”Lanjut Zaenul Mahdi dengan nada lantang.

Menyikapi situasi ini, dengan dipandu Kepala Dinas  Dikbudpora, maka masalah perekrutan calon tenaga guru di SD 2 Sesait di pending atau ditinjau ulang. Sehingga untuk membahas masalah ini, di bentuklah panitia khusus yang terdiri dari Pengurus Komite Sekolah ditambah 4 orang dari tokoh masyarakat dan tokoh pemuda.
Usai silaturrahmi Kepala Sekolah SD 2 Sesait, Suryadi Jaya, mengharapkan kepada Komite agar segera membahas masalah tersebut.( ndr ).