Jumat, 18 Maret 2011

Pemahaman Adat Versi Komunitas Sesait (4)

SESAIT,-- Adat adalah sesuatu yang bersifat luhur, yang menjadi landasan kehidupan bagi masyarakat. Adat ditetapkan secara bersama sejak zaman dahulu hingga sekarang sebagai sarana menjamin keharmonisan antara sesama manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan sang penciptanya.

Menurut Pembekel Adat Sesait Masidep, mengatakan bahwa adat sering dipertentangkan dengan agama oleh banyak kalangan, terutama dimasa transisi dari istilah ”gama telu”(gama waktu telu) menjadi ”gama lima” (agama Islam). Justeru agama mengakui keberadaan adat sebagai bentuk pengejawantahan dari keyakinan beragama.

Dijelaskan Masidep bahwa, umumnya dalam masyarakat Suku Sasak khususnya komunitas Sesait, dikenal istilah ”Adat Luwir Gama”, bahwa adat bersendikan agama.

”Hukum adat sangat perlu ditumbuhkan sepanjang tidak bertentangan dengan norma-norma agama,”jelas Masidep.

Dengan istilah ”agama diadatkan” dan bukan ”adat diagamakan” artinya, lanjut Masidep,bahwa perintah-perintah agama harus diadatkan atau dibudayakan dan diamalkan  dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat adat Sesait sangat menjunjung tinggi keluhuran adat luwir gama dengan senantiasa melaksanakan tradisi upacara keagamaan versi adat Sesait, seperti sebut saja upacara agama bulan Mi’raj, upacara syukuran bulan lebaran, upacara ruwah tananman, perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw secara adat dan lain-lain.

Kegiatan – kegiatan ini sudah dilakukan sejak zaman dahulu oleh pranata adat dan agama yang memiliki kepribadian tinggi terhadap nilai-nilai agama Islam.Sehingga sudah merupakan agenda budaya yang tetap dipertahankan dan dilestarikan dari generasi ke generasi.

Sementara itu salah seorang tokoh adat Sesait Djekat mengatakan bahwa, kata adat dari segi hukum mengandung pengertian norma atau aturan yang merupakan kebiasaan tidak tertulis. Walaupun sifatnya tidak tertulis, tetapi mengandung unsur nilai yang dihormati dan disepakati oleh seluruh masyarakat adat Sesait.

Sedangkan unsur nilai adat pada umumnya ,menurut Djekat menjelaskan, ada dua hal, pertama, hal-hal yang bersifat anjuran atau keharusan yang patut dikerjakan, kedua,hal-hal yang bersifat larangan atau menurut adat bersifat ”Maliq”(Pemalik) untuk dikerjakan.

”Khusus untuk unsur yang kedua,apabila dilanggar akan mendapat sanksi moral berupa ejekan,celaan,cemoohan dari warga persekutuan adat Sesait,”katanya (Eko).

Kiprah Kelompok Ternak Bina Keluarga Sesait

SESAIT, --- Keberadaan Kelompok Ternak Bina Keluarga Sesait, sangat dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar. Pasalnya, beberapa waktu lalu Kelompok ini mendapatkan Bantuan Sejuta Sapi (BSS) sejumlah 30 ekor, dari Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Ketua Kelompok Ternak Bina Keluarga Majidin, mengatakan kepada Penulis, bahwa dirinya bersama warga sekitar mendirikan kelompok ini didasarkan pada keadaan masyarakat setempat. Terutama untuk mengurangi kemiskinan, memberdayakan generasi muda, mengangkat ekonomi rakyat. Disamping itu, untuk mencegah terjadinya kehilangan ternak ditingkat peternak.

Diakui Majidin, disamping tujuan utama terbentuknya kelompok ternak bina keluarga Sesait ini, juga dalam programnya sebagai penyedia Saprodi, simpan pinjam dengan bunga rendah.

”Bukan semata-mata ternak saja yang kita bina, tetapi juga melakukan penyediaan Saprodi dan simpan pinjam untuk anggota dengan bunga yang rendah,”jelas Majidin.

”Ini sangat membantu kebutuhan anggota, ”tambahnya.

Dijelaskan Majidin, awalnya merintis pembentukan kelompok ternak bina keluarga ini, disamping untuk mencegah pencurian ternak yang akhir-akhir ini marak terjadi, juga untuk memudahkan bagi para pemilik ternak mengamankan ternak mereka. Karena mereka juga kesulitan tempat untuk menempatkan ternaknya.

”Jumlah anggota kelompok sampai saat ini 40 orang. Dimana 50% nya anggota kelompok ini tidak memiliki ternak. Berawal dari kondisi inilah sehingga kami berusaha melakukan pendekatan dengan instansi terkait, dalam hal ini Pemda Tingkat I Nusa Tenggara Barat, melalui program Bantuan Sejuta Sapi ( BSS ), kami mendapatkan bantuan 30 ekor sapi,”terang Majidin.

Dengan adanya perhatian pemerintah seperti ini, maka kelompok ternak bina keluarga Sesait ini, dituntut untuk berkiprah dalam menjaga dan mengamankan kepercayaan yang diberikan pemerintah tersebut. Karena dalam waktu dekat, menurut Majidin, akan ada lagi bantuan serupa untuk melengkapi yang sudah ada.

Ditempat terpisah, Pemusungan Sesait Murdan, ketika ditanya masalah ini mengatakan menyambut positif adanya ide warganya untuk membentuk perkumpulan seperti Kelompok Ternak Bina Keluarga di Sesait ini. Diakui Murdan bahwa dirinya juga salah satu anggota dari kelompok ini.

Modal  awal yang harus dipenuhi  anggota kelompok ini yaitu dengan kewajiban mengumpulkan gabah satu kwintal  ditambah uang seratus ribu rupiah/anggota. Sehingga modal awal kelompok ini 40 kw gabah dan uang 15 juta rupiah.

Sementara salah seorang anggota kelompok Arudin Jawik, ketika ditemui saat jaga dikandang tersebut mengatakan, bahwa keberadaan kandang kolektif ini sangat membantu bagi dirinya dan warga lainnya. Karena setiap saat selalu gantian yang jaga.

”Setiap malam petugas jaga selalu gantian dengan anggota yang lain. Sehingga kita juga ketika tidak jaga, bisa santai dengan keluarga dirumah,”ungkap Jawik.

Diakui Aru Jawik, bahwa tugas jaga dikandang kolektif milik kelompok ternak bina keluarga di Sesait ini, sangat beresiko. Sebab, menurutnya, lengah sedikit, bisa-bisa nyawa taruhannya. Disamping itu, jika terjadi kehilangan ternak saat giliran jaga, yang jaga tadi harus bertanggung jawab untuk mengganti rugi seberapa besar akibat kehilangan itu.

”Jadi ini penting difahami anggota kelompok, agar kita tidak lengah,”kilah Jawik.(Eko).

Sosialisasi Kegiatan Revitalisasi Kelompok Bina Bina di Kayangan

KAYANGAN,-- Dalam rangka upaya mewujudkan tercapainya keluarga bahagia dan sejahtera, maka BPM, PPKB dan Pemdes KLU bekerjsama dengan PKK Kabupaten Lombok Utara, Selasa (15/03) lalu, gelar sosialisasi bagi kelompok kegiatan revitalisasi kelompok Bina Bina.

Hadir dalam acara ini, anggota Muspika, para pimpinan SKPD, para Kepala Desa, para peserta sosialisasi sejumlah 50 orang, dari 5 desa, terdiri dari kelompok BKB (27 orang), kelompok KKL ( 9 orang), kelompok KKR (9 orang) dan kelompok FIKR (5 orang).

Camat Kayangan Tresnahadi, dalam pengantarnya mengatakan bahwa kegiatan ini memang program Pemerintah, bagaimana memperhatikan masyarakat, mulai dari balita sampai dengan lansia.Inilah yang di tangani Bina-Bina.

Kegiatan yang diselenggarakan BPMD bekerjasama dengan PKK Kabupaten Lombok Utara sampai dengan tingkat desa ini, diharapkan, lanjut Tresnahadi, bahwa dengan adanya pembinaan struktur organisasi ini secepatnya menjadi lebih baik, lebih kuat dan lebih bagus lagi, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Tresnahadi berharap kepada para peserta yang hadir agar mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya, dengan tekun, serius dan sungguh-sungguh, sehingga tidak terkesan hanya sekedar kegiatan seremonial belaka, tetapi ada dampak positif yang bisa diambil dari kegiatan ini.  

Dikatakan juga, bahwa jumlah peserta yang mengikuti kegiatan revitalisasi kelompok Bina-Bina yang diselenggarakan di aula Kantor Camat Kayangan Kabupaten Lombok Utara ini sejumlah 50 orang dari 5 desa dari 8 desa yang ada, antara lain desa Sesait, desa Santong, desa Dangiang, desa Kayangan dan desa Selengen. 

”Ada 3 desa yang tidak diikutkan dalam kegiatan ini, yaitu desa Pendua, desa Gumantar dan desa Salut, ini karena memang yang di jatahkan 50 orang yang ada di DPA BPMD KLU,”jelas Tresnahadi.

Sementara dari BPMD KLU yang diwakili Kasi KB Sabdi,S.Sos mengatakan bahwa, tugas Tim Pelaksana Revitalisasi Kelompok Bina Bina ini turun ke masing-maisng Kecamatan adalah untuk melaksanakan  kegiatan revitalisasi dan melakukan pembinaan, monitoring dan pelaporan pelaksanaan revitalisasi Kelompok Bina Bina.

” Ini semua dilakukan dalam rangka upaya mewujudkan tercapainya Keluarga Bahagia dan Sejahtera,” katanya.

Dikatakan juga bahwa tujuan revitalisasi ini adalah untuk meningkatkan ketahanan keluarga. Jadi apapun nama kelompok sasaranya tetap manusianya. Karena menurut Sabdi, yang melaksanakannya adalah manusianya. 

Disamping itu, tujuan yang lainnya yaitu ingin membangunkan kembali kelompok-kelompok yang pernah ada sebelumnya, seperti kelompok BKB,KKR,PAUD,FIKR dan lain-lainnya, agar difungsikan sebagaimana mestinya. Artinya dalam kiprahnya dapat berfungsi maksimal sesuai dengan tujuan kelompok tadi terbentuk.(Eko).

Kamis, 17 Maret 2011

SMPN Satap 3 Kayangan, Gelar Perpisahan dengan Mahasiswa PPL

KAYANGAN,-- Mahasiswa Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram, angkatan XII gelar perpisahan di aula SMPN Satap 3 Kayangan, Sabtu (12/03) lalu.

Perpisahan yang dilakukan Mahasiswa UNW Mataram  yang sejak dua bulan lalu melaksanakan PPL di sekolah tersebut, berlangsung sederhana.

Kepala SMPN Satap 3 Kayangan Liman,S.Pd dalam pengantarnya mengharapkan  semoga dengan telah selesainya melaksakana PPL di sekolah ini, tidak akan pernah bosan untuk melaksanakan tugas ditempat lain. Hal ini dimaksudkan karena dengan melakukan PPL ini adalah program wajib yang harus ditempuh oleh Mahasiwa jurusan kependidikan, sebelum menyelesaikan tugas akhir di Perguruan Tinggi.

Liman, dalam kesempatan itu juga menyampaikan bahwa peserta PPL disekolahnya selama melaksanakan tugasnya, sudah mendapatkan bimbingan dari guru pamong, sehingga nantinya bisa bermanfaat ditempat tugasnya yang lain.

”Mahasiswa UNW Mataram yang melakukan PPL di SMPN 3 Satap Kayangan ini, secara rutin mendapatkan bimbingan dari guru pamong, sehingga diharapkan bermanfaat bagi diri mereka nantinya ditempat tugas yang lain,”jelas Liman.

Karena sebagian besar Mahasiswa PPL ini, lanjut Liman  adalah guru-guru Madrasah. Jadi  bekal dalam melaksanakan tugas mereka selaku tenaga pendidik sudah tidak bisa diragukan lagi. Mereka sudah memiliki kemampuan tentang itu sebelum melaksanakan PPL dari Perguruan Tinggi dimana mereka menempuh study akhir.

”Saya yakin, sebelum Mahasiswa PPL melaksanakan tugasnya di sekolah ini, sudah memiliki kemampuan sebagai tenaga kependidikan. Karena kita ketahui bahwa tugas yang harus dan mesti dimiliki oleh seorang guru sebelum mengajar adalah sebelumnya sudah mempersiapkan perangkat pembelajaran, seperti program tahunan, program semesteran, Silabus dan batasan-batasan lainnya,”ungkap Liman.

”Mari, kita evaluasi diri kita masing-masing dengan Iman, Intelektual dan Komitmen. Kalau hal ini tidak dimiliki oleh guru, maka hal inilah yang dikatakan guru yang DO ( drop out),”himbaunya.

Sementara itu, dari pihak Pertguruan Tinggi yang mewakili Universitas Eko Sekiadim,S.Sos, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Kepala SMPN Satap 3 Kayangan beserta jajarannya, dalam memberikan petunjuk maupun bimbingannya selama Mahasiswa PPL menjalankan tugasnya di sekolah tersebut.

Eko Sekiadim juga mengingatkan kepada Mahasiswa, agar menjadikan pengalaman  yang didapatkan selama melaksanakan PPL di sekolah tersebut, bisa diterapkan ditempat tugas masing-masing. Eko juga meminta kepada Mahasiswa agar didalam melaksankan tugas sebagai seorang guru, harus melengkapi diri dengan perangkat pembelajaran, seperti program tahunan, program semester, silabus dan batasan-batasan lainnya. 

”Jika semua perangkat pembelajaran ini dipenuhi oleh seorang guru, maka inilah yang dikatakan guru yang profesional,”jelas Eko.

Disamping itu, lanjutnya, guru harus bisa bekali diri dengan keterampilan bernyanyi. terutama lagu-lagu wajib nasional. Karena dewasa ini, jarang guru yang bisa menguasai lagu-lagu wajib. Sehingga akibatnya, siswa ditingkat dasar dan menengah jarang bisa lagu-lagu wajib nasional.

”Bagaimana bisa menyanyikan lagu wajib nasional, sementara guru di sekolah tersebut tidak pernah mengajarkannya. Atau, mungkin guru tersebut tidak menguasai lagu-lagu wajib nasional,”tandas Eko.

Ditempat yang sama, Ketua Kelompok PPL Rendahadi mengatakan bahwa, motto dari kelompok mereka sebelum mengikuti PPL di SMPN Satap 3 Kayangan ini adalah ’from zero from hero’. Dikatakannya bahwa sejak masuk ke sekolah tersebut, mereka berkeyakinan dalam keadaan kosong, ingin berbuat menjadi pahlawan. Artinya, menurut Rendahadi, mereka sebelumnya (pra PPL) tidak memiliki bekal apa-apa dalam mengajar (keadaan kosong) dan setelah menjalaninya, baru memiliki bekal (jadi pahlawan).

Terakhir, Rendahadi berharap, semoga  dengan bimbingan, petunjuk dari pihak sekolah selama mengikuti PPL tersebut, dirinya bersama rekan-rekannya, mengucapkan terima kasih.

”Mudah-mudahan semua ini, menjadi bekal kami dalam menjalankan tugas ditempat kami masing-masing natinya,”harap Rendahadi. (Eko).

Sejarah Masuknya Islam di Gumi Sesait (3)

SESAIT,-- Nama dan istilah Sesait berasal dari bahasa Arab, yaitu Sayyid, sebagai istilah untuk memberi gelar kepada para pemimpin agama atau orang yang memiliki pengetahuan luas dibidang agama Islam.

Kata Sayyid, juga digunakan untuk menunjuk seseorang yang memiliki gelar keturunan atau sahabat Nabi Muhammad Saw yang menyebarkan agama Islam.

Konon, berawal dari sebuah kampung kecil bernama Sesait, yang merupakan sebuah dusun tertua dan tradisional, bahwa pada zaman jelma ireng (zaman gelap/Kecikol Kondoq), datanglah seorang ulama muda dari Timur Tengah (Bagdad) bernama Sayyid Anom atau Sayyid Rahmat atau lebih dikenal dengan sebutan Raden Rahmat  untuk menyebarkan agama Islam.

Di kampung kecil inilah si Sayyid tinggal untuk menetap dan menyebarkan ajaran agama Islam. Sepeninggal  Sayyid Anom, namanya sering disebut dengan sebutan Si Sayyid (Sesait), yang kemudian diabadikan untuk memberi nama kampung tempat tinggalnya yang sampai saat ini disebut Sesait.

Dusun Sesait merupakan dusun tertua dan tradisional diwilayah Desa Sesait, yang lazim disebut dusun adat. Karena di dusun inilah terdapat benda-benda bersejarah peninggalan Sayyid Anom dalam kiprahnya menyebarkan agama Islam. Seperti Al-Qur’an tulis tangan pada kulit onta, yang usianya menurut Piagam Sesait sekitar 580 tahun yang lalu. Disamping itu, ada juga peninggalannya yang lain, seperti Mesjid Kuno, Tongkat khutbah yang terbuat dari hati pohon pisang (galih) dan Balai Agung Adat (Singgasana Raja) yang disebut Kampu.

Ajaran-ajaran yang dibawa oleh ulama Sayyid Anom ini adalah Fiqh Ushul dan Tasawuf. Dalam praktek syiarnya, metode yang dilakukan adalah tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat. Sehingga dalam perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw  ketika itu, dilaksanakan secara adat. Hingga kini, ritual Maulid adat di kampung yang namanya Sesait ini, tetap lestari pelaksanaan Maulid secara Adat.

Ulama Sayyid Anom, dalam penyampaian risalah atau ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini, menurut Piagam Sesait, bahwa Raja Sesait Demung Melsi Jaya, berikut empat orang Patihnya masuk Islam pada awal abad ke 17.(Eko).

 

Senin, 14 Maret 2011

MA Nurul Islam Kayangan, Gelar Rapat Evaluasi

KAYANGAN,-- Menghadapi ujian Mid Semester dan Ujian Nasional tahun ini, MA Nurul Islam Kayangan, gelar rapat evaluasi dan koordinasi, Jumat (11/03) lalu.

Rapat Evaluasi dan Koordinasi yang digelar dengan dihadiri Pimpinan Yayasan, Ketua Komite Sekolah, para Guru dan TU ini, dimaksudkan adalah untuk membahas beberapa agenda terkait dengan persiapan menghadapi ujian tengah semester maupun menjelang ujian nasional tahun ini.

Kepala MA Nurul Islam Kayangan Agus Suparno,S.Hi, dalam pengantarnya mengatakan bahwa, proses kegiatan belajar mengajar di sekolahnya untuk semester genap ini sudah berjalan tiga bulan. Tentu menurutnya, disamping persiapan menghadapi ujian tengah semester, persiapan ujian nasional juga perlu dibicarakan.

Agus Suparno menyampaikan ucapan terimakasih juga kepada Ketua Komite Sekolah atas kiprahnya dalam mengawasi kegiatan proses Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah terebut.

”Atas nama sekolah, kami ucapkan terima kasih kepada Ketua Komite atas keaktifannya dalam mengawasi proses KBM di sekolah ini,’katanya.

Sementara itu, Ketua Komite MA Nurul Islam Kayangan Nurta,S.PdI mengatakan bahwa, kehadiran guru-guru di sekolah dalam mengisi setiap jam pelajaran sudah bagus. Hanya saja diakui Nurta, perlu ditingkatkan lagi.

Berdasarkan hasil evaluasi Administrasi yang dilakukannya, pihaknya  menemukan tiga ranah yang masih minim.Ketiga ranah tersebut antara lain, daftar hadir, proses KBM dan dana. 

’Mudah-mudahan pada pada tahun berikutnya ada peningkatan,”harapnya.

Pada pertemuan tersebut, disamping membahas tufoksi masing-masing bagian (waka,guru,TU), juga membahas masalah persiapan menghadapi ujian tengah semester maupun Ujian Nasional mendatang.

Ketua Panitia Try Out MA Nurul Islam Murdiyanto,SE mengatakan bahwa, persiapan jelang Ujian Nasional tahun ini, pihaknya sudah melakukan persiapan untuk itu.

”Untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional tahun ini, kami sudah melakukan beberapa persiapan, diantaranya dengan mengadakan les tambahan, belajar kelompok maupun dengan mengadakan try out sudah beberapa kali,”jelasnya.

Sedangkan untuk ujian tengah semester, lanjut Murdiyanto, bahwa pelaksanaannya tergantung pihak sekolah, apa mau dilaksanakan atau tidak, itu semua kembali pada kesiapan sekolah untuk melaksanakannya.

”Sebenarnya, untuk Mid juga alangkah baiknya dilaksanakan dan harus direncanakan satu bulan sebelumnya, agar guru-guru bisa mempersiapkan soal-soal yang akan dibuat,”himbaunya.(Eko).

 

Banjir Landa Saluran Air Bersih,Warga Dua Desa Minum Air Hujan

SALUT,-- Sejak terjadinya bencana banjir dan longsor akhir –akhir ini, akibat hujan turun terus-menerus sebagian  wilayah Desa Salut dan Desa Selengen Kecamatan Kayangan, lumpuh.

Longsor ini terjadi akibat terjangan banjir yang menghantam perpipaan air bersih, yang terpasang dilereng bukit 1 km dari arah sumber mata air Mursemalang. Akibatnya, warga dua desa yang memanfaatkan air bersih dari mata air Mursemalang tersebut, terpaksa minum air hujan.

Menurut keterangan Sainur (30) salah seorang karyawan Kantor Desa Salut, ketika ditemui diruang kerjanya mengatakan, bahwa dampak bencana longsor yang terjadi di desa Salut ini, berakibat rusaknya saluran perpipaan air bersih sepanjang 150 meter (25 buah pipa 6”). 

”Keadaan ini mengakibatkan 1.873 KK terpaksa mengkonsumsi air hujan untuk minum dan memasak, sehingga banyak yang mengalami diare,”jelas Sainur.

Dampak langsung akibat terjadinya bencana tersebut, lanjut Sainur, 9 dusun di wilayah Desa Salut , dengan 1.073 KK dan 6 dusun di wilayah Desa Selengen, dengan 800 KK, terpaksa harus mengkonsumsi air hujan.
Salah seorang warga Salut Barat, yang terkena dampak rusaknya saluran air bersih tersebut, ketika ditanya Penulis, bahwa dirinya bersama warga yang lain mengaku, sejak saluran air terkena bencana akibat banjir yang terjadi beberapa waktu lalu dan air bersih tidak lagi mengalir ketempatnya, menggunakan air hujan untuk minum, memasak, mencuci dan untuk keperluan lainnya.

Sementara itu, menurut keterangan sumber dari Pemerintah Desa setempat, bahwa keadaan ini sudah diantisipasi dengan mengadakan penyelamatan pipa yang terbawa banjir, termasuk juga para pekasih turun tangan langsung membenahi keadaan dengan menggunakan alat seadanya. Tetapi, diakuinya bahwa keadaan itu tidak membantu, malah semakin parah.

”Kita berharap agar dinas terkait, dalam hal ini Dinas PU dan Dinas Kesehatan, memperhatikan dengan serius dan bisa di fasilitasi masalah ini,”harapnya.(Eko).