Kamis, 07 Juli 2011

MOS MA Nurul Islam Kayangan Tekankan Pembelajaran

Kayangan, -- Masa Orientasi Siswa (MOS) tahun 2011 ini, MA Nurul Islam Kayangan lebih ditekankan pada pembelajaran.
Kepala MA Nurul Islam Kayangan Agus Suparno,S.HI, menekankan kepada pengurus OSIS agar berhati-hati dalam pelaksanaan kegiatan MOS.Hindari hal-hal yang menjurus kepada kekerasan fisik, tetapi hendaknya dalam pelaksanaan kegiatan MOS tersebut lebih ditekankan kearah mendidik. Sehingga nantinya para siswa senior yang tergabung dalam OSIS diharapkan mampu memberikan pembelajaran yang terbaik bagi adik-adik barunya.

“Berikan kesan terbaik dalam kegiatan MOS ini,hindari segala bentuk yang berbau kekerasan. Lakukan kegiatan-kegiatan yang mengandung pendidikan,agar semua yang dilakukan bernilai ibadah,”kata Agus Suparno, dalam pengantarnya dihadapan para siswa baru dalam pembukaan MOS,Rabu,(06/07).

Pada tahun ajaran kali ini, MA Nurul Islam Kayangan, memperoleh siswa baru sejumlah 69 orang siswa, sehingga jumlah siswa seluruhnya berjumlah 193 orang.

Dalam kegiatan orientasi bagi siswa baru disekolah ini, pihak sekolah juga menerapkan berbagai penekanan, diantaranya menanamkan kedisiplinan cara berpakaian agar para siswa baru menjadi terlatih.Disamping itu, melaksanakan kegiatan pembersihan dilingkungan sekolah, melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan,kegiatan LKBB.

Semua kegiatan yang dilaksanakan dalam MOS siswa baru ini dimaksudkan, untuk lebih mengarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat yang mengandung pendidikan.

Dengan kegiatan MOS yang dimulai Selasa (05/07) hingga Sabtu (09/07) mendatang ini, diharapkan adanya keakraban bersama tetap terjaga antar siswa.Dalam MOS ini pula para siswa diberikan bimbingan rohani serta kegiatan keagamaan lainnya.

Sementara itu, waka bidang kesiswaan Faturrahman Abidin,S.Pd mengatakan bahwa, selama kegiatan MOS di MA Nurul Islam Kayangan hendaknya dihindari kegiatan-kegiatan yang mengarah dan menjurus kearah kekerasan serta selalu dihindari dengan memberikan beban kepada siswa baru.

“Kegiatan seperti itu selalu kita tekankan kepada OSIS agar jangan sampai melakukan hal-hal yang menjurus kearah kekerasan dan jangan sampai terlalu membebani para siswa baru dalam berbagai hal yang memberatkan siswa,”kata Abidin.

Hal senada juga disampaikan Ketua Komite Sekolah Nurta,S.PdI, agar kegiatan MOS yang tiap tahun dilaksanakan oleh setiap sekolah ini, dilaksanakan sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan pihak sekolah.
“Jangan sampai kegiatan MOS bagi siswa baru, khususnya di MA Nurul Islam Kayangan ini, betul-betul dilaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam lingkungan pondok,”kata Nurta.

“Bagi pengurus OSIS yang bertugas dalam pelaksanaan MOS kali ini, agar jangan sampai melakukan hal-hal diluar dari ketentuan, misalnya yang menjurus ke tindak kekerasan fisik. Utamakan pembelajaran yang mengandung pendidikan akhlak,”tambahnya. (Eko).

 

Minggu, 03 Juli 2011

Camat Kayangan Secara Resmi, Lepas Kafilah MTQ

Kayangan, -- Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten Lombok Utara ke 3 tahun 2011, hari  ini, Sabtu, (02/07) menurut rencana akan dibuka Bupati KLU H.Djohan Sjamsu,SH.

Kafilah dari Kecamatan Kayangan, pagi tadi juga telah dilepas Camat Kayangan Tresnahadi, yang berlangsung di aula Kantor Camat Kayangan. Hadir dalam acara tersebut, disamping seluruh peserta, juga dihadiri oleh Pengurus LPTQ tingkat Kecamatan, Offisial,Pelatih Pembina, dan beberapa SKPD.

Dalam amanatnya Tresnahadi berpesan kepada seluruh peserta untuk berjuang sekuat tenaga, baik fikiran maupun kemampuan maksimal yang dimiliki setiap peserta, demi nama baik daerah yang diwakili (Kecamatan Kayangan). Karena para peserta, menurutnya, adalah putra-putri pilihan yang terbaik yang sudah memenuhi persyaratan, karena  melalui seleksi yang ketat yang diadakan oleh Panitia seleksi di tingkat Kecamatan beberapa bulan yang lalu.

“Keluarkan kemampuan yang ada, semaksimal mungkin. Kalau sudah kita lakukan yang demikian, kemudian kita belum beruntung, itu perkara lain, yang penting kita sudah berbuat semampu kita, setelah itu kita serahkan kepada Allah Swt,”harap Tresnahadi.

Yang patut di syukuri oleh seluruh peserta dan undangan yang hadir, bahwa para peserta yang akan mewakili Kecamatan Kayangan pada MTQ Tingkat Kabupaten Lombok Utara ke 3 tahun 2011 ini, murni putra putri asal Kayangan.
“Ini penting artinya, bahwa kita ingin menunjukkan dan menampilkan potensi-potensi yang dimiliki daerah Kayangan. Sejauh mana kita bisa berbicara ditingkat Kabupaten,”katanya.

Memang ada indikasi penawaran-penawaran dari daerah lain, yang ingin bekerjasama dengan pihak LPTQ Kecamatan Kayangan, untuk bagaimana bisa merekrut tenaga atau calon peserta dari daerah lain untuk mewakili Kecamatan Kayangan pada MTQ Tingkat Kabupaten tahun ini. Tapi, oleh LPTQ tingkat Kecamatan Kayangan tidak menginginkan demikian.Pihak LPTQ ingin menggunakan dan menampilkan putra-putri terbaik asli wilayah Kecamatan Kayangan. 

Menurutnya L.Muhamad Sidik, selaku Ketua LPTQ yang juga Kepala KUA Kecamatan Kayangan, mengatakan bahwa, kalau sampai terjadi seperti itu diwilayah Kayangan, maka menurutnya akan membuat kita mundur sekian langkah kebelakang. Artinya, kapan kita bisa maju kalau setiap tahun kita menggunakan peserta dari daerah lain?
Pada kesempatan itu, Camat Kayangan juga berpesan kepada seluruh Kafilah yang mewakili Kecamatan Kayangan dan  akan berangkat ke Tanjung (Ibukota Kabupaten KLU) sore ini, untuk selalu menjaga stamina, karena menurut Camat, bahwa saat ini sudah mulai perubahan musim.

“Kalau betul-betul kita jaga kesehatan, tentunya semua kegiatan cabang lomba yang akan di lombakan akan bisa diikuti, sesuai denhan bidang keahlian masing-masing,”pesannya.

“Mudah-mudahan tidak ada kendala/hambatan dalam mengikuti kegiatan ini,”harapnya. 

Khusus kepada offisiel, camat juga berpesan untuk betul-betul melaksanakan tugas sesuai dengan beban tugas yang diberikan.Sedangkan untuk Pelatih Pembina, Camat menitipkan seluruh peserta untuk dibimbing dengan baik, sehingga dapat memunculkan peserta terbaik ditingkat Kabupaten.(Eko).

Rabu, 29 Juni 2011

Camat Kayangan, Tinjau Pembangunan SPAM

Kayangan, --- Kehadiran PT Jasuka Bangun Pratama diwilayah Kecamatan Kayangan, disambut posif masyarakat Kayangan.
Pasalnya, PT Jasuka Bangun Pratama, sesuai dengan Surat Perintah Kerja (SPK) pada tanggal 23 Mei 2011 yang lalu, dipercaya oleh Dinas PU Provinsi Nusa Tenggara Barat, untuk mengerjakan pembangunan dua buah Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) yang  diperuntukkan bagi tiga desa yang ada diwilayah Kecamatan Kayangan.

“Pembangunan dua buah SPAM tersebut sudah dimulai sejak turunnya SPK,”kata Ifan (36) salah seorang penanggungjawab dilokasi bangunan dari PT.Jasuka Bangun Pratama, kepada suarakomunitas.net.
Menjelang pengecoran tahap pertama pembangunan SPAM tersebut, Camat Kayangan Tresnahadi, menyempatkan diri untuk meninjau secara langsung proses pembangunan tersebut.

Salah seorang petugas dari PT Jasuka Bangun Pratama, dihadapan Camat Kayangan menjelaskan tentang proses pengerjaan pembangunan SPAM tersebut, dari sejak awal pengerjaannya hingga menjelang pengecoran tahap pertama. Termasuk juga system perputaran sirkulasi air nantinya, serta bagaimana mengurasnya ketika  bak penampungan tersebut sudah lama tidak dikuras.

Disamping itu,PT Jasuka juga menyerahkan sepenuhnya kepada Camat Kayangan, bagaimana mengelolanya nanti setelah selesai pengerjaannya.

“Kami hanya mengerjakan bangunannya saja, setelah selesai, kami serahkan kepada Pemerintah Kecamatan untuk mengatur pengelolaannya, ”kata Ifan.

Dalam kunjungannya tersebut, Camat Kayangan berharap agar pelaksanaan pembangunan SPAM yang berlokasi di Dusun Empak Mayong, tepatnya di tanah milik H.Abidin Mustakim tersebut, betul-betul dilaksanakan sesuai dengan besteknya.

“Kalau sudah selesai pembangunan ini dan sudah mulai dioperasikan, saya yakin permasalahan kelangkaan air bersih untuk masyarakat wilayah Kayangan selama ini, Insya Allah bisa teratasi,”kata Tresnahadi penuh keyakinan.

“Kami juga akan mengatur system pengelolaannya, apakah nanti diserahkan ke masing-masing desa untuk mengelolanya, ataukah bagaimana pengaturannya, itu tergantung hasil musyawarah di tingkat Kecamatan, karena di tingkat Kecamatan sudah ada BK-PAB,” sambungnya.

Sementara itu, salah seorang tenaga sukarelawan asal Sesait Rumati (50), yang sejak P2JPAB beroperasi di tiga wilayah desa (Sesait, Santong, Kayangan) yang ada di Kecamatan Kayangan, mengutarakan suka dukanya mengurus air bersih sejak 5 tahun silam. Sampai-sampai fisiknya terganggu dengan berbagai goresan benda-benda tajam maupun tumpul.

“Kalau diperhatikan, hasil kerja saya selama ini mengurus jaringan pipa, dari sumber mata air Batubara Santong, hingga wilayah Kayangan, itu tidak sebanding,”katanya menghiba.

“Tapi, semua itu saya kerja dengan ikhlas, tanpa memperhitungkan berapa yang harus saya terima, sebagai upah kerja yang saya lakukan selama ini,”kilahnya.

“Itu, semata-mata panggilan hati nurani saja, untuk bagaimana bisa bekerja dengan baik, sehingga hasilnya pun maksimal. Hanya rasa tanggung jawab saja,”tegasnya.(Eko).

Dusun Tradisional Dasan Beleq, Banyak Meninggalkan Nilai Sejarah

Kayangan, -- Gumantar adalah salah satu desa dari delapan desa yang ada diwilayah Kecamatan Kayangan Lombok Utara. 

Hingga sekarang, desa ini banyak meninggalkan beberapa situs sejarah yang penuh dengan nuansa adat istiadatnya, terutama yang berpusat di Dusun Dasan Beleq.

Secara sosiokultural, masyarakat adat Dasan Beleq berkaitan erat dengan ajaran Islam. Hal ini bisa dilihat dari situs budaya yang ada, terus hidup dan berkembang sejalan dengan ritme kehidupan masyarakat setempat.

Pusat aspek keagamaan terdapat di dusun Gumantar, dimana Mesjid Kuno yang ada sekarang adalah dibangun oleh para wali dan ulama’ penyebar agama Islam terdahulu, sedangkan pusat Pemerintahannya kala itu terdapat di Dusun Dasan Beleq ini.

Situs – situs sejarah peninggalan para wali penyebar agama Islam yang tedapat di Dusun Dasan Beleq Desa Gumantar Kecamatan Kayangan KLU ini, menurut tokoh adat Dusun Dasan Beleq, Malinom (48), mengatakan bahwa, ada beberapa peninggalan, diantaranya ‘Bale Bangar Gubuq’, yang oleh masyarakat setempat disebutnya Pagalan. Bale ini, terletak ditengah-tengah Gubuq Dasan Beleq, dengan ukuran 5x5 m. Bale (rumah) ini, menurut Malinom, keberadaannya diyakini dibuat oleh orang yang pertama kali datang dan menetap di Dusun Dasan Beleq.

“Kedatangannya dari mana, dan siapa nama nya, itu tidak bisa dipastikan,”kata Malinom dengan mimik yang penuh keseriusan.

Namun menurut Sahir (40), salah seorang tokoh muda yang disegani di dusun setempat, menceritakan kepada suarakomunitas.net, tentang keberadaan dari seorang wali penyebar agama Islam yang pertamakali datang dan menetap di kampung Dasan Beleq tersebut.

Diceritakan, konon katanya, pada sekitar abad 16 Masehi, ketika agama Islam sudah mulai tersebar ke seluruh pelosok tanah air, tak terkecuali para penyebar ajaran Islam sampai juga ke wilayah utara lereng gunung Rinjani. Termasuk di gumi Dasan Beleq ini.

Para penyebar agama Islam yang pertama kali datang ke tempat itu (Dasan Beleq), menurut Sahir, diawali dari Gunung Rinjani. Penyebar agama Islam ini, bernama Mak Beleq dan Kendi (menyerupai Kendi) turun dari Gunung Rinjani, yang dikemudian hari, dalam perjalanan sejarah, setelah berkuasa dan menyebarkan agama Islam di daerah Bayan, Mak Beleq dikenal dengan sebutan Datu Bayan.Sedangkan temannya yang bernama Kendi tadi, kala itu,tetap tinggal dan menyebarkan agama Islam di daerah Dasan Beleq dan sekitarnya.

Diceritakan, sebelum sampai ke Dasan Beleq, para penyebar ajaran Islam (Mak Beleq dan Kendi) ini berhenti dulu di Pawang Semboya, untuk melihat sekeliling utara lereng gunung Rinjani, kearah mana nantinya tujuannya yang pertama dalam menyebarkan ajaran Islam yang dibawanya. Setelah mantap keteguhan hatinya, maka dipilihlah suatu daerah sebagai tujuannya yang pertama dalam menyebarkan ajaran Islam. Daerah tersebut, sekarang dikenal dengan nama Dusun Dasan Beleq. Karena yang pertama kali datang ditempat itu bernama Mak Beleq, sebelum melanjutkan penyebarannya ke daerah Bayan.

Kemudian, situs peninggalan sejarah yang lain di Dusun Dasan Beleq ini adalah Bale Adat yang berada di Pawang Gedeng/Pawang Adat, sekitar 400 meter kearah selatan Gubuq Dasan Beleq sekarang.

Bale adat yang berada ditengah Pawang Gedeng/Pawang Adat ini, terbuat dari anyaman pohon bambu. Mulai dari atap hingga pagarnya semuanya terbuat dari bambu. Disamping Bale Adat ini, sekitar 5 meter disebelah barat laut dari Bale Adat tersebut, didirikan ‘Berugak Agung’ saka enam, sebagai tempat persinggahan para tetua adat sebelum melaksanakan upacara ritual adat di Bale Adat tersebut. Selain sebagai tempat persinggahan para tetua adat sebelum melaksanakan upacara ritualnya, maka Berugak Agung ini, digunakan pula sebagai tempat mempersiapkan sesaji dan segala bentuk hidangan makanan yang disajikan dalam wadah yang disebut dulang, yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat adat  yang hadir dalam upacara adat,  usai melakukan upacara ritual di Bale Adat tersebut.

Menurut Sahir, yang mendampingi wartawan suarakomunitas.net, ketika mengunjungi Bale Adat yang berada di tengah Pawang Gedeng beberapa waktu lalu, mengatakan, kalau belum sampai waktunya diadakan acara ritual di Bale Adat tersebut, siapa saja tidak boleh masuk atau sekedar melintas didalam arena atau halaman Bale Adat. “Itu pemalik,”katanya meyakinkan.

Wartawan suarakomunitas.net pun, ketika mengambil gambar Bale Adat dan Berugak Agung tersebut, hanya dari luar areal pembatas. Nuansa adat di sebuah dusun tradisional yang jauh dari bisingnya kehidupan masyarakat modern ini, masih kental dengan tradisi-tradisi wetu telu, berurat berakar dikalangan sebagian masyarakat Dayan Gunung, yang masih kuat memegang tradisi tersebut.

Komunitas masyarakat adat dusun Dasan Beleq, menurut Sahir, upacara ritual di Bale Adat yang berada di Pawang Gedeng itu, akan dilaksanakan secara besar – besaran empat  bulan sekali. Upacara tersebut, menurut Sahir adalah upacara Buku Beleq. Disebut demikian, karena upacara ini dilaksanakan empat bulan sekali secara besar-besaran. Namun Sahir juga mengaku, bahwa pelaksanaan upacara ritual adat di Pawang Gedeng tersebut, tiap bulan juga dilaksanakan,tetapi hanya sekedar upacara kecil-kecilan.

“Pelaksanaan upacara Buku Beleq di Bale Adat dalam Pawang Gedeng ini, akan dilaksanakan dua bulan lagi dari sekarang.Namun sebelumnya, masyarakat adat Dusun Dasan Beleq secara gotong royong memperbaiki dulu atap dan pagar dari Bale Adat ini, dimana ‘bambu lande’ yang digunakan diambilkan dari suatu tempat yang sudah ditentukan, yaitu dari daerah Tenggorong, ”kata Sahir.

‘Perbaikan ini, dilaksanakan selama 12 hari berturut-turut, hingga tiba waktunya pelaksanaan upacara adatnya, ”tambahnya.

“Mudah-mudahan saja agenda yang sudah ditetapkan oleh para tokoh adat di Dusun Dasan Beleq ini, bisa dilaksanakan sesuai rencana, ”sambungnya. (Eko)

Tujuh Pepadu KLU KO

Kayangan,-- Dari tujuh pepadu yang tergabung dalam grup A yang diturunkan oleh Pemerintah perwakilan KLU dalam acara pagelaran presean kejuaraan Polda NTB yang berlangsung di Mataram,Selasa, (21/06) lalu, KO.

Pepadu grup selak marong lombok tengah,satu diantaranya ( ST ) mengeluarkan cairan berwarna merah alias bocor, sedangkan yang lainnya luka memar di hampir seluruh tubuhnya.

Salah seorang pekembar yang berasal dari KLU Masidep,S.Pd. mengatakan " kekalahan  para pepau KLU ini secara fisik karena memang mereka kecapean di atas kendaraan dan belum sempat istirahat. Sejak turun dari kendaraan, mereka langsung bertanding, perjalanan yang cukup melelahkan itu, sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik para pepadu ini,”ungkapnya.

Menurut pantauan wartawan komunitas ini, mereka (para pepadu..red) bertanding merasa tertekan dengan tuntutan harus menang, karena mereka mempertaruhkan tim, jika 4 orang diantara tim itu kalah, maka itu adalah kekalahan tim, dan tidak jarang diantara mereka memaksakan diri hingga titisan terakhir tenaga mereka.

Ketangguhan pepadu asal lombok tengah   grup selak marong ini, sulit untuk ditaklukkan. Pasalnya, gruup ini telah teruji dan sering melang-lang buana di berbagai pagelaran, bahkan ketika mereka datang ke Lombok Utara pun mereka masih unggul dibanding pepadu KLU. 

Kekalahan didalam sebuah even merupakan suatu hal yang biasa, namun menurut Masidep, bahwa Pemerintah kurang peduli terhadap nasib para pepadu ini, seharusnya mereka ini (para Pepadu..red) dibekali untuk sekedar bekal Banyak diantara mereka yang  kelaparan sehingga tenaga mereka  tidak sebanding dengan beban yang mereka tanggung.

“Coba bayangkan, para pepadu ini berangkat jam 10 dan belum sempat makan siang dan ketika sampai di Kantor Bupati KLU, langsung naik mobil  menuju eks Kantor Bupati Lobar untuk mengikuti pagelaran,”kilah Masidep dengan nada kesal.

 Datu Artadi mengatakan, "kami sudah berusaha untuk mencarikan dana di pemerintah, namun penyediaan dana untuk presean ini tidak ada, hanya saja kita diberikan Bus Pemda untuk antar jemput pepadu,”katanya.

Para pepadu merasa kecewa dengan perlakuan ini, “kami sudah diperlakukan seperti ini, jatuh ketimpa tangga pula,  “unggkap salah seorang pepadu yang enggan namanya disebutkan.

Namun walau demikian, menurut Masidep, bahwa dalam pagelaran Presean yang digelar Polda NTB tersebut, Kontingen KLU mendapatkan Juara II beregu,setelah dalam Final Regu KLU dikalahkan oleh Regu Lombok Tengah. sedangkan untuk kategori perorangan, pepadu dari KLU gugur di babak penyisihan.

“Mudah-mudahan, di tahun-tahun mendatang, kita harapkan pembinaan dari Pemerintah lebih di intensifkan, agar apa yang kita alami tahun ini, dijadikan bahan evaluasi bagi semua pihak, “harap Masidep.(Hasanul MTQ)

Sabtu, 25 Juni 2011

Sorong Serah,Tradisi Masyarakat Desa Beleq,Kayangan KLU

Inti pelaksanaan Sorong Serah adalah pengumuman resmi acara perkawinan seorang laki-laki dengan seorang perempuan.


             Acara Sorong Serah (ilustrator)
KLU, MataramNews.com - Dusun Desa Beleq, Desa Gumantar Kecamatan Kayangan  Kabupaten Lombok Utara, sekitar 10 km kearah tenggara dari Kecamatan Kayangan, atau 4 km dari Kantor Desa Gumantar. 
 
Terdapatlah komunitas Islam yang hidup dalam aturan dan norma mereka sendiri. mereka hidup begitu rukun dan tentram seakan akan tidak pernah terusik dengan perkembangan zaman yang kian hari semakin canggih dan modern.

Baru-baru ini, tepatnya Rabu (22/06), di Dusun Desa Beleq ini, diadakan sebuah ritual gawe Beleq Sorong Serah Aji Krama, yang menurut Majidep (48), salah seorang tokoh masyarakat dusun setempat disebutnya sebagai Gawe Miskin. 

Gawe Miskin yang dimaksud oleh Majidep, adalah karena acara ritual tersebut dapat terselenggara berkat kerja sama seluruh masyarakat yang punya hajatan. Masing-masing orang yang melaksanakan acara ritual ini. ngumpulkan bahan-bahan yang digunakan pada acara gawe tersebut. 

“Pada acara Gawe Beleq yang berlangsung selama 2 hari 2 malam ini, jumlah pasangan pengantin yang sorong serah aji krama berjumlah 14 pasang, yang sunatan 16 orang,”terang Narsudin, yang juga anggota DPRD KLU.

“Sedangkan hewan yang dikorbankan dalam acara ini, 18 ekor sapi, 56 ekor kambing dan 300-an ekor ayam, dan inilah sebetulnya yang saya sebut dengan gawe miskin. Karena kalau kita adakan acara gawe secara sendiri-sendiri, kita tidak mampu melaksanakannya,”kilahnya.

“Kalau secara bersama-sama, Insya Allah semuanya bisa jalan,”sambungnya.

Lebih-lebih acara di dusun ini diadakan secara adat yang begitu kental dengan acara ritualnya yang penuh sacral tidak pernah kendor.

Dikatakan Majidep, bahwa ritual gawe beleq sorong serah aji krama yang dilaksanakan secara adat di dusun Desa Beleq tahun ini, diantara 14 pasang penganten itu salah satunya adalah pasangan Narsudin, anggota DPRD KLU termuda.

Menurut Jumayar ( 34) salah seorang tokoh muda Dusun Desa Beleq, yang juga termasuk salah satu pasangan penganten yang mengadakan sorong serah secara adat di dusun setempat tahun ini, mengatakan bahwa acara sorong serah yang dilaksanakan secara adat di dusun ini sudah berlangsung selama 8 tahun. Pada tahun 2011 ini, sebut Jumayar, bahwa dana yang diperoleh untuk menunjang acara tersebut, dibawah satu juta rupiah.

“Dana yang terkumpul dari komunitas adat Dusun Desa Beleq, untuk mendukung acara Gawe Beleq tahun ini, hanya  800.000 rupiah dan walau dana sebesar itu, acara ini bisa juga jalan,”katanya penuh semangat. (Eko).

Jumat, 24 Juni 2011

Giliran Komisi I DPRD KLU akan Panggil PU, Setelah Komisi III

Tanjung,---Tidak adanya kejelasan tentang persoalan Tenaga penggerak Masyarakat (TPM) setelah pertemuan antara Komisi III dengan PU pada hari senin (13/6) kini komisi I angkat bicara dan segera akan memanggil PU.
Ketua Komisi I, Jasman Hadi saat dikonfirmasi suarakomunitas.net  Via SMS Kamis (23/6) menegaskan bahwa  dalam rangka penyelesaian polemic TPM Komisi I akan memanggil Kadis PU terkait landasan hukumnya pada hari Sabtu atau selambat-lambatnya hari senin tanggal 27 Juni 2011  .

Wakil Ketua Komisi I, Ardianto, SH. juga menjelaskan kepada MataramNews saat ditemui di Ruangan Komisi I DPRD KLU bahwa berlarut-larutnya persoalan pengangkatan TPM oleh dinas PU mengindikasikan lemahnya kinerja Dewan terutama dalam pengawasan. Seharusnya ada kejelasan saat Komisi III memanggil PU karena sudah dasar hukumnya sudah jelas, ungkapnya.

PP No. 48 tahun 2005 tentang Pengangkatan Pegawai Honorer menjadi Pegawai Negeri Sipil dalam pasal 8 dinyatakan bahwa “sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, semua Pejabat Pembina Kepegawaian dan pejabat lain di lingkungan Instansi, dilarang mengangkat tenaga honorer atau yang sejenis, kecuali ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

 Demikian juga hasil evaluasi Gubernur NTB tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada poin III aspek kebijakan No. 5 menyebutkan bahwa sesuai dengan ketentuan peraturan Pemerintah No 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi CPNS ditegaskan bahwa sejak ditetapkannya PP 48 Tahun 2005, semua pejabat kepegawaian dan pejabat lain dilingkungan instansi, dilarang mengangkat tenaga honorer atau yang sejenis, kecuali ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Berdasarkan ketentuan tersebut Pemerintah Daerah dilarang mengangkat pegawai honorer, pegawai tidak tetap, pegawai harian lepas, pegawai kontrak, guru kontrak, tenaga sukarela dan istilah lain yang sejenis yang dibiayai dari APBN maupun APBD, jadi sudah jelas dalam hal ini, tegas Ardianto bahwa PU dalam hal pengangkatan TPM sangat mengada-ada dan pretensius (tidak ada landasan).

Sama halnya dengan Ardianto, Ketua DPD Golkar KLU Djekat, yang juga anggota Komisi I mengungkapkan bahwa selain ketidak jelasan Landasan Hukumnya, sumber anggarannya juga tidak jelas karena hasil Evaluasi Gubernur untuk aspek struktur APBD pada poin b (belanja) nomor tiga dan huruf c) disebutkan “Kegiatan penyediaan sarana dan prasarana air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam kolom penjeasan digunakan untuk Tim Penggerak Masyarakat sejumlah Rp. 207 juta yang terdiri dari TPM Desa, TPM Kecamatan dan TPM Kabupaten pada SKPD Dinas Pekerjaan Umum, Pertambangan dan Energi.

Djekat, S.Sos. juga menjelaskan bahwa Gubernur meminta untuk dilakukan perbaikan terhadap poin tersebut. Sehingga melalui Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KLU Nomor : 01/Kep.Pimp./DPRD-KLU/2011 hal-hal yang ada kaitannya dengan pengangkatan pegawai honorer, kontrak dan lainnya yang sejenis ditiadakan sampai ada Peraturan Pemerintah terbaru yang mengatur hal tersebut.(Hamdan Wadi).