|
Dalam penelusuran tim Suarakomunitas.net
di lokasi air terjun Tiu Bombong ini, ternyata air terjun ini merupakan
salah satu lokasi wisata yang tak kalah menarik dengan air terjun yang
lain di KLU. Dengan panorama alam yang alami, sejuk dan indah, siapapun
yang berkunjung akan merasakan kenyamanan tersendiri bagi pengunjungnya.
FOTO:
Air terjun Tiu Bombong, di Dusun Sempakok, Desa Santong, Kecamatan
Kayangan, KLU
Penasaran dengan pesonanya, tim Suarakomunitas.net menelusuri
dengan mencari informasi lebih jauh dari warga yang berdomisili
disekitarnya. Slamet, warga setempat memiliki cerita sendiri mengenai
Tiu Bombong. Ia mengatakan air terjun ini membawa kesan eksotik
tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya. Menurutnya, objek wisata
ini belum begitu dikenal banyak orang sehingga efeknya sepi dari
kunjungan wisatawan, Padahal, memiliki keasrian yang amat indah, dan
sangat bangus untuk wisata refresing atau membuang kejenuhan
bagi orang yang melepas lelah dengan kesibukannya.
Tiu Bombong agak berbeda dibanding objek
wisata lain yang sejenis, sebab diapit oleh dua jurang terjal dengan
rona-rona pepohonan yang hijau alami, membatasi wilayah Kecamatan Gangga
dan Kecamatan Kayangan. Namun ia memiliki nilai jual tinggi dan potensi
wisata yang potensial berkembang dengan pesat apabila mampu dikelola
dengan baik pihak terkait untuk menopang roda perekonomian masyarakat.
Keterangan warga kepada Suarakomunitas.net
soal Tiu Bombong mengatakan, bahwa air terjun ini memeiliki sejarah
panjang.
Menurut salah satu warga, Melsah
bercerita, dulu kala ada orang pemburu rusa melintas di air terjun ini,
kebetulan ia dilihat penduduk setempat, lalu memberi tahu kepada sang
pemburu bahwa di dalam air tiu bombong ada ikan tuna besar bertanduk dan
bernapas. Si pemburu pun tak jadi menyebrang air tiu ini. Selang
beberapa tahun kemudian, ada pedagang parang ingin menyebrang, wargapun
memberi tahunya bahwa disitu ada ikan tuna besar bertanduk, tapi si
pedagang tak percaya, si pedagangpun nekat menyeberang air tiu itu.
Saat sampai di tengah aliran air, ikan tuna pun keluar dan beradu
dengan si pedagang. Pendek cerita, si pedagang dapat mengalahkan ikan
tuna tersebut sehingga selamat sampai tujuan. Untuk mengenang peristiwa
luar biasa ini, maka air terjun itu dinamakan Tiu Bombong.
Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi
wisata ini jangan takut dan ragu karena jalannya bagus dan tak memakan
waktu lama. Jarak tempuhnya kira-kira 16 km dari Tanjung dengan
menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Untuk sampai ketempat tujuan, ada dua jalan yang bisa di akses, yaitu bisa lewat Sidutan dan bisa lewat Sesait.Setelah sampai kita bisa
meminta bantuan jasa guide lokal. Selamat menikmati panorama alam air
terjun Tiu Bombong.(Sarjono)
|
Selasa, 18 Oktober 2011
Pesona Alam Alami Tiu Bombong
Hujan di Kayangan , Jalan Licin Membawa Maut
Kayangan -- Untuk pertama kalinya wilayah
Kecamatan Kayangan diguyur hujan membawa petaka.
Ketika
terjadi hujan lebat pada hari Senin tanggal 17 Oktober 2011, jalan raya
menjadi licin. Keadaan ini berakibat fatal bagi Siti Aminah (13) salah
seorang siswa MTs Nurul Islam Kayangan yang melintas di jalan tersebut.
Siti Aminah yang baru pulang dari pasar Sesait untuk membeli sepatu dan tas sekolah, sekitar pukul 17,00 wita, dengan berboncengan dengan temannya Rusmini (14) warga Sambik Jengkel Desa Selengen Kecamatan Kayangan, ketika melewati perbatasan Sesait-Kayangan, sekitar 50 meter memasuki wilayah Bagek Kembar, sepeda motor Jupiter MX yang ditumpanginya terpeleset dan menabrak sebuah truck pengangkut beras.
Menurut kerabat dekat korban bernama Muhamad Zaen (48), Siti Aminah berada di belakang. Ketika terjadi peristiwa tersebut dia terpental dan masuk ke bawah truck yang secara kebetulan saat itu sedang melintas dari arah utara hendak ke Santong. Sedangkan Rusmini yang berada didepan tergerus dan tertendes oleh sepeda motornya sejauh 10 m.
Kedua korban kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Namun malang bagi Siti Aminah, setelah tiba di Puskesmas Kayangan tidak bisa ditangani karena terlalu parah, sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Tanjung.
“Setelah beberapa saat ditangani pihak rumah sakit, nyawa Siti Aminah tidak tertolong dan sekitar pukul 19,00 wita, Siti Aminah menghembuskan nafas terakhir,” kata M.Zaen sedih.
“Sedangkan Rusmini tidak terlalu parah dan masih dirawat di Puskesmas Kayangan,” tambahnya.
Selanjutnya jenazah Siti Aminah dibawa pulang dan dimakamkan di pemakaman umum dusun Jelantik, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Selasa (18/10) pukul 15.00 wita.
Menurut Kapolsek Kayangan Komang Sugatha, ketika dikonfirmasi tentang peristiwa tersebut membenarkan. “Berkasnya sudah kita limpahkan ke Polres Lombok Barat untuk proses hukum selanjutnya,” katanya.(Eko)
Siti Aminah yang baru pulang dari pasar Sesait untuk membeli sepatu dan tas sekolah, sekitar pukul 17,00 wita, dengan berboncengan dengan temannya Rusmini (14) warga Sambik Jengkel Desa Selengen Kecamatan Kayangan, ketika melewati perbatasan Sesait-Kayangan, sekitar 50 meter memasuki wilayah Bagek Kembar, sepeda motor Jupiter MX yang ditumpanginya terpeleset dan menabrak sebuah truck pengangkut beras.
Menurut kerabat dekat korban bernama Muhamad Zaen (48), Siti Aminah berada di belakang. Ketika terjadi peristiwa tersebut dia terpental dan masuk ke bawah truck yang secara kebetulan saat itu sedang melintas dari arah utara hendak ke Santong. Sedangkan Rusmini yang berada didepan tergerus dan tertendes oleh sepeda motornya sejauh 10 m.
Kedua korban kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Namun malang bagi Siti Aminah, setelah tiba di Puskesmas Kayangan tidak bisa ditangani karena terlalu parah, sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Tanjung.
“Setelah beberapa saat ditangani pihak rumah sakit, nyawa Siti Aminah tidak tertolong dan sekitar pukul 19,00 wita, Siti Aminah menghembuskan nafas terakhir,” kata M.Zaen sedih.
“Sedangkan Rusmini tidak terlalu parah dan masih dirawat di Puskesmas Kayangan,” tambahnya.
Selanjutnya jenazah Siti Aminah dibawa pulang dan dimakamkan di pemakaman umum dusun Jelantik, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Selasa (18/10) pukul 15.00 wita.
Menurut Kapolsek Kayangan Komang Sugatha, ketika dikonfirmasi tentang peristiwa tersebut membenarkan. “Berkasnya sudah kita limpahkan ke Polres Lombok Barat untuk proses hukum selanjutnya,” katanya.(Eko)
Rabu, 12 Oktober 2011
Upaya Tingkatkan Kinerja Guru, MA Nika Gelar Midsemester
Kayangan,-- Dijadikannya ujian midsemester bagi
setiap sekolah adalah sebagai upaya meningkatkan kinerja para guru,
karena soal midsemester itu sendiri dibuat langsung oleh guru bidang
studi masing-masing.
Menurut Kepala MA Nurul Islam Kayangan Murdiyanto,SE mengatakan bahwa
melalui ujian midsemester yang dilaksanakan mulai tanggal 03-10 Oktober
2011 di sekolahnya itu, nantinya bisa dijadikan barometer upaya guru
itu sendiri untuk meningkatkan kinerjanya pada periode berikutnya.
Disamping itu lanjut Murdiyanto, bahwa hasil ujian siswa menjadi
barometer guru bidang studi apa saja yang perlu untuk ditingkatkan
kedepannya.
Setiap guru bidang studi, dengan melihat hasil ujian siswanya,
diharapkan terus memacu kemampuan dan semangat belajar siswanya, dengan
berbagai upaya melalui soal yang dibuat guru.Dan melalui soal yang
dibuat guru bidang studi masing-masing diharapkan juga mampu untuk
memacu semangat belajar siswa kedepannya.
Menurut Ketua Komite MA Nurul Islam Kayangan Nurta,S.PdI mengungkapkan,
selain soal ujian midsemester yang dibuat secara langsung oleh guru
bidang studi yang bersangkutan, ada beberapa upaya juga dapat dilakukan
untuk peningkatan kinerja guru diantaranya meningkatkan volume
kehadiran tatap muka dalam kelas,selalu mengisi daftar hadir, menguasai
materi yang disampaikan, selalu membuat seluruh perangkat pembelajaran
dan hal lain yang diperlukan sebagai pendukung proses belajar.
“Jika hal itu dilakukan oleh guru, saya yakin peningkatan kinerja masing-masing guru akan maksimal,”katanya. (Eko).
Sambut HUT GB Ke-4, Panitia Gelar Berbagai Lomba
Sesait, -- Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke
4, para pemuda Tukak Bendu yang tergabung dalam kelompok Bajang Generasi
Bersatu (GB), gelar berbagai lomba.

Kegiatan GB yang rutin digelar sekali setahun ini, dimeriahkan dengan beberapa mata lomba, diantaranya Futsal, tennis meja dan catur.
Menurut Ketua Panitia Misyadin,S.Pd, kegiatan yang dilakukan dalam rangka memeriahkan HUT GB yang ke 4 tahun ini, yang acara puncaknya jatuh pada tanggal 27 November 2011 mendatang, dirangkaikan juga dengan peringatan tahun baru Islam 1433 H.
“Kegiatan yang kami gelar pada HUT GB ke 4 tahun ini adalah Futsal,tennis meja dan catur,” katanya.
Dikatakan Misyadin, bahwa untuk kegiatan Futsal diikuti dua Kecamatan (Kayangan - Gangga) dan pada tahun ini jumlah pesertanya ada 48 tim, sedangkan tahun lalu hanya diikuti 32 tim. “Jadi ada peningkatan kuantitas jika dibandingkan dengan tahun lalu,”kilahnya.
Kegiatan yang banyak menyedot minat generasi muda khususnya kegiatan Futsal ini, pembukaannya telah dibuka secara resmi oleh Pemusungan Sesait, di Lapangan Futsal Tukak Bendu,Senin (08/10/2011).
Dalam sambutannya, Pemusungan Sesait menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Bajang Generasi Bersatu (GB) Tukak Bendu ini. Karena menurutnya, bahwa kegiatan semacam ini dinilainya adalah kegiatan yang positif. Disamping itu, ajang seperti ini sangat bagus terus digalakkan, sehingga nantinya akan terjalin silaturrahmi yang kuat antar generasi muda dan terbinanya persatuan dan kesatuan sebagai wadah mempersatukan seluruh generasi muda diwilayah ini.
Dihadapan para tamu undangan yang hadir, Pemusungan Sesait juga berpesan kepada kepada seluruh panitia penyelenggara dan para pemain yang akan berlaga dilapangan agar melaksanakan kegiatan ini dengan penuh rasa tanggung jawab.
“Ini adalah untuk menyambung silaturrahmi dan untuk persahabatan. Jaga kekompakan dan keamanan, selalu bertindak seportif dalam segala hal serta gunakan aturan yang sudah baku,”katanya.
Kegiatan yang digelar Generasi Bersatu Tukak Bendu ini, juga mendapatkan dukungan dan respon positif dari Ketua kelompok Bajang Patuh (BP) Lokok Sutrang Zaenul Hadi,S.Pd. Menurutnya, bahwa kegiatan yang dilakukan oleh GB ini adalah kegiatan yang positif, karena melalui kegiatan semacam ini dapat menggugah semangat generasi muda. Apalagi kegiatan ini diikuti oleh 48 tim dan tim paling banyak ambil bagian adalah dari Kecamatan Kayangan.
“Saya melihat semangat generasi muda terhadap Futsal ini sangat tinggi. Buktinya, bahwa setiap ada penyelenggaraan kegiatan serupa, pesertanya pasti membludak,”kata Zaenul.
Ketika ditanya wartawan suarakomunitasnet ini, apakah BP juga dalam penyelenggaraan HUT- nya akan mengadakan kegiatan serupa? Zaenul Hadi mengatakan, juga akan melakukannnya. Namun diakui Zaenul Hadi, bahwa jarak kegiatan yang dilakukan GB dengan HUT Bajang Patuh terlalu dekat. Sehingga tidak memungkinkan pihaknya melakukan kegiatan serupa yang hanya berjarak satu bulan.
“Kalaupun kita (BP) lakukan kegiatan serupa seperti yang dilakukan GB, harus ada jaraknya, minimal 6 bulan. Sehingga limit waktu seperti itu, memungkinkan kita untuk berbuat maksimal,”kilah Zaenul penuh semangat.
Hal senada diungkapkan oleh salah seorang tokoh masyarakat Tukak Bendu Rahim Arto, bahwa kegiatan yang dilakukan GB ini sangat postif, karena dengan adanya kegiatan semacam ini, akan dapat menggugah semangat generasi muda yang selama ini masih terpendam.
“Semangat generasi muda yang selama ini masih terpendam, akan bangkit untuk ambil bagian dalam kegiatan ini. Buktinya banyak kelompok bajang yang ikut daftar,”katanya.
Dukungan yang serupa juga direspon Kadus Tukak Bendu, Sukarti. Kegiatan yang dilakukan Kelompok Bajang Generasi Bersatu (GB) Tukak Bendu didukung sepenuhnya. Diakui Sukarti, banyak yang telah dilakukan GB, baik dalam mendukung program Pemerintah maupun program-program kemasyarakatan. Jadi dalam melaksanakan berbagai program, diakui Sukarti bahwa antara Pemerintah dan kelompok Bajang Generasi Bersatu (GB) saling bahu-membahudalam menuntaskannya.
“Harapan saya kepada Panitia Penyelenggara dan seluruh masyarakat bertetangga, agar selama kegiatan ini berlangsung, ciptakan suasana aman,tertib, sehingga nuansa silaturrahmi persatuan dapat terjalin dengan baik serta hasil akhir dari seluruh rangkaian kegiatan juga akan sukses,”pesannya.
Acara Pembukaan Kegiatan menyambut HUT GB yang ke 4 tahun ini, dihadiri oleh beberapa tokoh, diantaranya sesepuh adat Sesait yang juga anggota DPRD KLU Djekat, Camat Kayangan, Kepala UPTD Dikbudpora, Pemusungan Sesait, Kadus Tukak Bendu,tokoh masyarakat dan beberapa tokoh pemuda perwakilan dari wilayah Kayangan.(Eko)
Kegiatan GB yang rutin digelar sekali setahun ini, dimeriahkan dengan beberapa mata lomba, diantaranya Futsal, tennis meja dan catur.
Menurut Ketua Panitia Misyadin,S.Pd, kegiatan yang dilakukan dalam rangka memeriahkan HUT GB yang ke 4 tahun ini, yang acara puncaknya jatuh pada tanggal 27 November 2011 mendatang, dirangkaikan juga dengan peringatan tahun baru Islam 1433 H.
“Kegiatan yang kami gelar pada HUT GB ke 4 tahun ini adalah Futsal,tennis meja dan catur,” katanya.
Dikatakan Misyadin, bahwa untuk kegiatan Futsal diikuti dua Kecamatan (Kayangan - Gangga) dan pada tahun ini jumlah pesertanya ada 48 tim, sedangkan tahun lalu hanya diikuti 32 tim. “Jadi ada peningkatan kuantitas jika dibandingkan dengan tahun lalu,”kilahnya.
Kegiatan yang banyak menyedot minat generasi muda khususnya kegiatan Futsal ini, pembukaannya telah dibuka secara resmi oleh Pemusungan Sesait, di Lapangan Futsal Tukak Bendu,Senin (08/10/2011).
Dalam sambutannya, Pemusungan Sesait menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Bajang Generasi Bersatu (GB) Tukak Bendu ini. Karena menurutnya, bahwa kegiatan semacam ini dinilainya adalah kegiatan yang positif. Disamping itu, ajang seperti ini sangat bagus terus digalakkan, sehingga nantinya akan terjalin silaturrahmi yang kuat antar generasi muda dan terbinanya persatuan dan kesatuan sebagai wadah mempersatukan seluruh generasi muda diwilayah ini.
Dihadapan para tamu undangan yang hadir, Pemusungan Sesait juga berpesan kepada kepada seluruh panitia penyelenggara dan para pemain yang akan berlaga dilapangan agar melaksanakan kegiatan ini dengan penuh rasa tanggung jawab.
“Ini adalah untuk menyambung silaturrahmi dan untuk persahabatan. Jaga kekompakan dan keamanan, selalu bertindak seportif dalam segala hal serta gunakan aturan yang sudah baku,”katanya.
Kegiatan yang digelar Generasi Bersatu Tukak Bendu ini, juga mendapatkan dukungan dan respon positif dari Ketua kelompok Bajang Patuh (BP) Lokok Sutrang Zaenul Hadi,S.Pd. Menurutnya, bahwa kegiatan yang dilakukan oleh GB ini adalah kegiatan yang positif, karena melalui kegiatan semacam ini dapat menggugah semangat generasi muda. Apalagi kegiatan ini diikuti oleh 48 tim dan tim paling banyak ambil bagian adalah dari Kecamatan Kayangan.
“Saya melihat semangat generasi muda terhadap Futsal ini sangat tinggi. Buktinya, bahwa setiap ada penyelenggaraan kegiatan serupa, pesertanya pasti membludak,”kata Zaenul.
Ketika ditanya wartawan suarakomunitasnet ini, apakah BP juga dalam penyelenggaraan HUT- nya akan mengadakan kegiatan serupa? Zaenul Hadi mengatakan, juga akan melakukannnya. Namun diakui Zaenul Hadi, bahwa jarak kegiatan yang dilakukan GB dengan HUT Bajang Patuh terlalu dekat. Sehingga tidak memungkinkan pihaknya melakukan kegiatan serupa yang hanya berjarak satu bulan.
“Kalaupun kita (BP) lakukan kegiatan serupa seperti yang dilakukan GB, harus ada jaraknya, minimal 6 bulan. Sehingga limit waktu seperti itu, memungkinkan kita untuk berbuat maksimal,”kilah Zaenul penuh semangat.
Hal senada diungkapkan oleh salah seorang tokoh masyarakat Tukak Bendu Rahim Arto, bahwa kegiatan yang dilakukan GB ini sangat postif, karena dengan adanya kegiatan semacam ini, akan dapat menggugah semangat generasi muda yang selama ini masih terpendam.
“Semangat generasi muda yang selama ini masih terpendam, akan bangkit untuk ambil bagian dalam kegiatan ini. Buktinya banyak kelompok bajang yang ikut daftar,”katanya.
Dukungan yang serupa juga direspon Kadus Tukak Bendu, Sukarti. Kegiatan yang dilakukan Kelompok Bajang Generasi Bersatu (GB) Tukak Bendu didukung sepenuhnya. Diakui Sukarti, banyak yang telah dilakukan GB, baik dalam mendukung program Pemerintah maupun program-program kemasyarakatan. Jadi dalam melaksanakan berbagai program, diakui Sukarti bahwa antara Pemerintah dan kelompok Bajang Generasi Bersatu (GB) saling bahu-membahudalam menuntaskannya.
“Harapan saya kepada Panitia Penyelenggara dan seluruh masyarakat bertetangga, agar selama kegiatan ini berlangsung, ciptakan suasana aman,tertib, sehingga nuansa silaturrahmi persatuan dapat terjalin dengan baik serta hasil akhir dari seluruh rangkaian kegiatan juga akan sukses,”pesannya.
Acara Pembukaan Kegiatan menyambut HUT GB yang ke 4 tahun ini, dihadiri oleh beberapa tokoh, diantaranya sesepuh adat Sesait yang juga anggota DPRD KLU Djekat, Camat Kayangan, Kepala UPTD Dikbudpora, Pemusungan Sesait, Kadus Tukak Bendu,tokoh masyarakat dan beberapa tokoh pemuda perwakilan dari wilayah Kayangan.(Eko)
Sabtu, 08 Oktober 2011
Warga Kayangan, Dua Minggu Antri Air Bersih
Sesait, -- Siapapun tak akan menyangkal, air merupakan
komponen terpenting dalam kehidupan manusia.Tak ada air tak ada
kehidupan.

Tetapi dewasa ini ketersediaan air bersih untuk sumber kehidupan sedang mengalami cobaan yang berat terkait dengan kuantitas maupun kualitasnya.
Begitu juga dengan kondisi masyarakat Kayangan saat ini. Hampir dua minggu menunggu giliran didroping air bersih batubara, yang selama ini mereka konsumsi. Namun hingga berita ini diturunkan, kondisi ini terus berlangsung tanpa ada kepastian solusinya.
Menurut Rumati (48) salah seorang petugas yang mengurus jaringan air bersih batubara Santong, mengatakan bahwa macetnya pendropingan air bersih batubara bagi tiga desa (Santong, Sesait, Kayangan) diwilayah Kecamatan Kayangan tersebut, disebabkan jaringan perpipaan di Pal Besi sekitar 6,5 Km sebelah tenggara Pawang Semboya, terputus.
“Kalau jaringan perpipaan tersebut tidak segera di tangani, maka saya yakin kebutuhan akan air bersih bagi warga masyarakat Kecamatan kayangan, akan macet dalam waktu yang lama,”kata Rumati dengan mimic serius.
Rumati juga mengakui bahwa keberadaan dirinya selama mengurus jaringan air bersih batubara ini, banyak suka dukanya. Dengan modal rasa tanggung jawab dan ikhlas, mengabdikan dirinya demi kepentingan keberlangsungan hidup masyarakat banyak, dirinya terus menjalankan misi suci ini. Walau dirinya sadar bahwa keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, sering membuat dirinya disepelekan oleh sebagian elit politik. Kesemuanya itu, tak pernah dihiraukannya.
“Yang penting kita kerja ikhlas dan sungguh-sungguh, insya Allah pasti ada berkahnya, “katanya.
Untuk menanggulangi kerusakan jaringan perpipaan di Pal Besi tersebut, Rumati tidak tinggal diam. Dia terus berusaha mencari dukungan dari warga setempat.Terutama bagi yang membutuhkan air bersih itu.

Upaya untuk perbaikan jaringan perpipaan tersebut, mendapat dukungan dari Kadus Lokok Sutrang. Dia berjanji akan membantu dan mendukung dalam perbaikan jaringan perpipaan yang selama ini menjadi kebutuhan vital bagi warga masyarakat Kayangan itu. Sehingga dalam waktu dekat dirinya akan mengumpulkan warga masyarakatnya untuk urun rembuq, mencari jalan keluar masalah tersebut.
“Kami turut prihatin dengan keadaan ini. Itulah sebabnya kami berinisiatif membantu masalah ini,”katanya.
Sementara itu, Sekcam Kayangan Raden Kertamono menyatakan bahwa untuk mengantisipasi kekurangan air bersih yang melanda sebagian besar warga masyarakat KLU, khususnya di Kayangan adalah dengan berupaya bekerjasama dengan Dinas Dukcapil KLU, dengan mendatangkan tangky pengangkut air bersih untuk delapan desa, dengan cara digilir selama dua kali dalam seminggu untuk masing-masing desa.
“Ini salah satu upaya kita untuk mengatasi krisis air bersih selama musim kemarau yang berkepanjangan tahun ini,”ungkapnya.
Menyoroti rusaknya jaringan perpipaan air bersih Batubara Santong, yang berakibat pada terputusnya suplai air bersih bagi warga Kayangan selama hampir dua minggu belakangan ini, R.Kertamono juga berharap agar semua pihak yang terkait, terutama Pengurus BK-PAB Kecamatan Kayangan yang menangani masalah tersebut, hendaknya lebih proaktif melihat kondisi yang vital ini.
Disamping itu, R.Kertamono juga telah melakukan berbagai upaya, terkait masalah kelangkaan air bersih yang melanda warga Kayangan itu. Diantaranya adalah dengan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama dengan para Kepala SKPD terkait, Kepala Desa dan Pengurus BK-PAB dengan jajarannya. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, masalah yang krusial ini bisa teratasi dengan segera.(Eko)
Tetapi dewasa ini ketersediaan air bersih untuk sumber kehidupan sedang mengalami cobaan yang berat terkait dengan kuantitas maupun kualitasnya.
Begitu juga dengan kondisi masyarakat Kayangan saat ini. Hampir dua minggu menunggu giliran didroping air bersih batubara, yang selama ini mereka konsumsi. Namun hingga berita ini diturunkan, kondisi ini terus berlangsung tanpa ada kepastian solusinya.
Menurut Rumati (48) salah seorang petugas yang mengurus jaringan air bersih batubara Santong, mengatakan bahwa macetnya pendropingan air bersih batubara bagi tiga desa (Santong, Sesait, Kayangan) diwilayah Kecamatan Kayangan tersebut, disebabkan jaringan perpipaan di Pal Besi sekitar 6,5 Km sebelah tenggara Pawang Semboya, terputus.
“Kalau jaringan perpipaan tersebut tidak segera di tangani, maka saya yakin kebutuhan akan air bersih bagi warga masyarakat Kecamatan kayangan, akan macet dalam waktu yang lama,”kata Rumati dengan mimic serius.
Rumati juga mengakui bahwa keberadaan dirinya selama mengurus jaringan air bersih batubara ini, banyak suka dukanya. Dengan modal rasa tanggung jawab dan ikhlas, mengabdikan dirinya demi kepentingan keberlangsungan hidup masyarakat banyak, dirinya terus menjalankan misi suci ini. Walau dirinya sadar bahwa keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, sering membuat dirinya disepelekan oleh sebagian elit politik. Kesemuanya itu, tak pernah dihiraukannya.
“Yang penting kita kerja ikhlas dan sungguh-sungguh, insya Allah pasti ada berkahnya, “katanya.
Untuk menanggulangi kerusakan jaringan perpipaan di Pal Besi tersebut, Rumati tidak tinggal diam. Dia terus berusaha mencari dukungan dari warga setempat.Terutama bagi yang membutuhkan air bersih itu.
Upaya untuk perbaikan jaringan perpipaan tersebut, mendapat dukungan dari Kadus Lokok Sutrang. Dia berjanji akan membantu dan mendukung dalam perbaikan jaringan perpipaan yang selama ini menjadi kebutuhan vital bagi warga masyarakat Kayangan itu. Sehingga dalam waktu dekat dirinya akan mengumpulkan warga masyarakatnya untuk urun rembuq, mencari jalan keluar masalah tersebut.
“Kami turut prihatin dengan keadaan ini. Itulah sebabnya kami berinisiatif membantu masalah ini,”katanya.
Sementara itu, Sekcam Kayangan Raden Kertamono menyatakan bahwa untuk mengantisipasi kekurangan air bersih yang melanda sebagian besar warga masyarakat KLU, khususnya di Kayangan adalah dengan berupaya bekerjasama dengan Dinas Dukcapil KLU, dengan mendatangkan tangky pengangkut air bersih untuk delapan desa, dengan cara digilir selama dua kali dalam seminggu untuk masing-masing desa.
“Ini salah satu upaya kita untuk mengatasi krisis air bersih selama musim kemarau yang berkepanjangan tahun ini,”ungkapnya.
Menyoroti rusaknya jaringan perpipaan air bersih Batubara Santong, yang berakibat pada terputusnya suplai air bersih bagi warga Kayangan selama hampir dua minggu belakangan ini, R.Kertamono juga berharap agar semua pihak yang terkait, terutama Pengurus BK-PAB Kecamatan Kayangan yang menangani masalah tersebut, hendaknya lebih proaktif melihat kondisi yang vital ini.
Disamping itu, R.Kertamono juga telah melakukan berbagai upaya, terkait masalah kelangkaan air bersih yang melanda warga Kayangan itu. Diantaranya adalah dengan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama dengan para Kepala SKPD terkait, Kepala Desa dan Pengurus BK-PAB dengan jajarannya. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, masalah yang krusial ini bisa teratasi dengan segera.(Eko)
Minggu, 02 Oktober 2011
Penarikan Mahasiswa KKN Angkatan XIX UNW Mataram
Kayangan,--- Berdasarkan kalender Akademik Universitas
Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram, bahwa kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
yang penempatannya di empat desa diwilayah Kecamatan Kayangan,
berlangsung sejak tanggal 18 Agustus 2011 hingga berakhir tanggal 30
September 2011.

Penarikan Mahasiswa KKN angkatan ke XIX sejumlah 75 orang ini,berlangsung di aula Kantor Camat Kayangan,dihadiri oleh Camat Kayangan, UPTD Dikbudpora,KCD Pertanian, Dosen Pembimbing,Kepala Desa Kayangan, Pendua, Dangiang,Gumantar, dan seluruh Mahasiswa,Jum’at (30/09).
Dalam sambutannya, Camat Kayangan yang diwakili Kasi Pemerintahan Bambang Suralaga, mengucapkan terima kasih atas selesainya pelaksanaan KKN dari Mahasiswa UNW Mataram, yang penempatannya di empat desa (Kayangan,Dangiang,Gumantar, Pendua) yang ada diwilayah Kecamatan Kayangan pada tahun ini.
Keberadaan Mahasiswa KKN selama ini, sangat membantu dan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya di desa ketempatan.Karena banyak hal-hal yang positif yang didapatkan selama mengikuti kegiatan KKN ini.Disamping itu, ilmu yang didapatkan di perguruan tinggi kemudian dapat di praktekkan dilapangan.
”Banyak hal positif yang didapatkan selama mengikuti kegiatan KKN dan silahkan ambil manfaatnya,”kata Bambang.
Pihak Kecamatan mengharapkan agar pada tahun-tahun mendatang dari Perguruan Tinggi bisa menempatkan Mahasiswanya lebih banyak lagi. ”Jika perlu semua desa kebagian, ”harapnya singkat.
Camat Kayangan pada kesempatan itu juga mengungkapkan bahwa, sebenarnya masih banyak yang harus dilakukan oleh para Mahasiswa di daerahnya. Namun di akuinya, semua itu disebabkan oleh waktu pelaksanaan KKN ini terbatas. Sehingga masih banyak yang belum terselesaikan.”Semua itu butuh waktu,”katanya.
Sementara salah seorang Mahasiswa KKN Nila Indra Lesmana, mengaku bahwa dirinya bersama rekan-rekan Mahasiswa yang lain merasa terkesan dengan sambutan dan dukungan dari masyarakat di lokasi KKN yang masih polos dan masih mengedepankan nuansa adat yang asli. Lebih-lebih lokasi penempatan KKN tersebar di masing-masing desa,sehingga hubungan sosial dengan masyarakat sekitar lebih akrab.
Selanjutnya, Pengelola Perguruan Tinggi wilayah Kayangan yang mewakili Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram Nurdin,S.Pd, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kecamatan yang telah menerima dan menyambut dengan baik Mahasiswa dari UNW Mataram untuk ber KKN di wilayah ini. Di akhir sambutannya, Nurdin menarik kembali Mahasiswa KKN angkatan XIX dan selanjutnya dikembalikan ke Perguruan Tinggi, guna menyelesaikan tugas-tugas berikutnya.(Eko).
Penarikan Mahasiswa KKN angkatan ke XIX sejumlah 75 orang ini,berlangsung di aula Kantor Camat Kayangan,dihadiri oleh Camat Kayangan, UPTD Dikbudpora,KCD Pertanian, Dosen Pembimbing,Kepala Desa Kayangan, Pendua, Dangiang,Gumantar, dan seluruh Mahasiswa,Jum’at (30/09).
Dalam sambutannya, Camat Kayangan yang diwakili Kasi Pemerintahan Bambang Suralaga, mengucapkan terima kasih atas selesainya pelaksanaan KKN dari Mahasiswa UNW Mataram, yang penempatannya di empat desa (Kayangan,Dangiang,Gumantar, Pendua) yang ada diwilayah Kecamatan Kayangan pada tahun ini.
Keberadaan Mahasiswa KKN selama ini, sangat membantu dan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya di desa ketempatan.Karena banyak hal-hal yang positif yang didapatkan selama mengikuti kegiatan KKN ini.Disamping itu, ilmu yang didapatkan di perguruan tinggi kemudian dapat di praktekkan dilapangan.
”Banyak hal positif yang didapatkan selama mengikuti kegiatan KKN dan silahkan ambil manfaatnya,”kata Bambang.
Pihak Kecamatan mengharapkan agar pada tahun-tahun mendatang dari Perguruan Tinggi bisa menempatkan Mahasiswanya lebih banyak lagi. ”Jika perlu semua desa kebagian, ”harapnya singkat.
Camat Kayangan pada kesempatan itu juga mengungkapkan bahwa, sebenarnya masih banyak yang harus dilakukan oleh para Mahasiswa di daerahnya. Namun di akuinya, semua itu disebabkan oleh waktu pelaksanaan KKN ini terbatas. Sehingga masih banyak yang belum terselesaikan.”Semua itu butuh waktu,”katanya.
Sementara salah seorang Mahasiswa KKN Nila Indra Lesmana, mengaku bahwa dirinya bersama rekan-rekan Mahasiswa yang lain merasa terkesan dengan sambutan dan dukungan dari masyarakat di lokasi KKN yang masih polos dan masih mengedepankan nuansa adat yang asli. Lebih-lebih lokasi penempatan KKN tersebar di masing-masing desa,sehingga hubungan sosial dengan masyarakat sekitar lebih akrab.
Selanjutnya, Pengelola Perguruan Tinggi wilayah Kayangan yang mewakili Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram Nurdin,S.Pd, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kecamatan yang telah menerima dan menyambut dengan baik Mahasiswa dari UNW Mataram untuk ber KKN di wilayah ini. Di akhir sambutannya, Nurdin menarik kembali Mahasiswa KKN angkatan XIX dan selanjutnya dikembalikan ke Perguruan Tinggi, guna menyelesaikan tugas-tugas berikutnya.(Eko).
Sabtu, 01 Oktober 2011
Peninggalan Sejarah di Gumi Paer Sesait, Menyimpan Nilai Sejarah
Sesait, -- Berbicara mengenai sejarah, pandangan
kita tidak pernah lepas dari masa lampau.
Sejarah bukanlah suatu yang asing bagi kita.Walaupun demikian, masih banyak diantara kita yang belum mengetahui sejarah peninggalan masa lalu yang ada disekitar kita. Hal ini disebabkan karena kurangnya peninggalan – peninggalan tertulis yang ditinggalkan oleh masyarakat terdahulu yang sampai kepada generasi berikutnya.

Dalam tulisan kali ini, terfokus pada beberapa peninggalan sejarah yang ditemukan di Gumi Paer Sesait, yang berhasil penulis kumpulkan dari berbagai sumber.
Menurut Perbekel Adat Sesait Masidep, menyebutkan ada beberapa peninggalan sejarah yang ditemukan di Gumi Paer Sesait, yang hingga kini masih tersimpan lestari. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut, ada disimpan dalam Kampu dan ada pula masih disimpan oleh keturunannya.
Diantara peninggalan sejarah yang hingga kini masih tersimpan lestari tersebut,
Sejarah bukanlah suatu yang asing bagi kita.Walaupun demikian, masih banyak diantara kita yang belum mengetahui sejarah peninggalan masa lalu yang ada disekitar kita. Hal ini disebabkan karena kurangnya peninggalan – peninggalan tertulis yang ditinggalkan oleh masyarakat terdahulu yang sampai kepada generasi berikutnya.
Dalam tulisan kali ini, terfokus pada beberapa peninggalan sejarah yang ditemukan di Gumi Paer Sesait, yang berhasil penulis kumpulkan dari berbagai sumber.
Menurut Perbekel Adat Sesait Masidep, menyebutkan ada beberapa peninggalan sejarah yang ditemukan di Gumi Paer Sesait, yang hingga kini masih tersimpan lestari. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut, ada disimpan dalam Kampu dan ada pula masih disimpan oleh keturunannya.
Diantara peninggalan sejarah yang hingga kini masih tersimpan lestari tersebut,
Pertama, Kulem adalah nama sebuah alat yang dipergunakan oleh Mak Beleq (sebutan Datu Bayan sebelum menjadi Datu Bayan) sebagai sikap (senjata) dalam perjalanan jauh ke Semboya, untuk memantau kawasan utara gunung Rinjani yang nantinya akan dijadikan sebagai lokasi mendirikan sebuah kerajaan.
Kulem, yang sudah berusia puluhan abad ini, secara turun binurun masih tersimpan rapi oleh keturunannya yang ke-58 di dusun Sumur Pande Tengak Desa Sesait Kecamatan Kayangan KLU. Kulem tersebut adalah sejenis Perisai terbuat dari kayu dan sebilah keris.
Sebenarnya, Kulem ini adalah nama orang yang mendampingi Mak Beleq dalam perjalanannya menuju daerah Semboya, untuk melihat seluruh daerah kawasan utara gunung Rinjani, daerah yang mana kira-kira yang cocok untuk mendirikan sebuah kerajaan baru. Dari kerajaan baru inilah nantinya akan dijadikan pusat penyebaran Islam keseluruh pelosok dikawasan utara gunung Rinjani.
Mak Beleq, dengan didampingi oleh pengiringnya yang bernama Kulem pada masa itu, sebelum sampai ke tempat tujuan, Mak Belek singgah dulu disebuah gubug di daerah Santong (sekarang Santong Asli) untuk beristirahat sejenak menghilangkan kepenatan akibat perjalanan jauh. Gubug yang digunakan oleh Mak Beleq sebagai tempat istirahat tersebut, hingga sekarang gubug ini masih terpelihara dengan baik oleh keturunannya, yang memang berdasarkan purusanya.
Untuk sampai ketempat yang dituju oleh Mak Beleq bersama pendampingnya Kulem kala itu, mengharuskan dirinya singgah dulu untuk beristirahat dirumah yang sampai saat ini masih terpelihara di Santong Asli. Setelah itu baru dilanjutkan perjalanannya menuju Semboya. Tiba disana, dicarilah tempat yang cocok dijadikan pijakan, untuk melihat daerah sejauh mata memandang yang ada di lereng utara gunung Rinjani. Batu pijakan yang digunakan oleh Mak Beleq kala itu, yang oleh masyarakat adat wet Sesait dikenal dengan nama”Batu Penginjakan Semboya,” juga sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan dijaga oleh purusanya.
Kedua, ‘Bale Bangar Gubuq’, yang oleh masyarakat setempat disebutnya Pagalan. Bale ini, terletak ditengah-tengah Gubuq Dasan Beleq, dengan ukuran 5x5 m. Bale (rumah) ini, menurut Malinom, keberadaannya diyakini dibuat oleh orang yang pertama kali datang dan menetap di Dusun Dasan Beleq.
“Kedatangannya dari mana, dan siapa nama nya, itu tidak bisa dipastikan,”kata Malinom dengan mimik yang penuh keseriusan.
Namun menurut Sahir (40), salah seorang tokoh muda yang disegani di dusun setempat, menceritakan kepada suarakomunitas.net, tentang keberadaan dari seorang wali penyebar agama Islam yang pertamakali datang dan menetap di kampung Dasan Beleq tersebut.
Diceritakan, konon katanya, pada sekitar abad 16 Masehi, ketika agama Islam sudah mulai tersebar ke seluruh pelosok tanah air, tak terkecuali para penyebar ajaran Islam sampai juga ke wilayah utara lereng gunung Rinjani. Termasuk di gumi Dasan Beleq ini.
Para penyebar agama Islam yang pertama kali datang ke tempat itu (Dasan Beleq), menurut Sahir, diawali dari Gunung Rinjani. Penyebar agama Islam ini, bernama Mak Beleq dan Kendi (menyerupai Kendi) turun dari Gunung Rinjani, yang dikemudian hari, dalam perjalanan sejarah, setelah berkuasa dan menyebarkan agama Islam di daerah Bayan, Mak Beleq dikenal dengan sebutan Datu Bayan.Sedangkan temannya yang bernama Kendi tadi, kala itu,tetap tinggal dan menyebarkan agama Islam di daerah Dasan Beleq dan sekitarnya.
Ketiga, Peninggalan Sriangge, berupa : Takepan Lahat
yang ditulis didaun lontar, Kitab Shalawatan dan Umbak Bayan, juga yang
hingga kini masih tersisa adalah pohon Kelor dan Paving block. Pohon
Kelor (remunggek) ini masih ada hingga sekarang, tidak jauh dari
makamnya. Pohon ini dulunya diyakini sengaja ditanam dekat tempayan
(Ploncor) yang digunakan sebagai wadah menyimpan air untuk wudu’.
Dalam menjalani kehidupan bersama istrinya di gawah alas bana ini, Sriangge terus menjalankan kewajibannya untuk ta’at kepada Allah Swt, hingga akhir hayatnya.Disamping itu, hingga saat ini bekas peninggalan Sriangge masih tersimpan.
Menurut Amaq Sudirahman (Narimah), salah seorang keturunan ke -12 dari Sriagan, menceritakan bahwa ke-5 anak Sriagan ini, antara lain Sriangge, Bading, Gubah, Oncok dan Goneng.
”Kelima anak dari Sriagan ini mempunyai andil dalam memperluas wilayah penyebaran Islam kala itu,”sebut Narimah.
Sebut saja, lanjut Narimah seperti Gubah, mendapat tugas ke Soloh dan ke Jawa Timur serta ke Betawi, Bading ke Lombok Tengah, Goneng ke Bayan, Oncok di sekitar Barat Laut wet Sesait dan Sriangge ke Beraringan dan sekitarnya.
Bagaimana kiprah dan keberadaan dari para penyebar Islam putra asli dari Gumi Paer Sesait ini, tidak banyak diketahui. Hanya yang dibahas dalam tulisan ini adalah ketokohan Sriangge dan keteguhan imannya dalam mempertahankan ajaran Islam dari pengaruh Hindu yang masuk ke wet Sesait kala itu.
Di ceritakan bahwa ketika berkuasanya kerajaan Majapahit sampai menguasai seluruh Nusantara lewat sumpah serapah dari patihnya Gajah Mada, maka pengaruhnya sampai juga ke tanah / gumi paer Sesait, yang kala itu penduduknya menganut agama Islam yang ta’at beribadah. Sehingga, ketika pengaruh Hindu ini masuk ke gumi paer Sesait, maka dari kalangan santri yang ta’at beribadah ini, meninggalkan gumi paer Sesait untuk mengasingkan diri dari pengaruh Hindu ke salah satu kawasan Gawah Alas Bana, yang belum pernah terjamah tangan manusia.
Di Gawah Alas Bana (diyakini sebelah barat Dusun Beraringan sekarang) inilah Santri yang bernama Sriangge bersama keluarganya tinggal dan menetap hingga akhir hayatnya.
Dalam menjalani kehidupan bersama istrinya di gawah alas bana ini, Sriangge terus menjalankan kewajibannya untuk ta’at kepada Allah Swt, hingga akhir hayatnya.Disamping itu, hingga saat ini bekas peninggalan Sriangge masih tersimpan.
Menurut Amaq Sudirahman (Narimah), salah seorang keturunan ke -12 dari Sriagan, menceritakan bahwa ke-5 anak Sriagan ini, antara lain Sriangge, Bading, Gubah, Oncok dan Goneng.
”Kelima anak dari Sriagan ini mempunyai andil dalam memperluas wilayah penyebaran Islam kala itu,”sebut Narimah.
Sebut saja, lanjut Narimah seperti Gubah, mendapat tugas ke Soloh dan ke Jawa Timur serta ke Betawi, Bading ke Lombok Tengah, Goneng ke Bayan, Oncok di sekitar Barat Laut wet Sesait dan Sriangge ke Beraringan dan sekitarnya.
Bagaimana kiprah dan keberadaan dari para penyebar Islam putra asli dari Gumi Paer Sesait ini, tidak banyak diketahui. Hanya yang dibahas dalam tulisan ini adalah ketokohan Sriangge dan keteguhan imannya dalam mempertahankan ajaran Islam dari pengaruh Hindu yang masuk ke wet Sesait kala itu.
Di ceritakan bahwa ketika berkuasanya kerajaan Majapahit sampai menguasai seluruh Nusantara lewat sumpah serapah dari patihnya Gajah Mada, maka pengaruhnya sampai juga ke tanah / gumi paer Sesait, yang kala itu penduduknya menganut agama Islam yang ta’at beribadah. Sehingga, ketika pengaruh Hindu ini masuk ke gumi paer Sesait, maka dari kalangan santri yang ta’at beribadah ini, meninggalkan gumi paer Sesait untuk mengasingkan diri dari pengaruh Hindu ke salah satu kawasan Gawah Alas Bana, yang belum pernah terjamah tangan manusia.
Di Gawah Alas Bana (diyakini sebelah barat Dusun Beraringan sekarang) inilah Santri yang bernama Sriangge bersama keluarganya tinggal dan menetap hingga akhir hayatnya.
Keempat, Peninggalan Sayyid Anom dalam kiprahnya
menyebarkan agama Islam. Al-Qur’an tulis tangan pada kulit onta, yang
usianya menurut Piagam Sesait sekitar 580 tahun yang lalu. Disamping
itu, ada juga peninggalannya yang lain, seperti Mesjid Kuno, Tongkat
khutbah yang terbuat dari hati pohon pisang (galih) dan Balai Agung Adat
(Singgasana Raja) yang disebut Kampu.
Ajaran-ajaran yang dibawa oleh ulama Sayyid Anom ini adalah Fiqh Ushul dan Tasawuf. Dalam praktek syiarnya, metode yang dilakukan adalah tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat. Sehingga dalam perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw ketika itu, dilaksanakan secara adat. Hingga kini, ritual Maulid adat di kampung yang namanya Sesait ini, tetap lestari pelaksanaan Maulid secara Adat.
Ulama Sayyid Anom, dalam penyampaian risalah atau ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini, menurut Piagam Sesait, bahwa Raja Sesait Demung Melsi Jaya, berikut empat orang Patihnya masuk Islam pada awal abad ke 17.
Kelima, Peninggalan situs pemandian Inaq Empleng Bleleng yaitu Situs Sumur Lokok Paok.
Sekitar satu kilo meter ke arah barat laut Kampung Sesait inilah lokasi situs Sumur Lokok Paok itu berada. Keberadaan sumur ini, persis dilereng bukit gontoran Gunung Konoq, diatas Lokok Saong sebelah timur Gubuq Setowek, yang hingga kini keasliannya masih terpelihara rapi. Hanya saja, seiring dengan perubahan zaman jutaan abad yang silam, penutup dari sumur ini sudah raib ditelan waktu.
Menurut cerita M.Ali salah seorang tokoh masyarakat Sesait, menceritakan hal ihwal keberadaan sumur lokok paok tersebut.
Di ceritakannya bahwa, sumur lokok paok ini, dulu pada zaman ireng, sumur ini diyakini sebagai sumur tempat pemandian Inaq Empleng Bleleng. Batu lesung yang ada persis didekat sumur ini, diyakini sebagai wadah tempat menumbuk kelapa atau sejenisnya sebagai alat untuk keramas. Kebiasaan orang tua zaman dahulu, sebelum mandi, biasanya keramas terlebih dahulu, baru kemudian mandi ’melangeh’.
Tidak jauh dari tempat batu lesung tadi, yaitu sekitar satu meter arah utara darinya terdapat satu buah batu lesung lagi yang lubangnya ada lima. Ini, menurut M.Ali, diyakini juga sebagai tempat Inaq Empleng Bleleng menaruh segala macam racikan ramuan untuk dijadikan obat-obatan.
Disamping situs Sumur Lokok Paok, ada dua sumur lagi berderet disebelah utaranya, yaitu Sumur Lokok Lengkak dan Sumur Lokok Koloh yang menyerupai gua. Dari sumur Koloh yang menyerupai gua inilah hingga sekarang digunakan oleh penduduk Sejongga, untuk mengambil air sebagai sumber kehidupan mereka.
Keenam, situs Lokok Kremean,Sumur Jukung, Sumur Minyak, Batu Lesong dan Lokok Nampih.
Menurut penuturan Lakiep (48) yang sudah empat tahun menjaga situs ini, menjelaskan bahwa, situs-situs ini ada keterkaitannya satu sama lain dan mengaku sebagai penjaga situs tersebut berdasarkan Purusa (garis keturunan) dari Bapuk Buntit-Amaq Sanggia (Marga Sanggia).
”Menurut cerita orang tua jaman dahulu, bahwa sebelum pelaksanaan Maulid Adat, ditempat situs ini, Pare (padi) ditutu (ditumbuk) , kemudian ditampik (dibersihkan), kemudian di Krem (di rendam), lalu dibuat Jaja Pangan (sejenis penganan), lau di goreng. Setelah semuanya ini sudah selesai, kemudian dibawa kembali menggunakan Jukung (sampan/rakit) ke Kampu (rumah adat) di Sesait untuk proses selanjutnya.”cerita Lakiep dengan semangat.
”Itulah sebabnya ada situs Batu Lesong (digunakan untuk menumbuk padi), situs Lokok Nampih (tempat Menampik/membersihkan beras), situs Lokok Kremean (tempat merendam beras sebelum dibuat jaja pangan) dan situs Sumur Jukung (diyakini sebagai sampan/rakit untuk membawa beras dan jaja pangan ke Kampu),”jelas Lakiep.
Ketujuh, Sumur Pemandian Datu Sesait Lokok Kapuk. Konon, menurut sejarah Sesait, dimasa jayanya pemerintahan “Datu Sesait” atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Wet Sesait dengan sebutan “Tau Lokak Empat” (Pemusungan, Penghulu, Mangku Gumi dan Jintaka), sumur lokok Kapuk ini adalah di yakini sebagai tempat Pemandiannya.
Menurut cerita A.Kaimah (alm) yang berkuasa di Kampu Sesait (1870) sebagai Raja Sesait yang ke-25 kala itu, yang diceritakan kembali oleh Dagul dan Bukren, bahwa keberadaan Sumur Lokok Kapuk ini, dulunya adalah sebagai induk dari seluruh mata air yang bermunculan di gontoran Sentul hingga Gubug Setowek. Namun setelah Sumur Lokok Kapuk ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, maka sumur ini tidak lagi mengeluarkan air seperti sedia kala atau sebesar sebagaimana keadaannya semula.
Sebagaimana diceritakan bahwa diameter sumber mata air di sumur lokok Kapuk yang diyakini ditunggui oleh seekor ikan Tuna Putih ini adalah sebesar batang pohon enau. Tidak bisa dibayangkan, betapa besar air yang keluar dari sumur tersebut. Sehingga ketika sumur ini belum ditutup dulu, aliran airnya membentuk sebuah kali besar. Namun sekarang, bekas aliran kali tersebut sudah menjadi areal persawahan milik Dagul Sentul.
Sumur ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, menggunakan Ijuk, pare bulu satu ikat, sebilah keris, seekor ayam putih mulus dan daun sirih digulung kemudian dimasukkan dalam kepeng bolong dalam sebuah upacara ritual adat, karena dikhawatirkan akan menjadi rebutan penguasa Hindu yang sampai ke wet Sesait kala itu. Seandainya sumur ini tidak ditutup, maka orang-orang Hindu pelarian Majapahit dari Jawa abad 16 silam, akan bermukim dan menetap di lokasi sekitar sumur itu.
Kekhawatiran para sesepuh Sesait kala itu, patut diacungi jempol. Karena berhasil menutup sumur yang menjadi tempat pemandian para Datu yang memerintah di wet Sesait kala itu. Sehingga dengan ditutupnya sumur tersebut, penguasa Hindu yang datang ke Sesait yang merupakan pelarian dari Majapahit karena terdesak dengan masuknya pengaruh Islam masa itu, maka tidak menemukan sumur yang merupakan tempat pemandian para ‘Datu Sesait’ yang berkuasa secara turun-binurun.
Kedelapan, Situs Makam Datu Sentul yang bernama ’Sinom’. Makam ini tidak jauh dari jalan raya Sentul-Cempaka dan terletak dipinggir telabah, sekitar 10 meter sebelah timur rumah Masdan (43) di Sentul Desa Pendua Kecamatan Kayangan Lombok Utara.
Keberadaan Makam ini, yang oleh masyarakat setempat diyakini memilki Karomah tersendiri. Misalnya saja, menurut salah seorang tokoh masyarakat Sentul yang tidak ingin dipublikasikan namanya mengatakan, ketika ada anggota masyarakat yang secara kebetulan duduk di atas makam Datu ini, maka seketika buah pelirnya terasa membesar. Padahal kenyataannya tidak demikian. Hanya perasaannya saja yang merasakan buah pelirnya membesar.
Menurut sejarah, ketika Datu Sinom ini memerintah kerajaan Sentul ratusan tahun silam, diceritakan bahwa pada masa jayanya, Datu Sinom adalah satu – satunya Raja yang tidak memiliki musuh dengan raja-raja yang berkuasa dilingkar utara gunung Rinjani kala itu. Termasuk dengan Raja Sesait. Karena antara Raja Sentul dengan Raja Sesait berbesan.
Wilayah kerajaan Sentul diyakini adalah hanya sebatas gontoran Sentul yang sekarang hingga Gubug Setowek. Kerajaan ini memiliki Kaula Bala sejumlah 144 KK. Itulah sebabnya, hingga sekarang, jumlah penduduk yang mendiami daerah Sentul yang menjadi sebuah Dusun saat ini harus berjumlah 144 KK. Tidak boleh lebih dari itu. Kalau lebih, menurut Bukren, harus pindah tempat tinggal diluar dari wet Sentul.
Peninggalan Datu Sinom diantaranya adalah Sumur Lokok Buyut. Sumur ini adalah tempat pemandian Datu Sinom beserta keluarganya. Namun keberadaan keluarga maupun sampai kapan memerintah, tidak banyak diketahui. Hanya, Datu sinom ini memiliki menantu yang bernama Merkani. Merkani inilah yang menurunkan nenek moyang Bukren Klau di Sesait.Dan salah satu peninggalannya yang sangat terkenal hingga kini masih dilestarikan adalah ’Tembang Sinom’.
Kesembilan, Situs telapak kaki Datu Keling. Menrut keterangan tokoh Adat KLU, Djekat S.Sos. yang juga anggota DPRD KLU, bahwa bekas telapak kaki ini erat kaitannya dengan cerita rakyat atau dongeng masyarakat Sesait, yaitu kisah perjalanan Teruna Keling (Datu Keling). Konon ceritanya Datu Keling pernah berwasiat kepada Kaula Balanya (Rakyat) jika suatu saat dia akan menghilang maka dia akan meninggalkan bekas telapak kakinya. Sangat besar kemungkinan, jika bekas telapak kaki ini adalah jejak Datu Keling seperti yang diwasiatkan.
Hal ini juga, dibenarkan oleh Juru Tulis Pembekel Adat Wet Sesait,Masidep. menjelaskan bahwa kisah perjalanan Datu Keling diabadikan dalam cerita Cupak Gurantang. Konon ceritanya, Teruna Kling memiliki dua orang putra. Putra pertamanya bernama Cupak yang berkarakter rakus dan sombong sedangkan putra keduanya bernama Gurantang adalah sosok yang lembut, baik hati, jujur dan patuh kepada orang tua. Sehingga kisah cupak gurantang diabadikan dalam bentuk drama oleh masyarakat.
Disamping keberadaan situs telapak kaki yang menempel ditebing bebatuan sungai cempogok Kayangan tersebut, bukti yang lain memperkuat dugaan bahwa, memang benar bekas telapak kaki Datu Keling yang diyakini pernah berkuasa disekitar lereng gunung Rinjani pada masa pra aksara, juga tidak jauh dari situs telapak kali ini,sekitar dua ratus meter kea rah selatan, ditemukan pula situs Jukung (sampan/rakit), Telapak Kaki Kuda dan situs dudukan serta situs aliran air seni dari Datu Keling yang menempel disekitar bebatuan kelat lante Empak Mayong Kayangan.
Tidak hanya itu saja, sebagai pendukung keberadaan situs telapak kaki ini, sekitar 500 meter kearah barat daya situs tersebut, ditemukan pula situs Sumur Jembung dan situs Batu Dendeng Bertutup. Situs-situs yang ditemukan ini pula, yang oleh masyarakat adat wet Sesait diyakini sebagai peninggalan dari Datu Keling yang pernah ada dan jaya dimasanya.(Eko).
Ajaran-ajaran yang dibawa oleh ulama Sayyid Anom ini adalah Fiqh Ushul dan Tasawuf. Dalam praktek syiarnya, metode yang dilakukan adalah tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat. Sehingga dalam perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw ketika itu, dilaksanakan secara adat. Hingga kini, ritual Maulid adat di kampung yang namanya Sesait ini, tetap lestari pelaksanaan Maulid secara Adat.
Ulama Sayyid Anom, dalam penyampaian risalah atau ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini, menurut Piagam Sesait, bahwa Raja Sesait Demung Melsi Jaya, berikut empat orang Patihnya masuk Islam pada awal abad ke 17.
Kelima, Peninggalan situs pemandian Inaq Empleng Bleleng yaitu Situs Sumur Lokok Paok.
Sekitar satu kilo meter ke arah barat laut Kampung Sesait inilah lokasi situs Sumur Lokok Paok itu berada. Keberadaan sumur ini, persis dilereng bukit gontoran Gunung Konoq, diatas Lokok Saong sebelah timur Gubuq Setowek, yang hingga kini keasliannya masih terpelihara rapi. Hanya saja, seiring dengan perubahan zaman jutaan abad yang silam, penutup dari sumur ini sudah raib ditelan waktu.
Menurut cerita M.Ali salah seorang tokoh masyarakat Sesait, menceritakan hal ihwal keberadaan sumur lokok paok tersebut.
Di ceritakannya bahwa, sumur lokok paok ini, dulu pada zaman ireng, sumur ini diyakini sebagai sumur tempat pemandian Inaq Empleng Bleleng. Batu lesung yang ada persis didekat sumur ini, diyakini sebagai wadah tempat menumbuk kelapa atau sejenisnya sebagai alat untuk keramas. Kebiasaan orang tua zaman dahulu, sebelum mandi, biasanya keramas terlebih dahulu, baru kemudian mandi ’melangeh’.
Tidak jauh dari tempat batu lesung tadi, yaitu sekitar satu meter arah utara darinya terdapat satu buah batu lesung lagi yang lubangnya ada lima. Ini, menurut M.Ali, diyakini juga sebagai tempat Inaq Empleng Bleleng menaruh segala macam racikan ramuan untuk dijadikan obat-obatan.
Disamping situs Sumur Lokok Paok, ada dua sumur lagi berderet disebelah utaranya, yaitu Sumur Lokok Lengkak dan Sumur Lokok Koloh yang menyerupai gua. Dari sumur Koloh yang menyerupai gua inilah hingga sekarang digunakan oleh penduduk Sejongga, untuk mengambil air sebagai sumber kehidupan mereka.
Keenam, situs Lokok Kremean,Sumur Jukung, Sumur Minyak, Batu Lesong dan Lokok Nampih.
Menurut penuturan Lakiep (48) yang sudah empat tahun menjaga situs ini, menjelaskan bahwa, situs-situs ini ada keterkaitannya satu sama lain dan mengaku sebagai penjaga situs tersebut berdasarkan Purusa (garis keturunan) dari Bapuk Buntit-Amaq Sanggia (Marga Sanggia).
”Menurut cerita orang tua jaman dahulu, bahwa sebelum pelaksanaan Maulid Adat, ditempat situs ini, Pare (padi) ditutu (ditumbuk) , kemudian ditampik (dibersihkan), kemudian di Krem (di rendam), lalu dibuat Jaja Pangan (sejenis penganan), lau di goreng. Setelah semuanya ini sudah selesai, kemudian dibawa kembali menggunakan Jukung (sampan/rakit) ke Kampu (rumah adat) di Sesait untuk proses selanjutnya.”cerita Lakiep dengan semangat.
”Itulah sebabnya ada situs Batu Lesong (digunakan untuk menumbuk padi), situs Lokok Nampih (tempat Menampik/membersihkan beras), situs Lokok Kremean (tempat merendam beras sebelum dibuat jaja pangan) dan situs Sumur Jukung (diyakini sebagai sampan/rakit untuk membawa beras dan jaja pangan ke Kampu),”jelas Lakiep.
Ketujuh, Sumur Pemandian Datu Sesait Lokok Kapuk. Konon, menurut sejarah Sesait, dimasa jayanya pemerintahan “Datu Sesait” atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Wet Sesait dengan sebutan “Tau Lokak Empat” (Pemusungan, Penghulu, Mangku Gumi dan Jintaka), sumur lokok Kapuk ini adalah di yakini sebagai tempat Pemandiannya.
Menurut cerita A.Kaimah (alm) yang berkuasa di Kampu Sesait (1870) sebagai Raja Sesait yang ke-25 kala itu, yang diceritakan kembali oleh Dagul dan Bukren, bahwa keberadaan Sumur Lokok Kapuk ini, dulunya adalah sebagai induk dari seluruh mata air yang bermunculan di gontoran Sentul hingga Gubug Setowek. Namun setelah Sumur Lokok Kapuk ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, maka sumur ini tidak lagi mengeluarkan air seperti sedia kala atau sebesar sebagaimana keadaannya semula.
Sebagaimana diceritakan bahwa diameter sumber mata air di sumur lokok Kapuk yang diyakini ditunggui oleh seekor ikan Tuna Putih ini adalah sebesar batang pohon enau. Tidak bisa dibayangkan, betapa besar air yang keluar dari sumur tersebut. Sehingga ketika sumur ini belum ditutup dulu, aliran airnya membentuk sebuah kali besar. Namun sekarang, bekas aliran kali tersebut sudah menjadi areal persawahan milik Dagul Sentul.
Sumur ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, menggunakan Ijuk, pare bulu satu ikat, sebilah keris, seekor ayam putih mulus dan daun sirih digulung kemudian dimasukkan dalam kepeng bolong dalam sebuah upacara ritual adat, karena dikhawatirkan akan menjadi rebutan penguasa Hindu yang sampai ke wet Sesait kala itu. Seandainya sumur ini tidak ditutup, maka orang-orang Hindu pelarian Majapahit dari Jawa abad 16 silam, akan bermukim dan menetap di lokasi sekitar sumur itu.
Kekhawatiran para sesepuh Sesait kala itu, patut diacungi jempol. Karena berhasil menutup sumur yang menjadi tempat pemandian para Datu yang memerintah di wet Sesait kala itu. Sehingga dengan ditutupnya sumur tersebut, penguasa Hindu yang datang ke Sesait yang merupakan pelarian dari Majapahit karena terdesak dengan masuknya pengaruh Islam masa itu, maka tidak menemukan sumur yang merupakan tempat pemandian para ‘Datu Sesait’ yang berkuasa secara turun-binurun.
Kedelapan, Situs Makam Datu Sentul yang bernama ’Sinom’. Makam ini tidak jauh dari jalan raya Sentul-Cempaka dan terletak dipinggir telabah, sekitar 10 meter sebelah timur rumah Masdan (43) di Sentul Desa Pendua Kecamatan Kayangan Lombok Utara.
Keberadaan Makam ini, yang oleh masyarakat setempat diyakini memilki Karomah tersendiri. Misalnya saja, menurut salah seorang tokoh masyarakat Sentul yang tidak ingin dipublikasikan namanya mengatakan, ketika ada anggota masyarakat yang secara kebetulan duduk di atas makam Datu ini, maka seketika buah pelirnya terasa membesar. Padahal kenyataannya tidak demikian. Hanya perasaannya saja yang merasakan buah pelirnya membesar.
Menurut sejarah, ketika Datu Sinom ini memerintah kerajaan Sentul ratusan tahun silam, diceritakan bahwa pada masa jayanya, Datu Sinom adalah satu – satunya Raja yang tidak memiliki musuh dengan raja-raja yang berkuasa dilingkar utara gunung Rinjani kala itu. Termasuk dengan Raja Sesait. Karena antara Raja Sentul dengan Raja Sesait berbesan.
Wilayah kerajaan Sentul diyakini adalah hanya sebatas gontoran Sentul yang sekarang hingga Gubug Setowek. Kerajaan ini memiliki Kaula Bala sejumlah 144 KK. Itulah sebabnya, hingga sekarang, jumlah penduduk yang mendiami daerah Sentul yang menjadi sebuah Dusun saat ini harus berjumlah 144 KK. Tidak boleh lebih dari itu. Kalau lebih, menurut Bukren, harus pindah tempat tinggal diluar dari wet Sentul.
Peninggalan Datu Sinom diantaranya adalah Sumur Lokok Buyut. Sumur ini adalah tempat pemandian Datu Sinom beserta keluarganya. Namun keberadaan keluarga maupun sampai kapan memerintah, tidak banyak diketahui. Hanya, Datu sinom ini memiliki menantu yang bernama Merkani. Merkani inilah yang menurunkan nenek moyang Bukren Klau di Sesait.Dan salah satu peninggalannya yang sangat terkenal hingga kini masih dilestarikan adalah ’Tembang Sinom’.
Kesembilan, Situs telapak kaki Datu Keling. Menrut keterangan tokoh Adat KLU, Djekat S.Sos. yang juga anggota DPRD KLU, bahwa bekas telapak kaki ini erat kaitannya dengan cerita rakyat atau dongeng masyarakat Sesait, yaitu kisah perjalanan Teruna Keling (Datu Keling). Konon ceritanya Datu Keling pernah berwasiat kepada Kaula Balanya (Rakyat) jika suatu saat dia akan menghilang maka dia akan meninggalkan bekas telapak kakinya. Sangat besar kemungkinan, jika bekas telapak kaki ini adalah jejak Datu Keling seperti yang diwasiatkan.
Hal ini juga, dibenarkan oleh Juru Tulis Pembekel Adat Wet Sesait,Masidep. menjelaskan bahwa kisah perjalanan Datu Keling diabadikan dalam cerita Cupak Gurantang. Konon ceritanya, Teruna Kling memiliki dua orang putra. Putra pertamanya bernama Cupak yang berkarakter rakus dan sombong sedangkan putra keduanya bernama Gurantang adalah sosok yang lembut, baik hati, jujur dan patuh kepada orang tua. Sehingga kisah cupak gurantang diabadikan dalam bentuk drama oleh masyarakat.
Disamping keberadaan situs telapak kaki yang menempel ditebing bebatuan sungai cempogok Kayangan tersebut, bukti yang lain memperkuat dugaan bahwa, memang benar bekas telapak kaki Datu Keling yang diyakini pernah berkuasa disekitar lereng gunung Rinjani pada masa pra aksara, juga tidak jauh dari situs telapak kali ini,sekitar dua ratus meter kea rah selatan, ditemukan pula situs Jukung (sampan/rakit), Telapak Kaki Kuda dan situs dudukan serta situs aliran air seni dari Datu Keling yang menempel disekitar bebatuan kelat lante Empak Mayong Kayangan.
Tidak hanya itu saja, sebagai pendukung keberadaan situs telapak kaki ini, sekitar 500 meter kearah barat daya situs tersebut, ditemukan pula situs Sumur Jembung dan situs Batu Dendeng Bertutup. Situs-situs yang ditemukan ini pula, yang oleh masyarakat adat wet Sesait diyakini sebagai peninggalan dari Datu Keling yang pernah ada dan jaya dimasanya.(Eko).
Langganan:
Postingan (Atom)